PANCASILA BUKAN DOGMA DAN JANGAN DIPAHAMI SECARA KAKU

PANCASILA BUKAN DOGMA DAN JANGAN DIPAHAMI SECARA KAKU

Presiden Soeharto menegaskan, dengan banyaknya masalah yang dihadapi dari waktu ke waktu, kita tidak boleh kehilangan perspektif pembangunan jangka panjang. Dalam perspektif jangka panjang itu kita telah mencapai kemajuan-kemajuan yang sangat mendasar.

“Kemajuan-kemajuan yang sangat mendasar itulah yang kita jadikan kekuatan untuk maju terus di masa-masa mendatang, membuat sejarah baru bangsa kita dengan melaksanakan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila”, kata Presiden dihadapan peserta Kursus Reguler Angkatan ke­XVIII Lemhannas di Istana Merdeka Kamis kemarin.

Kepada 59 lulusan Lemhannas yang terdiri dari pejabat sipil dan militer senior terpilih itu, Presiden mengimbau agar memusatkan perhatiannya pada wawasan-wawasan yang luas dan menjangkau jauh ke depan.

Menurut Presiden perjalanan bangsa kita tidak lain adalah perjalanan sejarah suatu bangsa yang mengamalkan Pancasila dalam pembangunan nasionalnya dalam arti luas.

“Jika Pancasila merupakan pandangan hidup khas Indonesia maka sama sekali hal itu tidak berarti bahwa Pancasila merupakan dasar negara dan pandangan hidup yang sempit”, kata Presiden Soeharto.

Kepala Negara menegaskan, Pancasila bukan dogma, karena itu Pancasila tidak boleh kita fahami secara kaku dogmatis. Pancasila yang singkat padat itu harus selalu kita hubungkan dengan derap kehidupan bangsa Indonesia yang dinamis.

“karena itulah sering saya ingatkan agar kita memahami Pancasila secara kreatif’, Presiden menegaskan.

Manajemen Nasional

Kepada Presiden diserahkan empat jilid buku hasil seminar Kursus Reguler Lemhannas ke-XVIII mengenai penerapan sistim manajemen nasional dalam rangka pemantapan kesiapan tahap tinggal landas nanti menuju masyarakat yang kita cita-citakan, yaitu masyarakat Pancasila.

Penyerahan hasil seminar itu disampaikan oleh Gubernur Lemhannas Mayjen TNI Soebyakto sebagai hasil pemikiran 59 lulusan Lemhannas yang akan di wisuda hari Sabtu besok.

Dalam Kursus yang diikuti 59 peserta yaitu 28 dari ABRI masing-masing 13 perwira TNI-AD, 6 perwira TNI-AL, 5 perwira TNI-AU, 4 perwira Polri dan 31 pejabat sipil termasuk wartawan Djok Mentaya.

Pemimpin Umum Harian Banjarmasin Post, ikut memberikan ceramah sejumlah Menteri, Pangab/Pangkopkamtib serta para Kepala Staf Angkatan dan Kapolri. (RA)

 

 

Jakarta, Pelita

Sumber : PELITA (06/12/1985)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VIII (1985-1986), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 85-86.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.