PANCA KARSA UNTUK AMALKAN PANCASILA

PRESIDEN PD MUKER KWARNAS GERAKAN PRAMUKA :

PANCA KARSA UNTUK AMALKAN PANCASILA [1]

 

Jakarta, Sinar Harapan

Presiden Soeharto, Senin pagi, memperkenalkan Pedoman Penghayatan Pancasila dengan nama “Prasetia Panca Karsa”, sebagai suatu janji pada diri sendiri untuk mengorbankan kepentingan pribadi guna memenuhi kewajiban sebagai mahluk sosial, yang didorong oleh keinginan untuk menghayati dan mengamalkan Pancasila.

Kepala Negara mengemukakan hal itu didepan peserta2 Musyawarah Kerja Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dengan Kwartir Daerah sebelum Kepala Negara secara resmi membukanya dengan memukul kentongan di Istana Negara.

Kepala Negara mengatakan ia sebagai manusia Pancasila tidak memaksakan pandangannya mengenai Pancasila kepada bangsa Indonesia. “Yang saya inginkan adalah”, demikian Kepala Negara, ”agar pandangan2 yang saya kemukakan itu, yang merupakan sumbangan pikiran mendapat perhatian masyarakat dan dunia ilmu, pengetahuan kita, sebagai bahan pedoman penghayatan Pancasila yang seperti saya katakan tadi perlu dikukuhkan oleh MPR setelah kita semua sepakat bulat”

Panca Karsa

Menghayati dan mengamalkan sila-sila dari Pancasila oleh karsa pribadi itu dinamakan oleh Kepala Negara sebagai “Panca Karsa”, meliputi:

  1. Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan menghargai orang lain yang berlainan agama/kepercayaannya;
  2. Mencintai sesama manusia dengan selalu ingat kepada orang lain, tidak se-wenang2 dan “tepa selira”;
  3. Cinta pada TanahAir, menempatkan kepentingan negara dan bangsa diatas kepentingan pribadi;
  4. Demokratis dan patuh pada putusan rakyat yang syah;
  5. Suka menolong; menggunakan apa yang dimiliki untuk menolong orang lain, sehingga dapat meningkatkan kemampuan orang lain itu.

Kepala Negara pada bagian lain pidatonya mengatakan bahwa masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila-lah yang harus terwujud lebih dulu dan barn dalam masyarakat yang demikian itu akan lahir manusia2 Pancasila, adalah pendapat yang sungguh2 keliru.

Apabila kita harus menunggu terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan sesudah itu baru membina manusia2 Pancasila, “maka saya khawatir, manusia2 Pancasila tadi tidak pernah akan lahir, malahan mungkin lahir manusia2 yang lain”.

Sekaligus

Pembinaan dan tumbuhnya manusia2 Pancasila harus dilakukan sekaligus dalam melaksanakan pembangunan menuju terwujudnya masyarakat berdasarkan Pancasila.

Lagipula, demikian Kepala Negara, oleh manusia2 Pancasila itulahjalannya pembangunan akan dapat diluruskan mungkin perlu dikoreksi, agar arah dan tujuannya tidak menyimpang dari Pancasila itu sendiri.

Kepala Negara selanjutnya mengatakan, kesadaran memiliki Pancasila belumlah cukup. Kita masih harus memahami dan menghayati apa yang sebenarnya Pancasila itu serta berusaha mengetrapkannya dalam kehidupan se-hari2.

Pendeknya, Pancasila harus terasa dan mempunyai arti dalam segala segi kehidupan kita masing2 dan bersama2.

Dalam rangka ini Kepala Negara mengungkapkan bahwa ia berulang kali mengajak masyarakat untuk bersama-sama memikirkan cara2 yang mudah dimengerti mengenai penghayatan dan penjabaran Pancasila serta secara khusus meminta perguruan2 tinggi memikirkan hal ini, yang kemudian dikoordinasikan oleh Dewan Pertahanan Keamanan Nasional.

Waktunya Tepat

Kepala Negara mengatakan pula tahun2 sekarang ini dianggapnya tepat untuk memikirkan penjabaran Pancasila tsb. Sekarang kita sedang berada di-tengah2 pelaksanaan Repelita II. Pembangunan yang kita kerjakan telah mulai tampak hasil2nya.

Dalam pada itu kita sadar, bahwa apa yang kita kerjakan sekarang dan juga apa yang tidak kita kerjakan, akan mempunyai pengaruh yang besar pada arah dan wujud masyarakat Indonesia dalam dasawarsa2 yad.

Presiden Soeharto mengingatkan pula bahwa perbedaan pengertian dan tafsir mengenai Pancasila dapat menimbulkan perselisihan di antara kita. Perselisihan itu dapat berlarut2 yang dapat mengakibatkan terganggunya stabilitas nasional.

“Apabila kita bersepakat bulat mengenai pedoman menghayati dan menjabarkan Pancasila itu nanti, maka sangat tepat apabila kebulatan tadi kita kukuhkan bersama menjadi Ketetapan MPR. Syukur kalau mungkin telah dapat dikukuhkan oleh sidang MPR yad.”   (DTS)

Sumber:   SINAR HARAPAN (12/04/1976)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 247-248.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.