PALING LAMBAT PADA PELITA VII KEMISKINAN DIUPAYAKAN HAPUS[1]

PALING LAMBAT PADA PELITA VII KEMISKINAN DIUPAYAKAN HAPUS[1]

 

Samarinda, Antara

Presiden Soeharto mengatakan, pengentasan masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan akan terus diupayakan, sehingga pada Pelita VI atau paling lambat Pelita VII tidak ada lagi masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan.

“Jumlah masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan saat ini tinggal 25,9 juta orang. Jumlah tersebut dari tahun ke tahun pada pelaksanaan pembangunan nasional diharapkan terus berkurang.” kata Presiden pada temu wicara kelompok LKMD berprestasi, kader pembangunan desa dan pengurus PKK, di Desa Manunggal Jaya Kabupaten Kutai, Sabtu.

Pada temu wicara yang dilaksanakan usai pencanangan bulan Bhakti LKMD nasional tersebut, Presiden mengatakan, Indonesia memiliki 65.000 desa dan 22.000 desa di antaranya adalah desa tertinggal. Untuk itu dengan laju perkembangan pembangunan nasional yang senantiasa diarahkan ke pedesaan, diharapkan desa­desa tertinggal itu akan mampu memacu diri untuk menjadi desa yang lebih maju.

Presiden yang didampingi Menko KesraAzwar Anas, Menparpostel Joop Ave, Menteri Negara Kependudukan/BKKBN Haryono Soeyono dan Mendagri, Yogie. SM pada kesempatan temu wicara tersebut menekankan agar fungsi LKMD terus ditingkatkan dengan mengupayakan peningkatan kualitas SDM.

Atas pertanyaan seorang peserta temu wicara, Ketua LKMD I Desa Bangun Rejo Kabupaten Kutai, Supriyo, Presiden menjelaskan Desa Bangun Rejo yang kini memiliki potensi pertanian lahan tadah hujan hendaknya berperan mampu memacu upaya peningkatan produksi padi.

Kepala Negara menyambut baik usaha LKMD saat ini di desa tersebut yang terus memotivasi petani, sehingga mampu memproduksi padi gogo mencapai 5,5 ton GKG setiap hektarnya.

Usai temu wicara, Presiden dan Ibu Tien Soeharto yang didampingi Gubernur HMArdans meninjau sejumlah stand pameran pembangunan se-Kaltim. Pada stand PKK Propinsi Kaltim, Ibu Negara mencanangkan penggunaan alat pengukur Lingkaran LenganAtas (Lila), yang ditandai dengan pengukuran Lila pada dua ibu pasangan usia subur, serta penggunaan alat pengukur kadar iodisasi garam.

Lila adalah peralatan untuk mengukur kadar gizi pada ibu-ibu pasangan usia subur, yang merupakan peralatan sederhana yang bisa dijangkau oleh semua lapisan masyarakat.  Di  tempat  pameran  yang  sama,  Presiden   Soeharto  melakukan pemanggilan telepon informasi NO.163 yang berisi informasi mengenai penyakit HIVI AIDS, serta cara-cara penularan penyakit yang belum ada obatnya.

Mendagri

Menteri Dalam Negeri Moh. Yogie SM mengatakan, peranan Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (L.KMD) dalam pembangunan desa dan kelurahan dewasa ini tidak lagi hanya sebagai pelengkap, tetapi telah menjadi soko guru pembangunan desa. Keberhasilan dimaksud, berupa makin tingginya ketahanan masyarakat dalam menunjang pelaksanaan pemerintahan desa dan kelurahan.

Makin tingginya kualitas ketahanan masyarakat dalam menunjang pembangunan di desa, menurut Yogie, sangat erat kaitannya dengan makna penyelenggaraan Bulan Bakti LKMD 1995, yang bertepatan dengan usia 50 tahun kemerdekaan Indonesia. Menyinggung mengenai dipilihnya Desa Manunggal Jaya sebagai tempat pencanangan Bulan Bakti LKMD 1995, menenurut Mendagri, itu didasarkan pada besarnya potensi membangun desa tersebut.

Gubernur Kaltim, HMArdans, dalam laporannya mengatakan, desa Manunggal Jaya yang LKMD-nya masuk kategori III, merupakan desa eks transmigrasi yang sudah berstatus swasembada dan mencatat berbagai prestasi yang menggembirakan. Di Kalimantan Timur saat ini masih terdapat 562 desa tertinggal, dan semuanya telah menerima dana Inpres Desa Tertinggal masing-masing Rp.20 juta, yang disalurkan tahun  1994/1995. Pencanangan Bulan Bakti LKMD 1995 dan kampanye keluarga sadar HIV AIDS itu ditandai dengan pemukulan kentongan oleh Presiden Soeharto.

Sumber : KOMPAS (26/02/1995)

____________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVII (1995), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 709-710.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.