PAKAR: KEBAKARAN HUTAN MUSNAHKAN PLASMA NUTFAH

PAKAR: KEBAKARAN HUTAN MUSNAHKAN PLASMA NUTFAH[1]

 

 

Bandung, Antara

Kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera di samping merugikan bagi kesehatan dan perekonomian, juga unsur-unsur keanekaragaman hayati-termasuk di dalamnya plasma nutfah/keanekaragaman genetik flora dan fauna-karena punah dimangsa api, kata dua pakar pemuliaan tanaman.

“Kerugian jelas besar, bahkan tak akan ternilai, sementara pencatatan kita dan pemanfaatannya terhadap keanekaragaman hayati itu masih sedikit ketimbang potensinya,” kata Guru Besar Pemuliaan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Prof. Dr.  Achmad Baihaki MSc, kepada ANTARA di Bandung, Jumat.

Plasma nutfah merupakan bahan hewan atau tumbuhan yang berguna bagi upaya manusia dalam menciptakan varietas-varietas temak atau tanaman baru, lewat kegiatan pemuliaan (breeder) yang di antaranya menggunakan bioteknologi.

Achmad Baihaki yang juga Ketua Umum Perhimpunan llmu Pemuliaan Indonesia (Peripi) mengatakan, 10 persen dari kekayaan dunia di bidang keanekaragaman tumbuh-tumbuhan berbiji terdapat di wilayah Indonesia termasuk di hutan-hutan di Kalimantan dan di Sumatera.

Ia menyebutkan, sumber-sumber keanekaragaman hayati di Sumatera dan Kalimantan, baru sejumput yang sudah tercatat, begitu pula dalam ihwal pemanfaatannya bagi kemaslahatan umat manusia.

Dengan kebakaran yang luas di kedua pulau tersebut, kata Baihaki, bahkan tak akan pernah terhitung nilai kerugiannya bila disangkutkan pada musnahnya plasma nutfah, mikroorganisme dan tumbuh-tumbuhan kecil.

“Biodiversity” (keanekaragaman hayati) meliputi keanekaragaman ekosistem, keanekaragaman jenis, dan keanekaragaman plasma nutfah/genetik.

Keanekaragaman hayati, telah menjadi perhatian negara-negara di dunia untuk bersama-sama mengupayakan konservasinya.

 

Sumber Alam

Program pelestariannya dilancarkan belakangan tahun ini berdasarkan seruan para pakar dan berbagai lembaga Internasional bahwa sumber-sumber alami itu akan menjadi amat penting sebagai bahan bagi diketemukannya varietas pangan baru, serta bagi dunia pengobatan.

Manfaat keanekaragaman hayati sebagian besar masih merupakan misteri. Akan tetapi, justru karena pengetahuan manusia tentang kegunaannya masih sangat terbatas, maka upaya pelestariannya dikedepankan berdasarkan keyakinan bahwa seiring kemajuan Iptek, sumber-sumber alami itu akan berguna untuk kepentingan kehidupan generasi mendatang.

Dalam kesempatan terpisah, Dr. Subandi MSc (pakar pemulia jagung) kepada ANTARA menyatakan hal serupa.

“Kegunaan keanekaragaman hayati sebagian besar masih merupakan misteri,” kata Subandi, ahli peneliti utama Balai Penelitian Pangan Bogor, yang juga penemu 15 varietas jagung Indonesia.

Kerugian umat manusia akibat terbakarnya hutan di Kalimantan dan Sumatera, tak ternilai, karena selain merusakkan tanah organik, api juga memusnahkan mikroba yang berpotensi mengefisienkan pemupukan tanaman, katanya.

Hutan terbakar di Kalimantan telah merusakkan 71.770 hektar dan di Sumatera 11.562 hektar. Gangguan asapnya telah mencapai negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Filipina.

Presiden Soeharto hari Kamis telah menyatakan, gangguan asap akibat kebakaran hutan di kedua pulau itu sebagai bencana alam nasional dengan peringkat Siaga I, sementara sejumlah negara sahabat, selain Malaysia, telah menyatakan niatnya untuk membantu pemerintah Indonesia menanggulangi bencana tersebut.

(U. BDG-004!B/DN04/RE1)

Sumber: ANTARA (09/10/1997)

_____________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 740-742.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.