PAK HARTO TURUN, BCA BABAK BELUR NASIB BCA SETELAH LENGSERNYA PAK HARTO

PAK HARTO TURUN, BCA BABAK BELUR

NASIB BCA SETELAH LENGSERNYA PAK HARTO[1]

 

Jakarta, Kontan

Kepercayaan terhadap Bank Central Asia (BCA) runtuh setelah diterjang berbagai isu. Soal kepemilikan saham BCA pun disorot. Untuk mengembalikan citra, BCA sibuk mencari mitra bank asing. Sambutannya masih dingin-dingin saja.

Siapa tidak kenal BCA? Bank swasta terbesar ini, yang pada akhir 1997 mempunyai kekayaan Rp.52,5 triliun, namanya sangat segani. Disanalah duduk Sudono Salim alias Liem Sioe Liong, pengusaha terkaya di Asia Tenggara sebagai Presiden komisaris. Disitu pula putra bekas Presiden Soeharto, pengusaha Sigit Haijojudanto dan Siti ‘Tutut’ Hardijanti Rukmana, duduk sebagai komisaris.

Nama-nama besar inilah yang sekarang malah menohok citra BCA. Semenjak Pak Harto menyatakan berhenti sebagai Presiden RI, 21 Mei lalu, BCA seperti ikut dilanda pagebluk. Bagi BCA, berhentinya Pak Harto seolah memuncaki musibah yang datang susul menyusul seperti gelombang yang datang di tengah krisis likuidasi perbankan nasional.

Nasib buruk BCA ini bermula dari rusak dan hangusnya 120 kantor cabang dan 150 ATM milik BCA gara-gara huru-hara menyusul terbunuhnya 4 mahasiswa Universitas Trisakti, pertengahan Mei lalu. Lantaran banyaknya kantor dan ATM yang rusak, nasabah pun antre mengular dikantor-kantor maupun ATM yang masih beroperasi.

Antrean panjang ini lalu menjadi bahan bakar yang sangat ces-pleng menyulut berbagai rumor dan isu. Yang paling seru adalah kabar burung wafatnya Om Liem. Orang lantas juga mengaitkan berhentinya Pak Harto sebagai Presiden dengan masa depan BCA.

Isu lain, yang tak kalah ramai, muncul di sana-sini. Misalnya, saham BCA yang dikuasai keluarga Pak Harto lebih besar ketimbang milik keluarga Liem. Keluarga Liem Sioe Liong juga diisukan akan menjual seluruh sahamnya di BCA. Sungguh, dalam dua pekan terakhir, tak ada satu pun berita yang menguntungkan buat BCA.

Maka antrean yang sudah panjang tadi menjadi semakin panjang lagi seperti bola salju yang terus menggelundung makin lama makin besar. Perusahaan-perusahaan yang tadinya setiap bulan mentransfer gaji karyawannya ke BCA, ikut-ikutan pula menginjak rem.

“Karyawan saya minta gaji dibayar tunai saja, sekalipun merepotkan.” kata seorang direktur sebuah perusahaan sekuritas kelas kakap.

Makin lengkap sudah beban berat yang mesti dipikul BCA. Ibarat orang yang luka parah, BCA terus mengalami pendarahan sementara transfusi darah baru boleh dibilang berhenti.

Sang Taipan sedang sakit mata di Amerika

Dalam keadaaan serba darurat itu, manajemen BCA kelihatan berupaya keras memulihkan citra.

“Bisnis perbankan adalah kepercayaan.” kata Direktur Utama BCA Abdulah Ali.

Ia menegaskan bahwa antrean panjang yang muncul benar-benar karena masalah teknis. Ada sebagian kantor dan ATM BCA yang belum bisa dioperasikan. Kondisi darurat ini juga yang membuat BCA membatasi jumlah penarikan dibawah normal. Penarikan lewat ATM misalnya, jumlah maksimum per hari dikurangi separuh.

“Kalau situasi sudah normal, penarikan uang tunai di ATM BCA akan berlangsung seperti biasa.” Kata Abdullah Ali.

Direksi BCA juga gencar melancarkan bantahan terhadap isu-isu yang menerpa BCA. Stasiun teve Indosiar yang juga milik kelompok Salim boleh dibilang setiap 10 menit sekali menyiarkan bantahan itu.

“Sudono salim masih hidup. Ia akan kembali dalam satu dua pekan mendatang dari Los Angeles, Amerika.” kata Abdullah Ali.

KONTAN juga mengecek soal kesehatan Om Liem ke berbagai sumber di Singapura mendapatkan basil sama. Menurut seorang kerabat dekat Om Liem, sang taipan memang sedang berobat ke Amerika lantaran sakit mata.

Tak kalah tegas adalah pernyataan Gubernur BI Sjahril Sabirin, yang ditayangkan oleh seluruh stasiun televisi.

“BI masih sanggup menyediakan uang tunai bagi bank-bank yang mengalami kesulitan likuiditas karena di-rush.” kata Sjahril.

Masih ada lagi yang lebih penting, Sjahril juga mengingatkan bahwa dana simpanan nasabah tetap mendapat jaminan dari pemerintah.

Toh, keterangan Gubernur Bank Sentral dan Direktur Utama BCA itu tidak bisa meredam suasana. Sampai tuli san ini naik cetak, antrean panjang masih tampak di ATM-ATM serta loket penarikan deposito BCA. Bukan cuma di Jakarta, antrean nasabah BCA juga tampak di cabang-cabangnya, seperti di Medan, Palembang dan Surabaya. Mereka tidak percaya lagi dan ramai-ramai menarik uangnya.

Kecuali BII, semua Bank menjauhi BCA

Langkah nasabah BCA yang berbau panik begini mau tidak mau akhirnya juga merembet ke kalangan perbankan. Para bankir ini bukannya kejam. Mereka cuma punya dalil, kalau rush itu berlangsung terus, BCA lama kelamaan tak bakal tahan. Alhasil,

“Kini bank-bank tidak mau lagi meminjamkan uangnya ke BCA.” kata seorang bankir pemerintah.

Seorang treasurer bank asing ternama juga membenarkan bahwa banknya juga ikut mengambil jurus pengamanan sementara menghindari bertransaksi dengan BCA.

“Bisa saja saya ambil dana dengan bunga 60% lalu dipinjamkan ke BCA dapat bunga 200%. Tapi, dalam keadaan begini lebih baik saya tunggu dulu.” kata sang treasure tadi.

Kabarnya, satu-satunya bank yang masih percaya mengucurkan dananya ke BCA adalah BII, milik konglomerat Eka Tjipta Widjaya. Dana yang dikucurkan BII ini, menurut sebuah sumber, jumlah sudah lebih dari Rp.400 miliar.

Mengatasi sedotan dana besar-besaran begini, kelompok Salim sebenarnya juga tidak tinggal diam. Pekan lalu, mereka kembali menyuntik dana segar Rp.1 triliun. Dengan tambahan ini, menurut Abdullah Ali, modal disetor BCA mencapai 3,5 triliun. Ini peningkatan yang sangat cepat sebab hingga 31 Desember 1997 modal disetor bank ini baru tercatat Rp.1 triliun.

Selain menyuntik dana segar, Salim juga sibuk mencari gandengan partner asing. Mereka menawarkan sebagian saham BCA ke beberapa bank asing. Kalau asing berhasil digaet masuk, tentu citra BCA yang lagi babak belur begini diharapkan bisa membaik dengan cepat.

Sayangnya, upaya ini belum bersambut. Beberapa bank asing masih dingin-dingin saja meskipun BCA sekarang terlihat sangat ‘murah’ kalau dihitung dengan dolar. Seluruh modal disetor BCA tadi nilainya cuma sekitar US$ 350juta, kurang lebih sama dengan harga sebuah gedung super mewah di kawasan Sudirman Jakarta. Katakanlah Salim menuntut harga dua kali lipat, untuk menguasai mayoritas saham BCA (51%) yang punya aset Rp.60 triliun dan 5 juta nasabah, pemodal baru cuma perlu menyuntik duit sekitar US$ 200 juta.

Repotnya, kondisi Indonesia masih gunjang-ganjing begini membuat bankir asing menaruh faktor murah sebagai urusan nomor dua. Yang paling penting adalah soal resiko dan keamanan. Disinilah BCA sekarang sedang berada pada titik lemah. Hubungan historis Salim dengan keluarga Cendana yang dulu sangat menguntungkan, sekarang berubah menjadi beban berat.

Maka tak salah kalau sekarang Salim juga sibuk mempersiapkan restrukturisasi kepemilikan BCA. Saat ini, keluarga Liem Sioe Liong menguasai 69,46% saham BCA. Sedangkan dua orang anak Pak Harto Sigit dan Tutut, menguasai 30%. Sementara itu 0,54% dikuasai oleh beberapa orang.

Mestinya, proses restrukturisasi ini mudah dan bisa berlangsung cepat. Soalnya, “Saham Tutut dan Sigit itu saham kosong, mereka tidak setor duit apa-apa,” kata sumber KONTAN di BCA.

Jadi, kalau memang langkah ini bisa meminta putra-putri Pak Harto itu keluar dari daftar pemegang saham tanpa harus mengeluarkan duit sepeserpun.

Bagi kelompok Salim sendiri, mempertahankan BCA, betapapun sulitnya, tampaknya menjadi sebuah keharusan. BCA adalah kapal induk besar yang selama ini menjadi tonggak kehadiran Salim di dunia bisnis Indonesia. Kalau BCA dibiarkan rontok, besar kemungkinan perusahaan-perusahaan milik Salim yang lain bakal berguguran pula. Dan jangan lupa, kalau itu terjadi, ekonomi Indonesia bakal terperosok ke jurang yang lebih dalam. Entah berapa puluh ribu tenaga kerja yang tiba­ tiba harus menjadi pengangguran.

Sumber : KONTAN (01/06/1998)

___________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 743-746.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.