PAK HARTO TETAP SEHAT DI USIA 76 TAHUN “Selalu lngin Dekat dengan Rakyat Kecil”

PAK HARTO TETAP SEHAT DI USIA 76 TAHUN

“Selalu lngin Dekat dengan Rakyat Kecil”[1]

 

Jakarta, Media Indonesia

Presiden Soeharto Minggu, 8 Juni kemarin, tepat berusia 76 tahun. Namun tidak seperti biasanya kali ini peringatan hari ulang tahun Pak Harto tidak dirayakan dengan selamatan yang dihadiri putra-putri dan para cucu seperti biasanya.

Pak Harto yang lahir di Desa Kemusuk, Yogyakarta 76 tahun lalu ini hingga kini tetap sehat walafiat, dan tetap bersemangat memimpin bangsa. Hari-hari dilaluinya dengan berbagai kesibukan. Mulai dari menerima tamu di Bina Graha, Istana Merdeka, maupun di kediaman Jalan Cendana hingga berkunjung ke berbagai daerah untuk bertemu dengan masyarakat dari dekat, bahkan melakukan lawatan ke luar negeri.

Pak Harto selalu ingin dekat dengan rakyat. Hal ini tercermin dari saat berdialog atau melakukan temu wicara dengan masyarakat mulai dari petani hingga konglomerat. Intinya Pak Harto selalu ingin tahu keadaan yang sebenarnya di lapangan, tidak sekadar mendapat laporan.

Berbagai program yang menyentuh rakyat kecil sehingga bisa meningkatkan taraf hidup mereka selalu dipikirkan oleh Pak Harto. Salah satunya adalah program pengentasan kemiskinan melalui Inpres Desa Tertinggal (IDT) dan koperasi. Melalui program IDT ini, Pak Harto menginginkan rakyat yang masih miskin cepat meningkat kesejahteraannya sehingga cita-cita masyarakat adil dan makmur pun tercapai. Pak Harto menyatakan bahwa kedudukan Ibu Tien tidak tergantikan.

“Saya membekali keluarga saya dengan budi pekerti. Lantas dengan kepandaian. Saya lebih mementingkan hal itu daripada membekali mereka dengan harta benda.”

Biasanya usia 76 tahun umumnya dianggap sebagai usia menikmati pensiun. Tapi di usia ke-76, Pak Harto masih terbebani kesibukan luar biasa sebagai negarawan, tanpa tampak kelihatan lelah ataupun jenuh.

Kendati demikian, media massa asing sempat menyoroti kondisi kesehatan Pak Harto dengan nada negatif. Pemberitaan itu sempat mengguncang harga saham di bursa saham dan pasar uang di Jakarta.

Pak Harto dalam kehidupan sehari-hari selalu mencerminkan kesederhanaan dengan selalu berpatokan pada ajaran tiga aja yaitu “Ojo kagetan”, “Ojo gumunan”, “Ojo dumeh” (jangan kagetan, jangan heran, dan jangan mentang-mentang). Dalam buku Soeharto Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya disebutkan bahwa ajaran itu memang merupakan pegangan hidup Pak Harto.

“Pada masa itulah saya mengenal ajaran tiga aja yang kelak jadi pegangan hidup saya, yang jadi penegak diri saya dalam menghadapi soal-soal yang bisa mengguncangkan diri saya.”

Di dalam kehidupan keluarga, Pak Harto juga merupakan suami dan bapak yang patut diteladani. Setelah Ibu Tien Soeharto meninggal, 28 Maret 1996. Mereka menyebutkan keadaan kesehatan Pak Harto cukup mengkhawatirkan, bahkan ada yang mengatakan Pak Harto sempat dirawat di rumah sakit.

Namun Pak Harto saat berkesempatan temu wicara di Cilacap, April lalu, dan ditanya oleh seorang peserta dari Wuryantoro dengan tegas menyatakan,

“Saya dalam keadaan sehat dan sampaikan salam saya kepada masyarakat Wuryantoro, semoga keadaan mereka juga dalam keadaan sehat walafiat.”

Pak Harto dikenal dengan sikapnya yang tenang di saat-saat genting. Tapi justru dengan sikap tenang itu banyak masalah berat diselesaikan dengan baik. Misalnya, ketika bangsa ini terguncang dengan pemberontakan G-30-S/PKI, Pak Harto yang dapat meredam dengan langkah-langkah strategisnya.

Wajar jika kemudian Bung Karno memberikan Surat Perintah 11 Maret, kemudian MPRS, memilihnya menjadi Presiden dan kemudian berturut-turut MPR hasil Pemilu 1971, 1977, 1982, 1987, dan 1992 mempercayainya kembali sebagai Presiden RI. Dan mudah-mudahan MPR hasil Pemilu 1997 ini tetap menaruh kepercayaan kepada Pak Harto dan Pak Harto bersedia terus memimpin bangsa ini.

Selamat Ulang Tahun. Semoga Allah mengaruniai usia panjang serta memberikan kekuatan lahir dan batin.

Sumber : MEDIA INDONESIA (09/06/1997)

_____________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 711-712.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.