PAK HARTO TABUR BUNGA DI PUSARA IBU TIEN

PAK HARTO TABUR BUNGA DI PUSARA IBU TIEN[1]

 

 

Karanganyar, Republika

Hujan deras mengguyur puncak Astana Giribangun. Guyuran hujan mendadak reda beberapa menit, sebelum rombongan Pak Harto bersama keluarga tiba, kemarin (16/4). Mereka hendak menunaikan ziarah ke makam Ny. Hajjah Fatimah Siti Hartinah Soeharto di Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah.

Guyuran hujan membuat udara sejuk. Kesejukan cuaca sekitar Gunung Bangun, sehari kemarin, menambah suasana khusuk keluarga Pak Harto menunaikan ziarah kubur dalam acara peringatan setahun (mendhak sepisan) meninggalnya almarhumah.

Rombongan meninggalkan Dalem Kalitan Solo, pukul 14.45 WIB. Pak Harto berada dalam satu mobil biru tua B-2618-SW, bersama putri sulung Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut). Beberapa mobil warna hijau toska, mengangkut putra-putri, menantu dan beberapa cucu.

Pukul 15.15 WIB rombongan tiba di lokasi Pak Harto disambut Gubernur Jateng Suwardi dan Bupati Karanganyar Soedarmaji SH. Di sana sudah ada Pangab Jenderal TNI Feisal Tanjung beserta semua kepala staf. Menpen Harmoko, Menhub Haryanto Dhanutirto, Menpera Akbar Tanjung, Mensesneg Moerdiono, Menkop/PPK Soebiakto Tjakrawerdaya, Meninves Sanyoto Sastrowardoyo.

Beberapa pengusaha terkemuka juga hadir, seperti, Liem Sioe Liong, Prajogo Pangestu, Ciputra, Probosutedjo, Sudwikatmono, Sukamdani S Gitosardjono. Mereka hadir beberapa saat sebelum rombongan Pak Harto hadir di lokasi ziarah.

Begitu tiba, Pak Harto langsung menyalami penjaga makam H Sukirno BA. Kemudian, diadakan tahlil bersama di Bangsal Argosari. Acara tahlil berlangsung sederhana, tapi khidmat. Hanya berjalan beberapa menit, lalu ditutup doa oleh petugas dari Depag setempat.

Usai tahlil diadakan upacara tabur bunga. Pak Harto mengawali acara nyekar di pusara almarhumah. Kemudian diikuti putra-putri, menantu dan cucu. Mereka khusuk memanjatkan doa, sebelum menabur bunga.

“Suasana betul-betul hening dan khidmat,” kata KRMTH Begug Purnomosidi, kerabat dekat almarhumah kepada wartawan.

Setelah nyekar rombongan menuju ke Astana Palereman. Lokasi tidak jauh dari makam almarhumah. Disini, Pak Harto bersama keluarga istirahat sejenak, kemudian, menunaikan salat Ashar. Lalu istirahat hingga salat Maghrib. Pukul 18.15 WIB mereka kembali dan istirahat semalam di Ndalem Kalitan.

Dalam peristiwa kemarin, juga hadir calon istri Hutomo Mandala Putra (Tommy) Ray Ardhia Prameswari Rigita Cahyani (Tata). Sebelum ke Solo, di kediaman Jl. Cendana, Jakarta, Presiden Soeharto menandatangani replika perangko emas murni 23 karat seri lbu Tien Soehaito. Berbarengan dengan setahun wafatnya lbu Tien, PT Pos Indonesia meluncurkan seri perangko tersebut.

Perangko emas murni 23 karat hasil kerja sama Deparpostel dan PT Pos dengan sebuah perusahaan dari Malaysia itu. Menparpostel Joop Ave mengatakan seri perangko ini diterbitkan dalam jumlah terbatas.

“Dengah harga Rp 268 ribu per kepingnya, perangko tersebut hanya dicetak 30 ribu keping,” katanya.

Jumlah tersebut tentu saja sangat berbeda dengan jumlah keping perangko dengan wajah almarhumah Ibu Tien Soeharto yang dikeluarkan tahun lalu yakni sebanyak dua juta keping.

Karena jumlahnya terbatas, maka Joop Ave memperkirakan perangko tersebut akan menjadi sasaran para kolektor dan filatelis.

“Karena itu saya ingin sampaikan bahwa pesanan untuk perangko ini mohon secepatnya diajukan kepada PT Pos. Dalam satu hari saja sudah ratusan pesanan yang masuk,” paparnya.

eds/dam

Sumber: REPUBLIKA (17/04/1997)

___________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 691-693.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.