PAK HARTO SUMBANGKAN SEBAGIAN GAJINYA UTK BANGUN KEMBALI KRATON

PAK HARTO SUMBANGKAN SEBAGIAN GAJINYA UTK BANGUN KEMBALI KRATON

Suatu panitia swasta untuk membangun kembali bagian Kraton Solo yang rusak terbakar Kamis malam pekan lalu, dengan menggunakan dana sumbangan dari masyarakat, Selasa kemarin terbentuk. Presiden Soeharto selaku pribadi, memanggil beberapa pejabat dan tokoh masyarakat ke Bina Graha untuk pembentukan panitia tersebut serta membahas langkah-langkah yang akan diambil.

Soerono (Menko Polkam) yang terpilih sebagai ketua panitia menjelaskan kepada wartawan bahwa Pak Harto memanggil beberapa pejabat dan tokoh masyarakat yang dinilai mencintai kebudayaan Indonesia, khususnya Jawa itu, juga sebagai pribadi.

Mereka selain Soerono, masing­masing adalah Sudjarwo (Menteri Kehutanan), Hartarto (Menteri Perindustrian), Soebroto (Menteri Pertambangan dan Energi), Sujono Sosrodarsono (Menteri PU), Harmoko (Menteri Penerangan), LB. Moerdani (Pangab), Sudjono Humardani (Irjenbang), Sudwikatmono (Presdir Indo Cement), T.Ariwibowo (Dirut Krakatau Steel), Purnomosidi, Arjodarmoko, dan Mardjono. Pak Harto menjadi Pelindung.

Disamping itu diangkat dua Penasehat, seorang dari Kraton Solo dan seorang lagi dari luar masing-masing GPH. Djatikusumo dan ibu Tien Soeharto.

Dana

Panitia tersebut selain mendapat tugas membangun kembali Kraton Solo yang rusak juga mengupayakan pengadaan dana dengan mengumpulkan sumbangan dari masyarakat.

Sebagai permulaan, Pak Harto akan menyumbangkan separuh gajinya selama 5 bulan yang diperkirakan sekitar Rp 10 juta.

“Tapi keputusan ini akan dirundingkan dengan Ibu Tien terlebih dahulu, karena ini merupakan haknya,” kata Surono mengutip ucapan Pak Harto.

Harmoko menambahkan, panitia juga menghimbau media masa untuk memberi kesempatan kepada masyarakat menyampaikan sumbangannya melalui media massa dengan misalnya membuka “dompet”.

Bukan Feodalisme

Soerono mengatakan, pembangunan kembali Kraton Solo bukan untuk mengembalikan feodalisme atau mendirikan kembali pemerintah yang feodal. Namun, usaha ini untuk melestarikan kebudayaan yang kini telah menjadi milik nasional.

Harmoko mengemukakan, Kraton dianggap sebagai pusat pengembangan kebudayaan yang di dalamnya mengandung nilai yang sangat tinggi.

Pembangunan Kraton Solo tidak dilakukan oleh pemerintah karena menurut Soerono, pemerintah masih mempunyai tugas membangun bangsa dan negara Indonesia agar dapat tinggal landas pada Pelita VI.

Di samping itu kata Soerono, jika Pemerintah turun tangan membangun kembali Kraton Solo akan timbul pro dan kontra dalam masyarakat.

Pak Harto dalam hal ini juga memberi petunjuk agar pembangunan Kraton itu harus disemangati oleh jiwa kegotong-royongan.

“Dengan semangat gotong-royong itulah kita mencintai seni budaya”, kata Pak Harto seperti dikutip Harmoko.

Berapa besar dana yang diperlukan bagi pembangunan Kraton itu, Soerono mengatakan, panitia baru akan menghitungnya.

“Namun tidak dapat diketahui pasti berapa besar kerugian yang diderita karena benda seni yang musnah tak ternilai harganya” Soerono menyebutkan contoh tingginya nilai dari benda yang terbakar seperti tiang yang berukiran halus terbuat dari kayu jati tua dan disepuh emas.

Lain Dari Aslinya

Bangunan baru kraton Solo nanti menurut Soerono akan lain dari bangunan aslinya semula. Misalnya, kerangka bangunan yang dahulu terbuat dari kayu jati, nantinya akan terbuat dari baja dan beton.

Ukiran-ukiran tetap akan menjadi kelengkapan, namun menurut Soerono, pengukirnya harus dicari dahulu karena ukiran Kraton Solo adalah khas Solo berbeda dengan Jepara.

Sebagai tahap pertama akan dibangun Sasono Sewoko yang merupakan bangunan tempat upacara. Selanjutnya baru dibangun kelengkapan bangunan Kraton Solo yang telah musnah, sesuai dengan kemampuan yang ada.

Pembangunan kraton itu menurut Soeroso akan memanfaatkan buku-buku diri perpustakaan yang luput dari kobaran api. (RA)

 

 

Jakarta, Suara Karya

Sumber : SUARA KARYA (08/02/1985)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VIII (1985-1986), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 23-25.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.