PAK HARTO SEMPAT BERCANDA DENGAN BELO

PAK HARTO SEMPAT BERCANDA DENGAN BELO[1]

 

Jakarta, Bisnis Indonesia

Presiden Soeharto dan Uskup Carlos Fillipe Ximenes Belo kemarin mendapat perhatian besar puluhan wartawan asing di Dilli, Timor Timur. Saat berjabat tangan, wartawan foto berebut mengabadikan keduanya.

Namun di helikopter ketika Pak Harto dan Uskup Belo meninjau Patung Kristus Raja wartawan tak berhasil mengabadikan peristiwa itu.

“Wartawan tidak sempat motret.” komentar Mensesneg, Gubernur Timtim Abilio Jose Osono Soares dan Uskup Belo berada dalam helikopter TNI-AU saat meninjau Patung Kristus Raja di Tanjung Faucama.

Kunjungan Pak Harto ke Timtim ini mendapat perhatian luas pers asing. Sebanyak 46 wartawan, 17 di antaranya wartawan asing meliput peristiwa ini. Mereka antara lain dari CNN, Reuters, AP, AAP, NHK, ABC dan AFP. Bahkan, ada tiga wartawan masuk ke Timtim sebagai turis asing. Semula mereka mengaku dari AS, namun setelah dimintai kartu identitasnya ternyata dari Norwegia.

Perhatian pers asing ini, menurut Antara antara lain berkaitan dengan terpilihnya Belo sebagai penerima Hadiah Nobel Perdamaian 1996 bersama Ramos Horta.

Apakah dalam penerbangan selama 10 menit, soal Hadiah Nobel ini disinggung? Menurut Belo, Presiden tak menyinggung sedikitpun masalah Hadiah Nobel. Presiden justru menanyakan perkembangan kehidupan umat beragama di Timtim khususnya umat Katholik.

“Beliau (Presiden) bertanya berapa jumlah gereja dan umat Katolik di sini.” kata Belo.

Masih menurut Uskup Belo di helikopter Presiden bahkan sempat bercanda ketika melihat bumi Timtim yang tampak tandus dari udara. Untuk menjadikan Timtim hijau, cerita Belo, Presiden mengatakan,

“ya dicat saja.”

Menurut catatan Antara, dua kali helikopter yang ditumpangi Presiden dan Uskup Belo mengelilingi Patung Kristus Raja untuk kemudian menyisir dari atas sepanjang pantai Dili, melalui kediaman Belo di kawasan Lecidere, depan kantor Gubernur dan dermaga pelabuhan Dili. Selanjutnya rombongan kembali ke Bandara Comoro.

Selama tiga jam di Timtim, tiga kali Pak Harto berjabat tangan dengan Belo. Pertama, saat Presiden usai menandatangani prasasti. Kedua, setelah melihat visualisasi proyek-proyek yang diresmikan. Dan, ketiga sebelum Pak Harto bertolak ke Jakarta.

Sumber : BISNIS INDONESIA (16/10/1996)

____________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 208-209.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.