Pak Harto: Sejarah Yang Akan Membuktikan

Pak Harto:  Sejarah Yang Akan Membuktikan[1]

Siti Hediati Hariyadi (Mbak Titiek)[2]

Di masa kecil saya, sebelum Bapak menjadi presiden, kami tinggal di Jalan H. Agus Salim, Jakarta Pusat. Rumah kami persis di depan bundaran. Sebagai Ketua RT, setiap hari Minggu Bapak mengajak kami sekeluarga ikut kerja bakti bersama-sama warga membersihkan lingkungan, baik itu got, taman, maupun pekarangan rumah sehingga kami dan tetangga saling mengenal dengan baik.

Kesahajaan Bersama keluarga
Kesahajaan Bersama keluarga

Biasanya, usai kerja bakti, Bapak membawa kami sekeluarga jalan-jalan ke daerah Kota untuk makan bakmi Pinangsia, bakmi Gang Kelinci, atau bubur ikan. Begitulah cara Bapak meluangkan waktu untuk menghibur kami, keluarganya. Dan itu saya rasakan sebagai suatu kemewahan dan kebahagiaan yang masih saya kenang sampai sekarang.

Setelah Bapak menjadi presiden, kami pindah ke Jalan Cendana. Sejak itu saya tidak pernah lagi merasakan kemewahan pergi jalan-jalan dan makan di restoran bersama Bapak. Bagi Bapak, kepercayaan yang diberikan oleh rakyat kepada beliau sebagai presiden adalah amanah dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Semua tenaga, pikiran, dan waktu yang beliau miliki, sejak itu adalah semata-mata untuk kepentingan bangsanya.

Kami, anak-anak, adalah urusan Ibu…

Mendahulukan Negara dan Bangsa

Saya masih ingat tahun 1985 ketika saya akan diwisuda sebagai sarjana ekonomi dari Universitas Indonesia. Sebagaimana kita ketahui, setiap orang yang diwisuda pasti mengharapkan kehadiran orang-orang yang dicintainya di acara yang penting tersebut, demikian pula dengan saya. Saya belajar bertahun-tahun berusaha menunaikan tugas saya sebagai anak untuk menyelesaikan pendidikan sampai akhirnya mendapatkan gelar sarjana. Semua itu saya lakukan untuk Bapak dan Ibu agar membuat mereka bangga. Tetapi betapa kecewa dan sedihnya saya ketika pada hari wisuda yang telah ditetapkan, hanya Ibu yang bisa hadir karena Bapak harus melaksanakan tugas yang sudah jauh hari diagendakan.

Ketika itu, saya tidak dapat mengerti dan sangat kecewa. Tetapi sekarang, setelah kita bergonta-ganti beberapa presiden, saya baru menyadari bahwa apa yang Bapak lakukan adalah sesuatu yang membuat saya bangga! Karena tanggung jawabnya sebagai kepala negara, beliau selalu akan mendahulukan kepentingan negara dan bangsa di atas kepentingan keluarga. Dan tidak semua kepala negara memiliki komitmen yang sama seperti Bapak.

Butir-Butir Budaya Jawa

Bapak tidak pernah menumpuk dan menunda pekerjaan. Setiap malam ada setumpuk surat yang harus beliau berikan disposisi dan tandatangani. Sebagai seorang presiden, semua surat yang datang ke meja beliau adalah surat penting. Oleh karena itu, beliau sangat teliti dan hati-hati sebelum memberikan disposisi dan tanda tangan.

Bapak membaca surat-surat itu satu persatu dan pagi-pagi surat-surat itu sudah turun lagi ke meja ajudan. Tidak jarang, larut malam Bapak baru tidur. pagi-pagi, beliau sudah bangun dan langsung sholat subuh, kemudian membaca koran, menonton berita dari televisi, baru sarapan. Pukul sembilan pagi Bapak sudah tiba di kantor. Bapak tidak pernah mengeluhkan padatnya jadwal dan banyaknya pekerjaan. Semua itu beliau laksanakan dengan ikhlas karean merup[akan amanah.

Sejak dulu, Bapak rajin mencatat dan mengumpulkan butir-butir budaya Jawa, warisan nenek moyang yang kemudian dibukukan sebagai warisan untuk kami anak cucunya, agar dapat dipakai sebagai pedoman di dalam hidup bermasyarakat.

Bapak orang yang sangat sederhana. Saya pernah bertanya kepada beliau, kenapa setelah Bapak menjadi Presiden, kita tidak tinggal di istana? Lalu beliau mengatakan, “Kalian akan terisolasi dari pergaulan kalau tinggal di istana. Bapak tidak ingin keluarga kita sampai terpisahkan dari masyarakat. Bapak mau kalian hidup sebagai masyarakat biasa”.

20 Mei 1998

Sebelum mengumumkan pengunduran dirinya sebagai presiden, malam itu Bapak memanggil kami seluruh putra-putrinya. Beliau mengatakan, “Karena keadaan sudah semakin kacau dan saya tidak mau terjadi pertumpahan darah diantara sesama rakyat Indonesia, saya sudah memutuskan untuk mengundurkan diri dan berhenti dari jabatan sayaa sebagai presiden. Dan besok akan saya umumkan”.

Kami semua terdiam… lalu bertanya, “Apakah Bapak sudah yakin pada keputusan yang akan Bapak ambil itu?”. Bapak hanya menjawab pendek dan pasti, “Biarlah nanti sejarah yang akan membuktikan apa yang sudah Bapak dan Ibumu lakukan untuk negara dan bangsa ini.”

Ketika Bapak wafat, berjuta-juta rakyat mengiringi kepergian beliau dengan doa-doa yang tulus. Mereka merasakan seperti ada sesuatu yang hilang… Bapak Pembangunan telah berpulang…

Kini, tiga belas tahun reformasi telah berlalu dan begitu banyak orang yang merindukan ketenteraman dan kesejahteraan hidup seperti yang terjadi di bawah kepemimpinan Pak Harto.

Bapak… begitu banyak karya dan sumbangsih yang telah Bapak berikan untuk bangsa dan negara ini.

Saya Bangga menjadi anak Bapak.

***


[1]       Penuturan Siti Hediati Hariyadi (Putri Presiden Soeharto)  sebagaimana dikutip dari Buku “Pak Harto The Untold Stories”, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2011, hal 44-47.

[2]       Siti Hediati Hariyadi lahir di Semarang, 14 April 1959, adalah seorang sarjana ekonomi lulusan Universitas Indonesia yang banyak berkecimpung di bidang yang berkaitan dengan pendidikan formalnya. Ibu dari Didit Hediprasetyo ini kini aktif di bidang sosial melalui Yayasan Supersemar dan Yayasan Purna Bhakti Pertiwi.

1 Comment
  1. mimba says

    Soeharto waelah

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.