PAK HARTO PUTUSKAN SIKAP SOAL POSISI IBU NEGARA

PAK HARTO PUTUSKAN SIKAP SOAL POSISI IBU NEGARA[1]

 

Jakarta, Media Indonesia

Presiden Soeharto memutuskan bahwa posisi Ibu Negara tidak tergantikan oleh siapapun, namun tidak tertutup kemungkinan putri-putri Kepala Negara terlibat dalam acara kenegaraan. Menteri Sekretaris Negara Moerdiono menjelaskan Kepala Negara telah mengambil sikap dan mengambil keputusan seperti lazimnya bila melihat masalah secara lugas.

“Namun Presiden sangat menghargai pandangan-pandangan dari masyarakat mengenai masalah ibu negara ini.” jelas Mensesneg menjawab pertanyaan wartawan di Bina Graha kemarin.

Setelah wafatnya Ibu Tien Soeharto 28 April lalu, muncul berbagai usul dan saran dari masyarakat agar putri Kepala Negara yaitu Ny. Siti Hardiyanti Rukmana duduk sebagai Ibu Negara, menggantikan ibundanya.

Moerdiono mengemukakan bahwa tidak tertutup kemungkinan putri-putri Pak Harto terlibat dalam acara-acara kenegaraan.

“Misalnya bila Kepala Negara melakukan kunjungan ke daerah untuk tugas resmi, maka tidak tertutup kemungkinan salah seorang putrinya akan ikut serta dalam rombongan resmi kepresidenan.” tuturnya.

Namun, menurut Mensesneg, kehadiran putri-putri Kepala Negara ini adalah sebagai putri Presiden. Karena, ungkap Moerdiono, salah satu peraturan yang mengatur keprotokolan Presiden, Wakil Presiden adalah Peraturan Pemerintah No 62/1990.

Salah satu pasalnya menyebutkan bahwa istri yang mendampingi suami sebagai pejabat negara dalam acara-acara kenegaraan mendapat tempat sesuai dengan urutan tata tempat suami.

Selain itu, dalam peraturan pemerintah itu, jelasnya, ditentukan tata cara, upacara di mana para pemimpin negara, para pejabat pemerintahan berdiri, bagaimana para pemimpin negara ini duduk dan sebagainya.

“Tata urutan yang tertinggi dalam sistem pemerintahan kita adalah Presiden, Wapres, Ketua MPR/DPR dan seterusnya.” tambahnya.

Moerdiono mengatakan istilah “Ibu Negara” merupakan kelaziman yang di luar negeri disebut first lady dan dalam bahasa hukumnya adalah istri kepala negara.

Sumber : MEDIA INDONESIA (09/05/1996)

______________________________________________________________________________________
[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 808-809.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.