PAK HARTO, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA GENAP BERUSIA 63 TAHUN

PAK HARTO, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA GENAP BERUSIA 63 TAHUN

 

Seorang Presiden Amerika Serikat pernah mengeluh tentang jabatannya yang disebutnya sebagai “the loneliest job in the world”, pekerjaan yang penuh kesepian karena sejak memasuki kantor di Gedung Putih, ia telah terpisah dari dunia luar.

Presiden Republik Indonesia yang pada tanggal 8 Juni 1984 ini merayakan ulang tahunnya yang ke-63, tentu tidak perlu merasa demikian.

Sejak mendapat kepercayaan rakyat Indonesia melalui Sidang Umum MPRS tahun 1967, sebagai Presiden Republik Indonesia yang kedua, Pak Harto telah memutuskan untuk tetap tinggal di rumah pribadi di tengah-tengah keluarga besarnya.

Sampai saat ini, Pak Harto merasa sangat bahagia dikelilingi putera-puteri dan cucu­cucunya yang berkumpul setiap saat, seperti pada peristiwa-peristiwa penting keluarga, misalnya ulang tahun Ibu Tien atau Pak Harto.

Di tengah-tengah kesibukan tugasnya sebagai Kepala Negara dan pemerintah, Presiden Soeharto ternyata masih meluangkan waktunya untuk membaca dan memperhatikan surat-surat yang dialamatkan kepadanya secara pribadi. lsi surat itu bermacam-macam, juga cara menyampaikannya.

Sampai tanggal 1 Juni 1984 yang lalu, surat-surat yang disampaikan secara pribadi kepada Pak Harto berjumlah lebih kurang 89 buah, 63 surat dari para pelajar, 21 surat dari orang-orang asing dan awam serta lima surat dari guru dan petani.

Surat-surat dari pelajar dan kanak-kanak ini kebanyakan ditulis dengan bahasa yang spontan, kadang-kadang disertai foto anak yang bersangkutan, ditulis di atas kertas berhias bunga-bungaan dan masing-masing anak selain menyebut identitasnya tidak lupa menyebutkan hari bintang kelahirannya.

Pipin Tri Oktaviani Damayanti, pelajar kelas V SD inpres 36, Tanjung karang Lampung, menulis surat dengan huruf tegak lurus kepada “Bapak Presiden Indonesia” menanyakan “bagaimana Bapak dapat meraih sebagai Presiden”.

Pipin ini juga mengajukan permohonan agar dikirim foto yang sudah dibingkai dengan, disertai harapan suratnya “sempat tidak sempat harus dibalas”.

Di samping itu, Pipin masih mengajukan permohonan yang lain, agar diberi hadiah sepeda mini.

Surat Tersebut Dibalas oleh Pak Harto

Sebuah foto Bapak Presiden dan Ibu Tien Soeharto yang ditandatangani sendiri oleh Pak Harto dikirim ke Tanjungkarang, bersama sebuah sepeda mini.

Tanggal 11 Mei 1984, Pipin Tri Oktaviani mengirimkan surat kembali kepada Pak Harto melaporkan bahwa kiriman foto bapak dan ibu beserta sepeda mini sudah diterima.

Anak itu mengirimkan juga fotonya di samping sepeda mini dengan foto Pak Harto berbingkai, di depan rumahnya yang terletak dalam sebuah lorong di kota Tanjungkarang.

Seorang pelajar lain dari SD Yayasan Beribu, jalan Buahbatu Bandung mengirimkan surat kepada Pak Harto, dengan maksud ingin berkenalan dengan Bapak dan Bapak-Bapak Menteri lainnya.

Bersama surat ini, Eko Wardhana juga mengirimkan sajak temannya Arief Permadhi yang digubahnya bersama. Sajak yang berjudul “Surya” tersebut dibacakan di depan Pak Harto pada tanggal 27 April 1984.

Pak Harto lebih senang agar Eko Wardhana dan kawannya membuat sajak yang berisi pembangunan, agar menjadi contoh teman-teman yang lain. Kepada anak ini juga telah dikirimkan foto bertanda-tangan yang dimintanya dan ucapan terima kasih kepada Pak Harto atas kiriman sajaknya.

Ferrawaty Azhar, seorang gadis berusia 18 tahun, siswi SLB Santi Ramal Jalan Fatmawati Jakarta, menceritakan awal mulanya ia menjadi tuna rungu.

Bersama teman-temannya sekolah, Ferrawati ingin bertemu atau menghadap Bapak Presiden baik di kediaman atau di kantor, tetapi mereka “berdebar takut dan gemetar, tidak berani masuk rumah atau kantor Bapak Presiden, karena pengawal yang menjaga seolah-olah bisa marah seperti galak” pikir anak-anak.

Permohonan Ferrawati dan kawan-kawannya ini sedang diproses untuk menunggu kesempatan, sesuai dengan jadwal acara kepresidenan.

Demikian juga dengan seorang pelajar SMP di Jakarta Timur Dwi Sulistia wati yang berkirim surat meminta foto-foto Pak Harto sambil menanyakan, apakah untuk dapat berkunjung ke rumah Pak Harto harus ada persetujuan, bila tidak ada, apakah “Dwi akan di penjara?”. Juga ditanyakan apakah di pintu gerbang rumah Bapak Presiden dijaga oleh penjaga yang membawa senjata?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu adalah pertanyaan yang spontan diajukan oleh anak-anak dengan caranya sendiri. Seorang anak lain memulai suratnya dengan sebutan “Pak Harto Sayang”, seolah-olah berkirim-kirim surat dengan kawannya terdekat.

Anak ini mengisahkan kenang-kenangannya sewaktu masih di Maros, Sulsel di mana untuk pertama kalinya ia melihat dengan jelas “senyum Pak Harto” yang tidak pernah dilupakan sewaktu Presiden dalam perjalanan dari kabupaten Pangkajene Kepulauan.

Anak itu sekarang tinggal di Purbalingga Jawa Tengah. Ia menngajukan beberapa pertanyaan mengenai beberapa hal yang sudah ditanyakan kemana-mana, tetapi tidak mendapatkan jawaban memuaskan.

Ia juga mengeluh karena suratnya kepada Menlu RI tidak mendapat jawaban karenanya sangat mengharapkan jawaban dari Pak Harto.

Surat yang dikirimkan oleh remaja, biasanya mengandung hal-hal yang bertalian dengan masalah lingkungannya, seperti surat seorang pelajar SMA I Negeri Klaten, Tri Wulandari yang mengeluhkan lambatnya pelaksanaan listrik masuk desa di daerahnya.

Pelajar ini manghimbau Pak Harto atau “Wakil Bapak” mengusahakan listrik masuk desa di daerahnya segera dapat dilaksanakan, karena menurut yang didengarnya, listrik itu baru akan menyala tiga tahun yang akan datang. “Padahal menunggu selama tiga tahun itu seperti menunggu orang yang sudah mati saja”.

Pak Harto selalu berusaha meluangkan waktunya untuk memperhatikan surat­surat yang ditujukan secara pribadi kepadanya meskipun jadwal kegiatan tugasnya selalu bertumpuk.

Surat-surat kepada Presiden biasanya diseleksi oleh Sekretiariat Negara Rl kemudian diajukan melalui Ajudan Presiden, sedangkan jawaban-jawaban diberikan melalui Asisten Menteri/Sekretaris Negara Urusan Dokumentasi dan Mass Media.

Berhubung dengan kesibukan jabatannya, tentulah semua surat-surat dan permintaan itu tidak dapat diperhatikan atau dilayani secepatnya, namun pada waktunya jawaban pasti akan dikirimkan. (RA)

 

 

Jakarta, Antara

Sumber : ANTARA (07/06/1984)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VII (1983-1984), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 949-952.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.