Pak Harto Minta Masyarakat Rela Berkorban

Pak Harto Minta Masyarakat Rela Berkorban[1]

 

JUMLAH PENDUDUK INDONESIA

01 Januari 1997 : 199,7 juta

01 Jariuari 1998 : 202,5 juta

Sumber BKKBN

Jakarta, Media

GUNA MEWUJUDKAN, kebahagiaan hidup, dalam menghadapi suasana yang sulit ini, masyarakat hendaknya rela berkorban, karena keputusan dan langkah pemerintah maupun masyarakat sering kali tidak menyenangkan, bahkan menyakitkan, kata Presiden Soeharto.

“Dalam suasana prihatin dan sulit seperti sekarang ini, keputusan dan langkah pemerintah serta masyarakat umumnya memang tidak menyenangkan. Malahan bisa terasa menyakitkan.” tegas Kepala Negara dalam pidato akhir tahun 1997 yang disampaikan Rabu (31/I2) malam.

Tepat memasuki Tahun Baru 1998, pada pukul 00.00 WIB Kamis (1/1) dini hari, Presiden mencanangkan tahun 1998 sebagai Tahun Seni dan Budaya. Kepada seluruh bangsa, Pak Harto mengingatkan, untuk mewujudkan hidup berbahagia diperlukan kesediaan berkorban. Presiden mengatakan dewasa ini bangsa Indonesia sedang mengalami ujian yang sangat berat di bidang moneter dan ekonomi.

“Untuk mengatasi masa sulit itu, pemerintah telah memiliki berbagai program yang mendapat dukungan IMF dan berbagai negara sahabat. Karena itu pemerintah mengajak seluruh lapisan masyarakat pada umumnya dan dunia usaha khususnya untuk memberi dukungan sepenuh-penuhnya kepada program-program itu.” tutur Kepala Negara.

Menurut Pak Harto, yang diperlukan dari seluruh bangsa ini adalah kearifan dan kesadaran bahwa bangsa ini dapat menarik manfaat dari setiap kondisi yang dialaminya.

Dalam kesempatan itu, Kepala Negara juga mengatakan, untuk mengatasi terulangnya gejolak moneter dan ekonomi tersebut, Indonesia telah bekerja sama dengan negara anggota APEC dan ASEAN lainnya, terutama untuk mencari jalan keluar bersama.

Kerja sama itu dimaksudkan untuk mencegah agar guncangan seperti itu dapat dihindari atau dikurangi akibat-akibatnya yang buruk.

“Negara-negara yang ekonominya tergolong kuat juga mengalami guncangan serupa. Ini adalah gejala baru yang muncul dari globalisasi.” kata Presiden.

“Berbagai gejolak itu telah menghasilkan pelajaran yang harus dimanfaatkan, terutama guna melakukan berbagai pembenahan agar kesulitan itu bisa diatasi dengan sebaik­baiknya.”

Dalam pidato akhir tahun itu, Presiden Soeharto juga mengharapkan wakil­-wakil rakyat yang duduk di MPR, dalam Sidang Umum MPR mendatang, dapat mengambil keputusan terbaik, sehingga bangsa Indonesia dapat lebih kukuh memasuki abad ke-21.

Ketika mencanangkan tahun 1998 sebagai Tahun Seni dan Budaya, Presiden menekankan, melalui seni dan budaya ini, seluruh bangsa Indonesia diharapkan akan lebih memperkukuh jati diri bangsa, serta meningkatkan daya tarik bangsa bagi wisatawan mancanegara.

“Melalui seni dan budaya itu, kita perkukuh jati diri kita sebagai bangsa dan sekaligus kita tarik wisatawan mancanegara berdatangan ke Indonesia.” katanya.

Dalam tahun tersebut, Pak Harto mengharapkan agar pariwisata mampu menjadi pilar penyangga dalam perolehan devisa bagi Indonesia, terutama di tengah masa sulit ekonomi karena gejolak moneter seperti sekarang ini. Dalam kesempatan itu, dengan disaksikan Menparpostel Joop Ave dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman Djojonegoro, Presiden menandatangani Sampul Hari Pertama, tanda Pencanangan 1998 sebagai Tahun Seni dan Budaya.

Sumber : MEDIA INDONESIA (02/01/1998)

_________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 835-836.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.