PAK HARTO INGATKAN JASA BESAR DR. RADJIMAN

PAK HARTO INGATKAN JASA BESAR DR. RADJIMAN[1]

 

 

Jakarta, Merdeka

Ketika berulang tahun ke-66 sepuluh tahun yang lalu, Pak Harto berada di tengah keluarga yang masih lengkap. Saat itu, dua diantara orang yang sangat dihormati dan disayangi masih sugeng. Yakni, sang istri, lbu Tien, dan ibu mertua Eyang Soemoharyomo. Pak Harto menggambarkan acara ulang tahun itu sebagai berikut:

Kemudian tiba saatnya seluruh keluarga menahan saya di rumah. Waktu saya menginjak usia 66 tahun, pada tanggal 8 Juni 1987, keluarga saya menyelenggarakan selamatan di Jalan Cendana. Sore hari itu dihidangkan nasi tumpeng lengkap. Istri saya mengatur ini semua.

Eyang Soemoharyomo yang sudah berusia 88 tahun hadir, dan orang tua yang mengenakan kebaya biru tua berbunga putih kecil-kecil dan selendang jumputan yang melingkar di lehernya itu tentu saja menjadi pusat alur semua yang hadir.

Istri saya mengajak semua untuk sama-sama berdoa agar Tuhan memberikan rahmat pada saya. Katanya, mudah-mudahan saya diberi panjang umur, diberi kekuatan lahir dan batin agar selalu dapat melaksanakan tugas-tugas saya dengan sukses. Maka diajaknya semua untuk membaca surat Al-Fatihah. (Dikutip dari buku Otobiografi, “Soeharto; Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya”).

Kemarin, saat Pak Harto berulang tahun ke-76, surat Al-Fatihah itu dibacakan untuk almarhum Ibu Tien yang telah wafat satu tahun yang lalu. Karena masih berada dalam suasana itulah, ulang tahun Pak Harto kali ini tidak diadakan secara khusus seperti 10 tahun yang lalu.

 

Hari Lanjut Usia

Pak Harto justru “mengisi” hari ulang tahunnya kemarin dengan mengajak seluruh warga masyarakat untuk melakukan hal-hal yang memudahkan berbagai urusan para lanjut usia, seperti pengurusan perumahan, pelayanan kesehatan, kartu penduduk seumur hidup serta kemungkinan memberikan keringanan biaya penggunaan alat-alat angkutan umum bagi para lanjut usia yang melakukan perjalanan.

Hal itu disampaikan Pak Harto dalam pidato peringatan Hari Lanjut Usia Nasional 1997 yang disiarkan secara langsung oleh TVRI dan RRI tadi malam. Peringatan ini sebenarnya jatuh 29 Mei 1997 lalu. Namun, mengingat hari itu bertepatan dengan Pemilu, maka peringatannya diundur.

Kepada para lanjut usia, Presiden mengajak mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah.

“Proses penuaan pada diri manusia adalah proses alamiah yang tidak dapat dihindari oleh siapapun. Usia panjang membuat orang makin arif,” tutur Pak Harto.

Kepala Negara mengemukakan, usia suatu generasi itu terbatas. Namun, usia bangsa dan negara tidak ada batasnya.

“Kita semua berharap, Generasi Penerus akan mampu membawa bangsa dan negara ke arah kemajuan yang lebih besar dan kesejahteraan lebih merata,” ujarnya.

Menurut Presiden, generasi lebih muda dapat menimba pengalaman dari segala suka dan duka para lanjut usia dalam perjalanan hidup yang panjang. Sementara generasi Ianjut usia diharapkan dapat mewariskan nilai-nilai kebajikan, pengalaman dan kematangan sikap kepada generasi yang lebih muda, generasi penerus perjuangan bangsa.

Kepala Negara mengingatkan, sudah sepantasnya generasi lebih muda rnenyampaikan penghormatan kepada generasi yang lebih tua. Sebab, rasa hormat seperti itu adalah salah satu ciri budaya bangsa yang wajib dipegang teguh, betapa pun hidup di zaman modem.

“Menghargai para lanjut usia, lebih-lebih orang tua sendiri merupakan perbuatan mulia. Ajaran agama-agama yang hidup dan berkembang di tanah air kita juga sama-sama mengajarkan betapa pentingnya menyantuni para orang tua,” ujar Pak Harto.

Dijelaskan, budaya Indonesia tidak mengajarkan agar orang tua lanjut usia ditempatkan di tempat-tempat penampungan khusus, kecuali dalam keadaan yang amat terpaksa. Memelihara dan menyantuni orang tua adalah pengabdian, bukan saja kepada orang tua melainkan pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

“Karena itu, mengajak orang tua lanjut usia tinggal bersama-sama dengan anak cucu, merupakan kewajiban nomor ll generasi lebih muda, yang akan membawa rasa kebahagiaan tersendiri dalam hidup,” tuturnya.

 

Kearifan

Kepala Negara juga menerangkan penetapan tanggal 29 Mei sebagai Hari Lanjut Usia Nasional berkaitan dengan kelahiran pejuang besar bangsa, Dr. Radjiman Wedyodiningrat.

Dijelaskan, sebagai Ketua Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Dr. Radjiman Wedyodiningrat, berhasil menyiapkan rancangan UUD 1945 yang ditetapkan sebagai UUD oleh para pendiri Negara pada 18 Agustus 1945. Berkat kearifan Dr. Radjiman yang telah berusia Ianjut itulah para pejuang kemerdekaan bangsa kita yang berasal dari berbagai suku, memeluk agama yang berbeda-beda dan memiliki latar belakang budaya yang berlain­-lainan berhasil menetapkan dasar negara Undang-Undang Dasar 45 bagi negara yang kita cintai bersama, ujar Pak Harto.

Ketika memimpin tugas berat sebagai Ketua BPUPKI Dr. Radjiman telah berusia 66 tahun, usia yang sudah cukup lanjut pada zaman itu. Lebih-lebih jika dibandingkan dengan usia rata-rata harapan hidup masyarakat pada saat itu yang hanya mencapai 35 tahun. “Intisari kearifan kenegaraan yang terkandung dalam Pembukaan dan Batang Tubuh UUD itu merupakan suatu karya besar. Sulit bagi kita membayangkan keadaan Republik yang kita cintai ini, jika tidak memiliki Pancasila dan UUD “45,” ujar Kepala Negara.  (FN)

Sumber: MERDEKA (09/06/1997)

________________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 772-774.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.