PAK HARTO DIALOG DENGAN MURID SD: “TERIMA KASIH DOAMU”

PAK HARTO DIALOG DENGAN MURID SD: “TERIMA KASIH DOAMU”[1]

 

 

Jakarta, Merdeka

Presiden Soeharto, kemarin, menceritakan kembali soal kondisi kesehatannya, yang di luar negeri diberitakan dalam kondisi sakit. Kenyataannya, berkat doa yang dipanjatkan seluruh rakyat Indonesia, kesehatannya berada dalam kondisi prima serta sehat walafiat.

“Terima kasih atas doamu , mudah-mudahan Tuhan akan mengabulkan. Karena lebih baik sehat daripada sakit-sakitan walaupun banyak yang mendoakan supaya saya sakit. Di luar negeri kabarnya saya sakit, kenyataannya tidak demikian. Karena apa? karena doa dari rakyat Indonesia termasuk ananda juga,” ujar Pak Harto kepada pelajar kelas V Madrasah Ibtidaiyah (Ml) Kalimantan Barat, Fitrisia yang mendoakan kesehatan Pak Harto saat peringatan Hari Pendidikan Nasional di Istana Negara, Jakarta, Jumat (2/5).

Dalam acara yang dihadiri Wapres dan Ny Tuti Try Sutrisno, sejumlah menteri kabinet pembangunan VI serta Dubes negara sahabat dilaksanakan juga temu wicara diikuti ratusan pelajar Sekolah Dasar, Madrasah Ibtidaiyah (MI) maupun Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Tampil tiga orang pelajar asal DI Aceh, Kalbar dan Sulawesi Tenggara melakukan dialog singkat. Secara spontan, masing-masing menyampaikan doa bagi kesehatan Presiden.

“Harapan saya yang utama, kepada Allah SWT supaya bapak diberikan kesehatan, umur panjang. Sehingga dengan kesehatan prima terus memimpin negara menuju pembangunan yang lebih maju,” cetus pelajar putri madrasah Tsanawiyah Negeri DI Aceh, Eliwardani.

“Terima kasih atas doa dari anak-anak dan bapak sekarang alhamdullilah dalam keadaan sehat, sampaikan juga salam untuk teman-teman kamu untuk terus belajar terus,” kata Kepala Negara yang terlihat segar dalam usia 76 tahun dan baru saja menikahkan putera terakhirnya Hutomo Mandala Putera.

Dalam temu wicara dengan tiga pelajar yang mengaku bercita-cita menjadi dokter, arsitek dan insinyur mesin, Presiden sesekali tersenyum terhadap ulah mereka. Ketika berdialog dengan pelajar asal Sulawesi Tenggara, Siti Maesaroh yang mengaku bercita-cita menjadi dokter bedah agar bisa bersaing dengan dokter-dokter negara lain, Pak Harto berkelakar,

“Nanti, kalau cita-citanya sudah tercapai, jangan pindah ke profesi lainnya. Soalnya, Pak Menteri Agama Tarmizi Taher dulunya juga seorang dokter,” ujar Kepala Negara disambut senyum semua yang hadir.

Demikian juga saat Maesaroh menjawab tidak terdapat kesulitan dalam proses belajar di sekolahnya.

“Ini betul dari hati nuranimu atau dipesan oleh Pak Guru,” ujar Presiden membuat gemuruh semua yang hadir.

 

Universitas Masyarakat

Saat berbicara tanpa teks Presiden juga mengemukakan, semua warga negara Indonesia yang berumur 15 tahun keatas harus menamatkan jenjang pendidikan SMP dan meneruskan ke Sekolah Menengah Umum Atas (SMTA). Namun diingatkan, mereka tidak perlu berkecil hati apabila nanti tidak bisa meneruskan pelajaran sampai kejenjang perguruan tinggi.

Karena, meskipun perguruan tinggi sudah banyak didirikan, tapi dengan sendirinya tidak bisa menampung seluruh pelajar.

“Namun, setidak-tidaknya dengan dasar pengetahuan SMP sudah memiliki modal melanjutkan pendidikan dan pemerintah juga menyediakan kemungkinan pendidikan SMU (Sekolah Menengah Umum) terbuka maupun kursus-kursus,” lanjutnya.

Dijelaskan, jika ternyata kesempatan itu masih tidak memungkinkan mereka tertampung, para pelajar juga tidak perlu berkecil hati. Karena, sebenarnya kehidupan di masyarakat juga ibarat perguruan tinggi sebagai tempat meningkatkan pengetahuan.

Malah, kata Pak Harto, kalau di perguruan tinggi hanya dipelajari satu disiplin ilmu, seperti, politik, ekonomi ataupun sosial.

“Maka, di masyarakat,bisa dipelajari berbagai ilmu apa saja,” ujarnya.

Sebagai contoh, Presiden menunjuk dirinya yang tidak pernah mengikuti pendidikan di perguruan tinggi, namun belajar dari perguruan tinggi masyarakat.

“Coba lihat saja bapak sendiri. Saya tidak pernah mengikuti pendidikan di perguruan tinggi, tapi saya belajar di perguruan tinggi masyarakat, baik masalah politik, ekonomi, sosial budaya dan masalah lainnya,” ujar Presiden disambut gemuruh tepuk tangan.

Menurut Pak Harto, semua pelajaran bisa didapatkan dari ‘universitas masyarakat’

“Semua pelajaran ada. Kalau kita bisa menggunakan dan secara tekun mempelajari, bahkan tidak hanya teorinya tapi teori sekaligus praktek,” lanjutnya.

“Jadi, anak-anak tidak perlu kuatir. Tapi, harus mempunyai cita-cita tinggi belajar terus menerus sebagaimana kemampuan orang tuanya,” ujarnya .

Namun, jika tidak bisa meneruskan pendidikan, jangan kecil hati. Karena, di masyarakat pun bisa belajar lebih lengkap dan menempati diri dengan pengetahuan yang diperoleh, bahkan bisa menjadikan sebagai pemimpin.

“Seperti saya juga begitu, menjadi pemimpin tidak melewati perguruan tinggi, tetapi perguruan tinggi masyarakat,” ungkap Pak Harto.

 

Tantangan

Kepala Negara selanjutnya mengungkapkan, tugas dari para pelajar sekarang semakin berat dibanding masa lalu, karena setiap zaman hadir dengan tantangannya sendiri.

“Tugas saya dulu berjuang melawan Belanda, tetapi sekarang anak-anak berjuang melawan dirinya sendiri melanjutkan pendidikan, membangun SDM untuk: melewati pendidikan. Karena, kelak di kemudian hari dalam kaitan globalisasi yang penuh persaingan membutuhkan pemuda Indonesia yang pandai, cerdas tapi juga tetap berbudi luhur memiliki rasa kebangsaan yang tinggi,” tuturnya.

Kepala Negara menyebutkan, kendati belum sempurna namun terus dilaksanakan perbaikan dalam fasilitas pendidikan. Ketika, mulai membangun jumlah murid SD dan Madrasah Ibtidaiyah baru mencapai 7,5 juta anak atau 41% dari jumlah anak usia sekolah. Dalam tahun 1984 jumlahnya meningkat menjadi lebih dari 23 juta atau 97.

Dijelaskan, kendati telah diadakan gerakan wajib belajar 9 tahun. Namun masih terdapat sekitar 6 juta dari 38 juta anak usia sekolah yang belum dapat sekolah terutama dari keluarga prasejahtera dan keluarga prasejahtera 1. Disamping itu, masih ada

400.000 anak yang mungkin tidak dapat menyelesaikan sekolahnya, karena orang tuanya tidak mampu.

“Untuk mengatasi ini, maka kita melancarkan Gerakan Nasional Orang Tua Asuh yang mendapat dukungan masyarakat luas,” ujar Presiden.

Ditambahkan, GBHN telah menekankan pendidikan harus mampu meningkatkan kualitas manusia Indonesia dan menumbuhkan kesadaran serta sikap budaya bangsa menambah pengetahuan dan ketrampilan serta mengamalkannya.

“Ini berarti bahwa pendidikan kita sangat peduli pada hal-hal yang bersifat kerohanian. Kita ingin membangun masyarakat seimbang lahir dan batin, agar kita mampu membangun peradaban berwajah lebih manusiawi dan lebih bersahabat dengan lingkungan alam sekitar kita,” kata Presiden.

Ketika acara berakhir dan Pak Harto akan meninggalkan ruangan menghadiri acara lainnya, para pelajar SD dan SMP meminta agar bisa bersalaman dengan Presiden. Kendati, harus menghadiri acara lain, Kepala Negara mengalah dan menyalami satu persatu para pelajar tersebut.

“Tapi, hanya anak-anak saja yang bersalaman. Nanti yang masih ada pendapat dan ingin dikemukakan, silahkan diajukan tertulis dan akan saya jawab tertulis,” ujar Presiden.

Selain Wapres dan Ny Tuti Try Sutrisno, hadir diantaranya Mendikbud Wardiman Djojonegoro, Mendagri Moh Yogie SM, Menag H Tarmizi Taher, Menkes Sujudi, Mensos Ny lnten Soeweno, Menpora Hayono Isman, Meneg Kependudukan Haryono Suyono, Meneg UPW Mien Sugandhi.

Sumber: MERDEKA (03/05/1997)

_____________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 702-706.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.