PAK HARTO DAN HAL IHWAL PERTANIAN

PAK HARTO DAN HAL IHWAL PERTANIAN

 

 

Jakarta, Pelita

BERBEDA dengan kepala negara di mana pun, Presiden Soeharto selain kepala negara adalahju ga “petani asli”. Ia menguasai liku-liku bertani dan dunia pertanian tidak hanya di atas kertas, tapi betul-betul mengetahui di lapangan. Jelas ini suatu kelebihan tersendiri,yang tidak mudah diimbangi, termasuk oleh pembantu-pembantunya sekalipun.

Ambil saja contoh. Seseorang yang menduduki jabatan penting, apalagi sebagai pengambil keputusan, sering kali kita mendengar bahwa “urusan-urusan teknis” baru akan dibicarakan belakangan. Kerap kali pembicaraan urusan teknis dianggap sebagai yang tidak terlalu penting, sehingga dikemudiankan. Padahal, yang teknis-teknis itu justeru yang tak boleh diabaikan.

Sejak awal memimpin Pemerintahan Orde Baru, Presiden Soeharto sudah menampakkan kejelian dalam dunia pertanian. Ketika program Bimas (Bimbingan Massal) dalam dunia pertanian dengan menerapkan penggunaan pupuk urea dan TSP sebagai penyubur tanaman (padi) dimulai, jelas sekali perhatian Presiden demikian besar. Ketika itu, dalam Pelita I (1970) Presiden melakukan perjalanan darat dan berdialog dengan para petani dijalur Pantura (Pantai Utara) kemudian di bagian selatan Jawa Tengah dan akhimya di pinggiran Yogyakarta.

Dialog yang diadakan di Sukamandi (Jabar) dan di Banyuwangi serta di Sleman, dilakukan tidak secara formal, sebagaimana yang lazim sekarang disebut “temu wicara”. Presiden berdialog itu sambil berdiri di atas galenganl pematang sawah. Mengenakan stelan safari lengan pendek dan bertopi petani, berkacamata hitam, Presiden sangat akrab berdialog dengan para petani yang berdiri tidak jauh dari dekatnya. Dalam dialog-dialog itu nyata sekali, Kepala Negara Soeharto adalah seorang yang bukan saja tahu, tapi menguasai hal ihwal bercocok tanam padi sampai sedetil-detilnya.

 

Padi-padi Palawija

Hampir secara rutin kepala negara melakukan dialog dengan para petani di mana-mana di Nusantara ini. Dan kalau sudah bicara tentang teknik bertani, dengan lancar sekali ia menguraikannya tanpa terputus­putus. Termasuk angka-angka perolehan dan lain-lain.

Ia tak pemah henti menganjurkan para petani untuk memanfaatkan lahannya secara optimal. Misalnya denganjaringan irigasi yang sudah baik, Presiden Soeharto selalu menganjurkan agar petani menanaminya dengan pola tanam “padi-padi palawija”.

Sejak itulah, pola ini merupakan pola yang tepat bagi sebagian besar lahan pertanian di Indonesia. Kecuali di beberapa daerah lain yang memerlukan pola khusus.

Ketika daerah Bojonegoro di Jawa Timur masih sering terlanda banjir, lantaran bagian hilir sungai Begawan Solo belum dij inakkan, maka Presiden Soeharto pula yang menganjurkan sekaligus memelopori, dengan menebarkan bibit ikan mujaer dan gurame, bersamaan waktunya dengan lamanya musim banjir tersebut. Dengan demikian, begitu musim banjir usai, benih-benih ikan tadi sudah membesar dan dapat dipanen. Hal ini yang mengilhami diterapkannya sistem pertanian terpadu seperti sekarang ini.

 

Keramba

Dalam dunia betemak ikan ini, Presiden memang sungguh-sungguh menguasai ilmunya. Misalnya ketika diresmikannya Waduk Sutami di Jawa Timur, Waduk Gajahmungkur /Wonogiri Jawa Tengah, Waduk Wadaslinta ng , Waduk Gondang dan waduk-waduk lain, selalu dianjurkan para petani agar memanfaatkan air waduk selain untuk kepenting an pertanian/ sawah juga untuk betemak ikan.

Ia pula yang menganjurkan diadakannya keramba-keramba di waduk, dalam upaya memelihara dan betemak ikan. Malah di luar waduk, yaitu di laut lepas, Presiden mengeterapkan sistem rumpon dengan becak-becak buangan di lepas pantai Teluk Jakarta. Rumpon­rumpon itu, temyata potensial bagi berkumpulnya ikan laut. Pada suatu ketika, ia memancing di lepas pantai Jakarta dan ternyata Pak Harto mendapatkan ikan kakap yang besar-besar.

 

Sapi dan Domba

Lebih-lebih jika Pak Harto bicara tentang petemakan domba dan sapi atau lembu. Nyaris tak tercecer sedikitpun bagi Pak Harto untuk menguraikannya secara gamblang di luar kepala. Penulis kadang-kadang berpikir, demikian maka hasilnya akan jadi begini. Perkara makanan ternak yang baik ia demikian ngelotok hafal di luar kepala menguraikan kepada setiap tamunya.

Dalam memimpin petemakannya di Tapos, Pak Harto memang dibantu oleh para staf sejumlah insinyur pertanian yang handal. Meskipun begitu, kalau memang tidak ada minat untuk menguasai ilmu petemakan secara intens,tentu Pak Harto akan menjelaskannya dengan melihat catatan-catatan, tapi ini tidak. Betul-betul hafal didalamnya penguasaan ilmu Pak Harto untuk soal-soal yang berkaitan dengan temak-betemak dan tani-bertani ini.

Coba saja lihat. Peternakan “Tri S” di Tapos Bogor yang dipimpinnya, selalu dijadikan ajang untuk menggetok-tularkan ilmu petemakan yang dimilikinya,bukan hanya bagi kepentingan di dalam negeri, tapi juga untuk tamu-tamu luar negeri.

Sebagai petani, Presiden menguasai dan hafal betul hasil-hasil persilangan temaknya di Tapos itu. Ia tahu persis jika domba lokal dipersilangkan dengan bibitAustralia, hasilnya jadi demikian. Begitu juga sapi pejantan Australia dikawinkan silang dengan sapi asal NTT luar kepala.

Itulah “sosok petani” Soeharto yang kebetulan menjadi kepala negara, kepala pemerintahan .Minatnya yang besar untuk menguasai ilmu pertanian, terbukti sangat besar manfaatnya. Apalagi ia menjadi Presiden dari suatu negara pertanian. Jadi benar-benar ilmunya terasa cocok dengan kebutuhan sebagian besar rakyat dan bangsa Indonesia.

Penulis pemah membaca, bahwa Jimmy Carter, sebelum dan sesudah jadi Presiden AS adalah juga petani kacang. Tapi apakah ia ngelotok menguasai ilmu perkacangan, penulis rasa tidak. Di sinilah salah satu sisi kelebihan Pak Harto. Dirgahayu.

 

 

Sumber : PELITA (08/06/1990)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XII (1990), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 543-547.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.