PAK HARTO CEGAH HABIBIE HADIRI HUT-NYA DI CENDANA

PAK HARTO CEGAH HABIBIE HADIRI HUT-NYA DI CENDANA[1]

 

Jakarta, Media Indonesia

Senin, 8 Juni merupakan hari ulang tahun mantan Presiden RI Soeharto yang ke-77.

“Dirayakankah hari istimewa tersebut?”

“Ya. Tapi hanya berlangsung secara intim. Dihadiri keluarga dekat dan beberapa pejabat saja,” ungkap Probosutedjo, adik Pak Harto, kepada wartawan di Jakarta kemarin.

“Hadirkah Presiden Habibie?”

“Tidak. Sebab, menurut Probo, Habibie memang sengaja tidak diundang, Karena kalau hadir, dikhawatirkan akan menimbulkan kesan masih adanya bayang-bayang Pak Harto dalam pemerintahan sekarang.”

Ketika masih menjabat presiden, peringatan ulang tahun Pak Harto selalu dirayakan bersama keluarga di Jl. Cendana, Jakarta dan umumnya diberitakan oleh TVRI. Tapi setelah lengser,

“Acara ulang tahun kemarin (Senin 8/6) memang tidak dipublikasikan seperti biasanya.” kata Probo.

Probosutedjo sendiri mengaku hadir dalam acara itu. Di rumah Pak Harto, katanya, juga tampak karangan-karangan bunga ucapan selamat ulang tahun dari para kerabat dan warga masyarakat.

“Pak Harto sehat-sehat saja, tidak kurang suatu apa pun. Karangan bunga juga kelihatannya banyak sekali. Pejabat yang hadir terbatas hanya beberapa orang. Kalau keluarga boleh dikatakan komplet, datang semua.” tambahnya.

“Apakah Presiden Habibie datang dalam acara itu?” wartawan bertanya lagi.

“Terus terang saja kalau Pak Habibie datang malah ngerepotin. Lebih baik tidak datang. Malah waktu itu Pak Habibie akan datang, katanya mau tahlilan. Tapi Pak Harto menganjurkan jangan datang. Kata Pak Harto, nanti orang berpikir saya dikte. Pikirnya nanti Habibie masih dibayang-bayangi terus.” ujar Probo.

“Pers kok tidak diundang?” tanya wartawan lagi.

“Kan beliau bukan presiden lagi. Jadi ya biasa saja acaranya,” jawab Probo.

Dalam penemuan dengan pers yang dihadiri anggota Komnas HAM Mayjen (purn) Samsudin, Probo juga banyak menjelaskan masalah yang berkaitan dengan kekayaan putra-putri keluarga Cendana serta Yayasan-yayasan pimpinan Pak Harto.

Tidak Fair

Probo membantah bahwa keluarga Pak Harto memiliki kekayaan Rp.200 triliun.

“Saya meragukan sinyalemen dari Christianto Wibisono (Direktur-Pusat Data Bisnis Indonesia). Masak Pak Harto memiliki kekayaan sebesar itu.” katanya.

Menurut dia, kalau ukuran kekayaan itu hanya karena seseorang memiliki saham, PT atau duduk sebagai ketua yayasan, itu tidak fair, karena perusahaan bukan berarti otomatis kekayaan.

“Banyak perusahaan yang malah merupakan beban, karena bangkrut dan mempunyai hutang.”

Sedangkan Yayasan-yayasan yang dipimpin Pak Harto, kata Probo, semuanya merupakan Yayasan sosial dan untuk mengabdi kepada masyarakat. Dananya, di samping dari modal anggota, juga diperoleh dari masyarakat, termasuk pengusaha dan konglomerat. Tidak ada sedikit pun dana yang diambil dari anggaran negara.

Sumber : MEDIA INDONESIA (10/06/1998)

________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 663-664.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.