PAK HARTO BERTAKBIR, HADIRIN MENANGIS

PAK HARTO BERTAKBIR, HADIRIN MENANGIS[1]

 

 

Jakarta, Media Indonesia

“Saudara-saudara sekalian, kita masih berjuang. Berjuang berarti pengorbanan. Percayalah bahwa setiap pengorbanan tidak akan sia-sia dan Tuhan Yang Mahakuasa akan selalu memberikan petunjuk dan bimbingan kepada kita yang rela berkorban untuk kepentingan negara, bangsa, dan agama.”

Demikian pesan Presiden Soeharto dalam sambutan tanpa teks di hadapan ratusan ribu umat Islam yang memadati Taman Monas, Jakarta, pada Acara Gema Dzikir dan Takbir di malam Lebaran, Kamis pekan lalu.

“Saudara-saudara kaum muslimin dan muslimat di seluruh penjuru Nusantara, dalam kesempatan ini pertama-tama akan saya gunakan untuk menyampaikan selamat kepada segenap kaum muslimin dan muslimat di seluruh penjuru Nusantara yang telah menyelesaikan ibadah puasanya selama bulan Ramadan.” tutur Kepala Negara

Pak Harto juga menegaskan hakikat puasa adalah pengendalian diri dan percaya kepada diri atas dasar iman dan takwa kepada Tuhan. Bagi bangsa Indonesia yang selalu mendasarkan kuatnya pada persatuan dan kesatuan bangsa, katanya, sinar hikmah ibadah puasa ini merupakan kekuatan untuk dapat menghadapi segala tantangan dan hambatan perjuangan.

Seusai menyampaikan pidato singkat, Kepala Negara kemudian melakukan tabuh beduk sebagai tanda dimulainya takbir menyambut hari kemenangan bagi umat Islam ini. Lebih dari satu menit Pak Harto menabuh beduk yang didatangkan secara khusus dari Masjid Raya An Nur Yogyakarta, dengan irama tabuhan khas santri. Sebagaimana acara serupa tahun lalu, Pak Harto kemudian memimpin bacaan takbir dan diikuti oleh seluruh hadirin.

Setelah Pak Harto, secara berturut-turut, KH Hasan Basri, Wapres Try Sutrisno, Menag Tarmizi Taher, Rhoma Irama, dan tamu khusus dari Mesir Sheikh Ali Al Minyawi, juga melantunkan bacaan takbir yang kemudian diikuti umat.

“Saya senang bisa hadir di sini bersama Pak Harto. Yang membuat saya lebih terharu adalah ketika Presiden Soeharto ikut mengucapkan takbir.” kata Sheikh Ali Al Minyawi.

“Suara Pak Harto saat bertakbir sangat syahdu dan cukup fasih.” Tambah Rhoma Irama.

Kesan serupa juga disampaikan sejumlah hadirin lainnya.

“Begitu Pak Harto takbir, saya langsung menangis, terharu.” kata Dorce Gamalama.

Artis Nia Daniati juga menitikkan air mata. Seusai menjalankan sholat Idul Fitri di Masjid Istiqlal pagi harinya, Pak Harto kemudian mengadakan silaturahmi di kediaman Jl. Cendana.

Sumber : MEDIA INDONESIA (02/02/1998)

_________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 784-785.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.