PAK HARTO 76 TAHUN : SELAMAT ULANG TAHUN KEPALA NEGARA

PAK HARTO 76 TAHUN : SELAMAT ULANG TAHUN KEPALA NEGARA[1]

 

Jakarta, Kompas

HARI Minggu, 8 Juni 1997, Tak seperti hari-hari di tahun sebelumnya, di Jalan Cendana, kawasan Menteng, Jakarta, kediaman Presiden Soeharto tampak biasa­ biasa saja.

Ulang tahun Kepala Negara ke-76 kali ini bisa dibilang hampir tidak dirayakan. Tak ada pesta, atau potong tumpeng meriah. Kalau pun ada, hanyalah sebuah ungkapan syukur sederhana.

Itu semua semata-mata untuk menghormati almarhumah Nyonya Tien Soeharto, Ibu Negara yang wafat 28 April 1996. Kira-kira setahun lalu. Karena itu, sesuai adat Jawa yang dianutnya, Kepala Negara pun tidak akan mengadakan pesta kemeriahan, sebelum memperin “seribu hari” meninggalnya Ny. Tien Soeharto.

Rupanya kesederhanaan itu tidak pernah lepas dari putra desa kelahiran 8 Juni 1921 di Desa Kemusuk, sekitar 12 km arah barat kota Yogyakarta, atau 37 km menjelang candi Buddha, Borobudur, Jateng.

“Dulu, saya harus naik sepeda 10 kilometer kalau mau sekolah. Bukan melalui jalan besar dan beraspal, tetapi lewat nggalengan (tepian-Red) sawah.” kata Presiden suatu saat, sewaktu mengadakan temu wicara dengan anak-anak di Jakarta.

Itu terjadi karena Presiden lahir dan besar di keluarga petani sederhana. OG Roeder, melalui buku “The Smiling General” melukiskan tahun 1921, tahun kelahiran Kepala Negara, sebagai tahun yang bukan merupakan tahun kegembiraan maupun kemakmuran. Karena Perang Dunia I yang membekaskan klisis ekonomi dan pemerataan malaise baru saja berlalu.

Meski melalui jalan yang berliku, pemuda Soeharto berhasil pulamelalui masa pahit dan sulit tersebut. Bahkan kariernya terus melesat. Diawali dengan masuk KNIL dan mengikuti Pendidikan Dasar Militer di Gombong, Jateng, 1 Juni 1940. Tiga tahun kemudian, ia dipercaya menjadi Shodanco (Komandan PETA) di Yogyakarta. Sepuluh tahun kemudian, ia menjadi Komandan Resimen Infantri 15 di Solo, Jateng, hingga 1 Januari 1962 mendapatkan kenaikan pangkat sebagai Mayor Jenderal TNI. Keesokan harinya, menjadi Panglima Mandala dalam rangka pembebasan Irian Barat (Trikora). Setelah serangan G30S/PKI, Mayjen TNI Soeharto ditunjuk sebagai Panglima Pemulihan Keamanan dan Ketertiban. Tanggal 1 Februari 1966, ia naik pangkat menjadi Letjen, yang kemudian diangkat sebagai Menteri/Panglima AD dan Kepala Staf Komando Tertinggi tanggal 21 Februari 1966. Lalu, 11 Maret 1966, Letjen TNl Soeharto menerima Surat Perintah 11 Maret (Supersemar), hingga dipercaya sebagai Presiden RI.

Kiprahnya tidak hanya sampai di situ. Di dunia Internasional, penggemar golf, sepak bola, tenis, memancing, menunggang kuda dan berburu ini pun dikenal sebagai founding father bagi ASEAN. Tokoh yang banyak melewatkan waktu senggang dengan menikmati tarian tradisional dan mendengarkan musik gamelan Jawa ini, menjadi saksi mata kelahiran ASEAN, dari lima negara, tanggal 8 Agustus 1967 lalu, hingga 10 negara, bulan Juli 1997 nanti, tepat saat ASEAN genap 30 tahun.

Karena itu, tak mengherankan bila Presiden Soeharto pun menerima berbagai penghargaan. Di antaranya penghargaan Wira Dharma, Penegak, Satya Lencana Kesetiaan 24 Tahun. Kartika Eka Paksi Nararya III, Order of The Great Yugoslav Star (Yugoslavia). Bulan September nanti, Presiden akan menerima penghargaan khusus dari PBB atas keberhasilannya dalam mengentaskan kemiskinan.

Sumber : KOMPAS (09/061/1997)

______________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 715-716.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.