PAK HARTO 71 TAHUN, TERUS MENGGALANG KESETIAKAWANAN

PAK HARTO 71 TAHUN, TERUS MENGGALANG KESETIAKAWANAN[1]

Jakarta, Suara Karya

Tidak ada kebahagiaan yang melebihi kebahagiaan seorang kakek ketika berkumpul dengan semua cucu-cucunya. Apalagi semua dalam keadaan sehat, tertawa riang, menyanyi dan saling memanja. dan Insya Allah hari ini Pak Harto menikmati kebahagiaan itu dalam perayaan ulang tahunnya ke-71.

Acara ulang tahun ini tidak mengundang tokoh-tokoh terkenal. Pak Harto, seperti tahun-tahun lalu, hari ini akan merayakan secara sederhana di kediaman pribadi Jalan Cendana No.8 Jakarta. Tak banyak yang diundang karena memang hanya acara keluarga. Yang datang hanya anak-anak dan cucu.

Dalam usia lanjut, Pak Barto tetap suka kesederhanaan. Bahkan walau beliau telah mendapat kepercayaan memimpin bangsa ini selama 25 tahun, tidak terlihat sombong atau membanggakan prestasi pribadinya. Pak Harto tampaknya berpegang kepada nasihat orang-orang tua Jawa yang menyatakan

“keadaan di dunia tidak abadi, oleh karena itu jangan mengagung-agungkan kekayaan dan derajatmu, agar bila sewaktu-waktu tetjadi perubahan keadaan, Anda tidak akan menderita aib”.

Mendapat kepercayaan memimpin bangsa Indonesia selama seperempat abad bukan suatu kebetulan, atau juga bukan karena ada kekuatan yang otoriter.

Ketika Pak Harto mulai mendapat kepercayaan memimpin bangsa Indonesia pada tahun 1967 sebagai Pejabat Presiden, surat kabar berpengaruh di Hamburg, Jerman Die Welt menilai ada beberapa ciri yang menonjol pada Pak Barto yaitu suka damai dan musyawarah serta jujur.

Dua puluh Iima tahun berada di tampuk kekuasaan, tidak pula membuat rakyat lalu mengkultuskan Pak Harto. Petani, atau orang desa tidak pernah sungkan jika diajak berbicara dengan Pak Harto. Ini sering terjadi jika ada kesempatan temu wicara antara Pak Harto dengan masyarakat di berbagai pelosok Tanah Air.

Semua orang ingin mernpunyai kekuasaan, apa pun bentuknya. Keinginan itu adalah hal yang wajar dimiliki oleh setiap manusia. Pak Harto mempunyai pandangan

“sifat rnanusia itu ingin berkuasa, tetapi Tuhan akan rnemberi kekuasaan sesuai dengan kehendak Tuhan sendiri”.

Sebagai anak petani, Pak Harto mewarisi sifat yang sederhana. Namun ia kukuh dalam pendirian dan memiliki kesabaran yang luar biasa. Ia tekun untuk menunggu keinginannya terwujud. Mungkin karena sifat itulah ia bisa rnernbawa bangsa Indonesia ini tetap bersatu dan bahkan kehidupannya bertambah maju.

Mempersatukan rakyat yang begitu banyak rnemiliki perbedaan serta ternpat yang menyebar di 17.000 pulau, adalah suatu karya yang besar. Pak Harto melakukannya sehingga rakyat tidak hanya sekadar memiliki persatuan dan kesatuan, tetapi malah menggalang persaudaraan antara sesamanya. Jika rakyat di ujung timur terkena musibah, maka rakyat yang berada di ujung barat turut merasakan sakitnya.

Mungkin banyak orang sekarang tidak begitu menyadari tingginya solidaritas bangsa Indonesia ini, karena solidaritas itu sudah dirasakan sebagai hal yang biasa dan ditemukan di mana-mana. Pak Harto banyak berperan dalam penggalangan solidaritas atau kesetiakawanan.

Pak Harto tidak menggalang kesetiakawanan itu dengan pidato-pidato, tetapi dalam bentuk karya nyata. Ini terlihat dari Yayasan-yayasan yang di ketuai Pak Harto yang seluruhnya melakukan penggalangan kesetiakawanan. Yayasan-yayasan itu antara lain memberi santunan kepada anak yatim piatu di panti-panti asuhan di seluruh Indonesia, memberi beasiswa kepada anak-anak pandai dari keluarga miskin, membangun tempat-tempat peribadatan, serta menolong masyarakat yang terkena musibah alam. Dana untuk bantuan tersebut, bukan keluar dari kantong Pak Harto sendiri semuanya, tetapi lebih banyak berasal dari sumbangan masyarakat sendiri.

Pada waktu ini negara belum mampu mengurus seluruh anakyatirn piatu walaupun itu sudah diamanatkan dalam UUD 45. Oleh karena itu Pak Harto tergerak untuk secara pribadi memberi sumbangan bagi upaya meringankan penderitaan masyarakat miskin. Sebagai negarawan yang disegani pemimpin-pemimpin kaliber dunia, Pak Harto tidak pernah merendahkan pemimpin-pemimpin lainya yang tidak sekaliber dengannya. Karena pandai menghargai orang, maka Pak Harto selalu mendapat tempat yang istimewa di antara pemimpin-pemirnpin dunia lainnya.

Berbagai lawatannya ke luar negeri selalu berjalan dengan sukses. Pak Harto tidak saja sering mendapat tempat yang terhornat, kehadirannya acapkali memberi pengaruh positif pada keadaan sekelilingnya.

Beberapa pemimpin ASEAN memuji kepemimpinan Pak Harto yang sangat membantu menciptakan kedamaian di regional ASEAN. Para pemimpin itu merasakan Pak Harto adalah pengayom ASEAN. Di belahan lain, Australia misalnya, walau persnya sering usil, pemerintahnya merasa tenang bertetangga dengan Indonesia selama berada di bawah kepemimpinan Pak Harto. Australia sadar betul bahwa dengan terjaganya stabilitas di Indonesia, kawasan Asia Pasiflk akan tetap aman.

Jepang yang kini menjadi negara paling makmur di Asia dan paling kuat, tetap menganggap Indonesia merupakan mitranya yang teramat penting di dunia. Pemimpin-pemimpin Jepang yang naik turun silih berganti tetap merasa perlu bertukar pikiran dengan Pak Harto. Cina negara paling banyak penduduknya  di dunia, ketika melakukan normalisasi hubungan dengan  Indonesia, pemimpinnya merasa perlu terlebih dahulu datang kepada Pak Harto daripada sebaliknya.

Masyarakat dunia mengagumi terjaganya stabilitas nasional di Indonesia. Mereka melihat selama masa menjelang pemilu ini tidak terjadi insiden yang berarti.

Jika banyak orang mengagumi kepemimpinan Pak Harto, itu adalah wajar, karena hasil kerja kerasnya tidak dapat kita pungkiri? Banyak kemudian berharap agar Pak Harto memimpin bangsa ini lagi. Mereka berharap agar pak Harto menghantar bangsa untuk tinggal landas memasuki kebangkitan nasional kedua.

Ada yang agak digelisahkan masyarakat saat ini, yakni apabila tiba waktunya Pak Harto harus digantikan. Syarat bagi penerus Pak Harto sangat berat. Ia tidak saja orang yang pintar tetapi harus arif, bijaksana dan memahami serta membela kehidupan orang-orang kecil.

Pak Harto pernah meminta agar kekuatan-kekuatan politik di Indonesia mulai mengelus-elus jagonya untuk ditempatkan sebagai pemimpin bangsa. Namun sampai sekarang belum tampak jago lain yang dielus-elus. Malah kekuatan-kekuatan politik di Indonesia masih mengelus Pak Harto untuk tetap memimpin bangsa yang besar ini. (Agustianto)

 Sumber: SUARA KARYA (08/06/1992)

__________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIV (1992), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 701-703.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.