Pabrik Pupuk Kaltim III Diresmikan PRESIDEN: AWASI PEMAKAIAN PUPUK DAN OBAT ANTI HAMA

Pabrik Pupuk Kaltim III Diresmikan PRESIDEN: AWASI PEMAKAIAN PUPUK DAN OBAT ANTI HAMA

 

 

Bontang, Kompas

Presiden Soeharto minta kepada aparat pertanian di daerah mengawasi penggunaan pupuk dan obat-obatan anti hama di lapangan agar tidak berlebihan. Hal itu dikemukakan Kepala Negara di Bontang, Kalimantan Timur hari Selasa siang ketika meresmikan pabrik pupuk PT. Kaltim III dan empat pabrik agrokimia yang berlokasi di Jawa Barat.

Menurut Kepala Negara, produksi pupuk dan obat-obatan anti hama dewasa ini telah mampu memenuhi seluruh kebutuhan nasional. Namun itu tidak berarti kita boleh menggunakannya secara berlebihan. Karena, selain merupakan pemborosan, juga akan merusak sumber daya alam serta mengganggu. Ini sangat berbahaya. “Jika ini sampai terjadi maka produksi pertanian akan terancam.”

Karena itu menurut Kepala Negara, peningkatan efisiensi dalam produksi, distribusi dan penggunaan pupuk perlu segera dilaksanakan. Pembangunan kelima pabrik itu menelan investasi Rp. 150,93 milyar, 4,36 juta dollar AS dan 30,73 milyar yen. Jumlah tenaga kerja yang diserap sekitar 581 orang. Diharapkan akan menghemat devisa sekitar 30,45 juta setahun, dan bahkan akan menghasilkan devisa sekitar 70 juta dollar setahun dengan mengekspor hasil produksinya.

 

Yang Diresmikan

Keempat pabrik pestisida di Jawa Barat yang diresmikan adalah PT. Multisida Agrolindo (PMDN) berlokasi di Merak, menghasilkan bahan baku dasar untuk membuat bahan aktif herbisida glyfosat, yaitu NPG (N-Phosphonomethyl Glycine) yang saat ini masih diimpor. Total investasi akan mencapai Rp 31 milyar lebih. Tahap pertama menghasilkan 1.800 ton NPG per tahun, bahan aktif 3.947 ton dan formulasi herbisida 5.900 ton.

PT. Monagro Kimia (PMA) di Tangerang, memproduksi bahan aktif herbisida glyfosfat 2.800 ton dan formulasi herbisida 5.000 ton. Total investasi sekitar Rp 7,5 milyar. Perluasan PT Kartini Perintis Agro Industries (PMDN) yang berlokasi di Cirebon, memproduksi bahan aktif BPMC, MIPC, carbofuran dan carboryl dengan kapasitas 4.3000 ton per tahun. Total investasi sekitar Rp 26 milyar.

PT. Pestagra Chemical Utama (non PMA/PMDN) di Tangerang, memproduksi formulasi pestisida dengan kapasitas 2.000 ton per tahun. Total investasi Rp 3 milar. Kecuali formulasi, perusahaan ini juga akan membangun pabrik bahan aktifnya.

Menurut Menperin Ir. Hartarto, saat ini diperkirakan produksi bahan aktif dalarn negeri telah mencukupi 60 persen kebutuhan nasional. Sisanya masih diimpor. Dengan diresmikannya empat pabrik di Jabar ini maka potensi nasional pabrik pestisida diharapkan akan mampu memenuhi seluruh kebutuhan baik pestisida, hasil formulasi maupun bahan aktifnya, bahkan produk-produk pestisida aktif tersebut dapat menembus pasaran internasional.

 

Pabrik Terbesar

Pabrik pupuk Kaltim III sendiri mulai dibangun Februari 1986 oleh suatu konsorsium yang terdiri dari PT Rekayasa Industri serta Chiyoda Corporation dan Mitsubishi Corporation dari Jepang. Biaya pembangunan sebesar 30 milyar yen dan Rp 90 milyar, diperoleh dari kredit Bank Exim Jepang, Bank Dagang Negara dan dana PT Pupuk kaltim sendiri. Seluruh pembangunan proyek PT. Rekayasa Industri dan penggunaan sejumlah komponen buatan dalam negeri, antara lain tangki-tangki dan bejana tekanan.

Menurut Dirut PT. Pupuk Kaltim Ir Kotan Pasman, di bandingkan dengan pabrik­ pabrik pupuk lainnya, Kaltim III merupakan pabrik yang paling efisien dengan penerapan proses hemat energi yang memerlukan gas alam 15 persen lebih rendah. Bersamaan dengan pembangunan Kaltim III, juga dibangun unit pernunian hydrogen yang bahan bakunya berasal dari bahan buangan Kaltim I, II dan III yang mampu menghasilkan tambahan produksi amoniak sehingga meningkatkan efisiensi.

Untuk meningkatkan pengapalan hasil produksi maka pelabuhan Bontang telah diperdalam hingga mampu menerima kapal samudera lebih dari 20.000 ton.

Dalam rangka pembangunan Kaltim III, Pertamina telah membangun tambahan pipa gas alam sampai ke kawasan Pupuk Kaltim. Dengan demikian memungkinkan Pupuk kaltim mengembangkan industri kimia dan petrokimia lainnya. Dan selanjutnya bersama PT Badak NGL di masa mendatang akan mengembangkan Bontang menjadi kawasan industri dan perdagangan yang modern.

Pabrik Kaltim I telah berproduksi sejak 1984, menghasilkan 495.000 ton amoniak per tahun dan 560.000 ton urea. Sedangkan Kaltim II mulai berproduksi akhir 1984, menghasilkan 495.000 ton amoniak dan 570.000 ton urea pertahun. Dengan demikian PT. Pupuk Kaltim dewasa ini mampu menghasilkan pupuk urea 1.710.000 ton dan amoniak 330.000 ton per tahun, dan menurut menperin Ir. Hartarto merupakan pabrik terbesar di dunia penghasil urea dan amoniak di satu lokasi.

 

Langkah Penting

Menurut Presiden pembangunan kelima pabrik petrokimia tersebut akan menambah tangguhnya bidang pertanian yang mempunyai arti sangat penting bagi pembangunan. Antara lain makin mantapnya swasembada pangan yang telah dicapai dan akan mendorong laju pembangunan industri sehingga perekonomian nasional akan bertambah kuat dengan struktur yang makin seimbang.

Presiden dalam kesempatan itu juga melepas pengapalan pertama hasil produksi pabrik Kaltim III. Kepala Negara dan Ny. Tien Soeharto kemudian meresmikan Rumah Sakit Pupuk Kaltim yang akan melayani pula masyarakat Bontang. Bahkan mereka yang tidak mampu akan dilayani secara cuma-cuma.

 

 

Sumber : KOMPAS(05/04/1989)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XI (1989), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 407-409.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.