OPSTIB BERHASIL BILA MASYARAKAT BERI DUKUNGAN

OPSTIB BERHASIL BILA MASYARAKAT BERI DUKUNGAN [1]

Jakarta, Merdeka

“Operasi Tertib” akanberhasil apabila masyarakat secara langsung mendukungnya dengan tidak segan-segan melaporkan hal-hal yang kurang wajar yang dilakukan oleh aparatur negara. Presiden Soeharto mengatakan hal tersebut dalam malam peringatan ”Nuzulul Qur’an” (turunnya Al-Qur’an) di Mesjid lstiqlal malam ini.

Di depan muslimin dan muslimat yang hadir, Presiden menyerukan kepada masyarakat, khususnya para pengusaha agar menghilangkan kebiasaan buruk dengan merayu pejabat dan keluarganya dengan “iming-iming” upeti, uang pelicin dan lain-lain sejenisnya, termasuk kiriman hadiah pada hari lebaran dan tahun baru kepada para pejabat.

Selanjutnya Presiden menjelaskan bahwa “Opstib” salah satu langkah penting untuk menanamkan akar-akar ketertiban nasional dan disiplin nasional.

“Marilah kita adakan mawas diri di bidangnya masing-masing untuk mengadakan penertiban-penertiban yang masih diperlukan,” ajak Kepala Negara.

Apabila kita telah berhasil menertibkan diri masing-masing, tidaklah sulit mewujudkan (tertib politik, tertib ekonomi, tertib sosial dan dibidang-bidang lain menuju ketertiban hidup bersama dalam masyarakat yang membangun).

Presiden Soeharto mengulangi seruannya agar melakukan hidup sederhana, hidup yang wajar menyesuaikan lingkungan dan suasana yang ada. Pola konsumsi yang bermewah-mewah diminta dikurangi dan dicegah.

“Saya sampaikan dalam malam peringatan Nuzulul Qur ‘anini, sebab Al Qur’an sendiri memperingatkan bahwa pola kehidupan yang bermewah-mewah dan usaha menumpuk-numpuk kekayaan akan membawa sesuatu bangsa ke jurang kehancuran. “Orang menjadi kehilangan  idealisme  perjoangan   karena  disilaukan  oleh kemewahan duniawi,” kata Presiden.

Alihkan ke Bidang Sosial

Diserukan pula agar para hartawan dan orang-orang kaya akan sangat terpuji apabila memerangi nafsu bermewah-mewah dan mengalihkan ke perlombaan menghidupkan usaha-usaha di bidang sosial. Ditunjukkan oleh Presiden betapa banyak usaha yang dijalankan masyarakat baik di bidang pendidikan, penyantunan orang-orang terlantar maupun bidang keagamaan yang masih memerlukan dana yang sangat besar.

Menurut Kepala Negara, kekayaan adalah ujian Tuhan. Demikian juga kemiskinan. Tapi banyak orang tidak lulus dalam menghadapi ujian kekayaan daripada menghadapi ujian kemiskinan.

“Sebab”, kata Presiden, “kekayaan seringkali membuat orang lupa daratan, lupa asalnya dan lupa lingkungannya. Oleh karena itu dalam bulan Ramadhan ini Presiden

mengajak merenungkan kitab suci Al Qur’an yang mengajarkan agar kita tidak hidup boros tapi juga tidak kikir, kita giat mencari harta tapi juga menganjurkan agar banyak berderma”.

Presiden mengajak pula agar masyarakat membangun masyarakat sosialistis religius, masyarakat Pancasila.

Sebelum Presiden terlebih dulu telah memberikan uraian hikmah Nuzulul Qur’an E.Z. Mutaqin, Ketua Majelis Ulama Jawa Barat dan sambutan Menteri Agama Mukfi Ali. (DTS)

Sumber: MERDEKA (01/09/1977)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 410-411.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.