OLAHRAGA INDONESIA MASIH BERJALAN DI TEMPAT

OLAHRAGA INDONESIA MASIH BERJALAN DI TEMPAT[1]

 

Jakarta, Antara

Meskipun usia kemerdekaan Republik Indonesia sudah 52 tahun, namun perkembangan dan prestasi olahraga di negara yang kini berpenduduk lebih dari 200 juta itu, masih berjalan di tempat.

Kesimpulan itu diperoleh dari hasil wawancara ANTARA dengan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Hayono Isman, anggota DPR dari Komisi IX, pengamat olahraga M.F. Siregar dan pengamat olahraga tinju Syamsul Anwar sehubungan dengan peringatan 52 tahun Indonesia Merdeka, awal minggu ini.

“Secara umum perkembangan kemajuan dan prestasi olahraga Indonesia memprihatinkan dan tersendat-sendat, dan ini harus segera dicari akar permasalahannya untuk dicarikan jalan keluarnya,” kata MF Siregar.

Dalam lima tahun terakhir, katanya, merujuk data statistik secara umum, prestasi olahraga Indonesia merosot dan ketinggalan dari negara lain.

“Di Olimpiade Barcelona 1992, kita di peringkat 24, lalu di Olimpiade Atlanta 1996 kita merosot ke peringkat 41, demikian juga di level Asian Games dan SEA Games, kita terus jatuh,” kata Siregar.

Menurut Siregar, ada sistem yang salah, terutama dalam soal pembibitan atlet usia dini.

“Sepertinya kita tidak serius menanganinya, padahal Presiden Soeharto sudah menekankan hal pembinaan atlet sejak usia dini ini 16 tahun lalu ketika dicanangkan Panji Olahraga pada tahun 1981,” kata Siregar.

Menurut pengamatannya, tambah Siregar, organisasi yang bertanggung-jawab terhadap pembinaan olahraga tidak difungsikan dengan optimal, termasuk tidak profesionalnya pengurus dan pembina olahraga.

“Saya kira jika induk organisasi olahraga solid, memiliki pakar olahraga dan pemimpin yang loyal, maka atletnya otomatis akan berprestasi,” tambahnya.

Karena itu pada 9 September mendatang, bertepatan dengan Hari Olahraga Nasional, dia mengharapkan agar pelaku olahraga nasional mengenang kembali kejayaan olahraga Indonesia di kawasan Asia Tenggara, bahkan Asia.

“Tahun 1970-an kita berjaya di kawasan Asia, beberapa cabang olahraga seperti tinju, sepakbola, atletik dan renang selalu mengharumkan nama bangsa, apalagi ketika di SEA Games 1977 di Kuala Lumpur kita sukses dan membuat amat bangga sebagai bangsa Indonesia,” kata Siregar.

“Seluruh masyarakat, termasuk pembina olahraga, harus tergugah dengan kenangan manis itu, dan berusaha sekuat tanaga mengembalikan citra mengesankan olahraga Indonesia,” tambahnya.

Berjalan di Tempat

Sementara itu Menpora Hayono lsman mengakui ada yang salah dalam pembinaan olahraga di Indonesia, sehingga prestasi di beberapa cabang olahraga yang seharusnya terus meningkat ternyata hanya berjalan di tempat.

“Prestasi cabang atletik,renang, sepakbola dan tinju pada tahun 1970-an sangat bagus, kita mampu berada di level Asia, namun cabang itu kini merosot,” kata Menpora.

“Kemajuan perkembangan prestasi atlet Indonesia amat lambat, sedangkan atlet negara lain melaju lebih cepat sehingga kita ketinggalan, dan hal ini yang harus dicari penyebabnya,” kata Hayono.

Menurut pandangannya, KONI Pusat yang menjadi badan pembina olahraga Indonesia tidak efektif dan harus segera dicari jalan keluarnya, karena jika tidak olahraga perkembangan prestasi olahraga Indonesia akan tetap ketinggalan.

Namun demikian Hayono pun menyadari bahwa permasalahan tidak begitu saja dapat dituntaskan, karena berhubungan dengan pembenahan secara keseluruhan.

“Apalagi dana untuk bidang olahraga melalui APBN masih minim sehubungan dengan konsentrasi Pemerintah untuk segera menuntaskan masyarakat yang masih ada di bawah garis kemiskinan,” tambahnya.

Sedangkan anggota Komisi IX DPR, Zarkasih Noor, mengingatkan bahwa Indonesia tidak pantas menduduki peringkat dua di bawah Thailand dalam kemajuan prestasi olahraga untuk level Asia Tenggara.

“Prestasi olahraga Indonesia selalu melahirkan kedongkolan karena selalu kalah dan ini tak boleh dibiarkan mengingat sumber daya manusia Indonesia amat besar untuk melahirkan banyak atlet andal,” kata KHKholiq Moerod, rekan H. Zarkasih Noor di Komisi IX DPR.

Blue-print

Sementara itu pengamat olahraga tinju Indonesia, Syamsul Anwar menyatakan bahwa kegagalan Indonesia dalam memajukan prestasi olahraga karena pengurus dan pembina olahraga Indonesia masih setengah hati dan tidak profesional.

“Pembinaan olahraga Indonesia tidak profesional, selalu setengah-setengah dan jika terus demikian, amat sulit bagi Indonesia untuk mengejar ketinggalan,” tambah.

Menurut Syamsul Anwar, jika memang Indonesia harus meniru cara-cara pembinaan olahraga di negara lain, seharusnya jangan setengah-setengah.

“Mari kita bertemu lalu tentukan “blue-print” pembinaan yang kita inginkan, misalnya, petinju seperti apa yang kita harapkan dan pemain sepakbola yang bagaimana yang kita inginkan,” kata Syamsul.

“Jika kita ingin petinju Indonesia seperti Rusia, panggil pelatih hebat Rusia, jelaskan keinginan kita, serahkan ‘blue-print’-nya, beritahu batasannya, juga targetnya, jadi tidak setengah-setengah,” tambahnya.

Menurut Syamsul, “pola pembinaan olahraga di Indonesia tidak pernah jelas, panggil pelatih asing dan mereka melatih seenaknya, tidak ada program, tidak ada target.”

“Bahkan untuk sekedar melakukan evaluasi pun pengurus olahraga Indonesia segan,  bagaimana mau maju,” katanya.

(T.OK08/15/08/9716:03/0K03/A/pkh01)

Sumber: ANTARA (27/08/1997)

_________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 584-586.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.