OJO DUMEH

OJO DUMEH [1]

 

Jakarta, Merdeka

Pak Harto sudah berkali-kali memperingatkan itu semua, terutama mereka yang sedang memegang tampuk kekuasaan di bidangnya masing-masing agar tidak membuat kesalahan2 dan jangan mentang2 berkuasa, ojo dumeh lantas berbuat atau bertindak semaunya yang bisa merugikan masyarakat dan merusak kepentingan nasional.

Kalau Bapak Presiden mengingatkan hal ini pada kita semua, tentulah didasarkan pada kecintaannya pada tanah air dan bangsanya, karena Pak Harto tidak mau bangsanya berbuat salah dan tanah airnya jadi korban tindakannya yang tak bertanggungjawab itu.

Memang pada dasarnya semua bentuk penyalahgunaan kekuasaan dan jabatan adalah tindakan terkutuk yang tidak boleh dibiarkan terus berjalan, karena tindakan penyelewengan seperti ini, hanya menguntungkan diri yang bersangkutan sendiri atas kerugian orang banyak, masyarakat luas, bahkan juga dapat merugikan kepentingan nasional bukan untuk kepentingan kantongnya sendiri, atau paling banter, kepentingan golongan sendiri.

Berbuatlah sedemikian rupa untuk kepentingan negara dan bangsa, sehingga setiap rakyat Indonesia merasakan bahwa Perusahaan Negara ini adalah milik seluruh rakyat, milik kita bersama yang kebetulan sedang dipercayakan pengelolaannya pada mereka yang kini menduduki jabatan2 penting dalam perusahaan itu.

Berita lain tentang oknum ABRI yang menjadi pelindung atau pembina salah satu band di ibu kota yang entah bagaimana soalnya, terlibat dalam kericuhan di Taman Ria, Jakarta dan dalam huru hara itu meletuslah tembakan2 pistol yang menceiderai beberapa orang pemain band ini. Ini tentu tidak lucu, baik dilihat dari tembak2an pistolnya, maupun dari urutan kejadiannya.

Sesungguhnya para pembina dan pemimpin band ini dapat menertibkan anggotanya yang mungkin karena darah remajanya masih suka main kebut2an atau jago2an. Untuk bertindak wajar dan dewasa para pembina harus memperlihatkan sikap dan kelakuan yang patut dijadikan contoh dan teladan baik bagi anak buahnya.

Janganlah justru anak2 muda ini sering digiring pada situasi yang menganggap dirinya boleh berbuat sesuka hatinya karena merasa punya backing, Ojo dumeh, jangan mentang2 punya pistol, jangan mentang2 punya jabatan yang kebetulan tidak dimiliki oleh pihak lainnya.

Bayangkan saja, kalau sampai pihak lain inipun punya backing yang juga punya pistol dan jabatan dalam kedinasannya? Bukankah lantas bisa terjadi tembak menembak seperti di Las Vegas atau di bagian barat Amerika lainnya di jaman dulu.

Kita yakin bahwa semua tindakan yang melanggar hukum, akhirnya akan berhadapan dengan hukum itu sendiri dengan segala konsekwensinya. Kewajiban kita sebagaimana yang dikatakan oleh Pak Harto adalah memperingatkan, memberi tahu agar orang lain jangan berbuat salah, agar tidak berhadapan dengan hukum dan akhirnya dapat dihukum.

Pameran kekayaan orang2 tertentu yang tidak patut dilakukan dalam jaman orde baru ini, dan dalam suasana hidup sederhana sekarang ini seyogyalah dihentikan, karena hal ini akan menyakitkan hati rakyat banyak yang hidupnya masih jauh dari sederhana.

Pameran yang memperdalam jurang pemisah antara yang punya dan yang tidak punya lambat laun, mau tidak mau akan merugikan pihak yang punya tadi, karena mereka ini tergolong sangat kecil dibandingkan dengan yang tidak punya.

Karena akhirnya, mereka yang tidak punya ini, karena persamaan nasibnya dan persamaan kepentingannya akan bersatu padu dan membentuk satu kekuatan yang tidak ada tandingnya.

Kelakuan2 yang jahat yang didasarkan pada penyalahgunaan jabatan, kedudukan dan mentang2 sedang berkuasa hendaknya dihentikan oleh siapapun juga yang kini masih merasa berbuat demikian. Karena ini tidak akan langgeng. Pokoknya, ojo dumeh dan punya mentalitas mumpung kuasa. (DTS)

Sumber: MERDEKA (28/07/1975)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku III (1972-1975), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 584-585.a

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.