“OJO DUMEH” TENGAH DIUJI

“OJO DUMEH” TENGAH DIUJI[1]

 

Jakarta, Business News

Kerusuhan, perampokan, penjarahan dan pembakaran yang melanda berbagai bagian Jabotabek setelah tewasnya enam pahlawan reformasi dan lukanya puluhan mahasiswa Trisakti lainnya telah mengagetkan seluruh masyarakat. Pembakaran mobil-mobil mulai terjadi segera setelah terjadinya penembakan atas para mahasiswa yang berada di dalam kampus itu dengan peluru tajam Selasa 12 Mei sore, dan dapat ditafsirkan sebagai luapan kemarahan atas tindakan aparat keamanan yang mengingkari janjinya, bahwa mahasiswa boleh menggelar aksi-aksi keprihatinan, dalam kampus.

Tetapi selama Rabu 13 dan Kamis 14 Mei rupanya kerusuhan itu telah ditunggangi oleh unsur-unsur yang hanya mau mengacau dan merampok, termasuk para preman. Mereka menggunakan psikologi massa yang sedang menguasai massa rakyat di tempat, termasuk anak-anak remaja dan ABG. Mereka seakan-akan kehilangan keseimbangan mentalnya hingga dengan bangga memperlihatkan barang-barang curian kepada kamera televisi, seringkali dengan ketawa-ketawa dan bahkan dengan mengacungkan jempol dengan gaya “ngetop” dari salah satu stasiun TV swasta. Tragisnya, kemudian ternyata sekitar lima ratus atau lebih dari mereka diketemukan sebagai mayat yang hangus tidak dapat dikenali lagi di toko-toko swalayan yang habis terbakar.

Baru setelah Kamis 14 Mei aparat keamanan dan khususnya ABRI cukup mendatangkan bala bantuan hingga dapat menguasai keadaan. Dan sekarang sudah dicapai situasi, dimana masyarakat mengharapkan kehadiran ABRI untuk menjamin keselamatannya.

Ketika semuanya itu terjadi, Presiden Soeharto sedang berada di Mesir menghadiri konperensi 3-15 dengan sejumlah negara berkembang lainnya, Sebelum beliau kembali, sempat tersiar berita bahwa Presiden menyatakan bersedia mengundurkan diri dan akan menjadi pandito kalau masyarakat tidak menghendakinya lagi sebagai kepala negara. Tetapi kemudian Menpen Alwi Dahlan “mengoreksi” berita itu. Menpen menyatakan,

“Presiden tidak pernah mengatakan bersedia mengundurkan diri.”

“Presiden hanya mengatakan kalau rakyat tidak menghendakinya lagi sebagai Presiden, tidak apa-apa. Saya akan menjadi pandito, mendekatkan diri dengan Tuhan, membimbing anak cucu supaya menjadi orang baik, dst.” kata Menpen. Presiden menurut Menpenjuga mengatakan tidak akan mempertahankan kekuasaannya dengan mempergunakan senjata.

Jumat pagi 15 Mei Presiden tiba kembali di Jakarta, dan segera mengadakan pertemuan dengan pembantu-pembantu dekatnya untuk menerima laporan mengenai perkembangan selama beliau di luar negeri. Setia pada falsafah Jawanya yang berulang kali diterangkannya kepada masyarakat yaitu ‘Ojo kagetan, Ojo gumunan, Ojo dumeh, artinya jangan lekas terkejut, jangan lekasheran, jangan mentang-mentang’. Presiden segera mengambil langkah-langkah untuk menghadapi keadaan. Beliau memerintahkan, supaya diambil tindakan tegas terhadap para pengacau keamanan. Kepada wakil-wakil Universitas Indonesia yang menyampaikan usul-usul mengenai reformasi beliau menyampaikan pujiannya karena usul-usulnya ‘kongkrit dan disampaikan dengan cara yang konstitusional’. Dalam perkembangan yang sangat cepat yang menyusul kemudian itu umumnya dapat dikatakan, dari tiga unsur falsafah Jawa Presiden itu tinggal satu unsur, yaitu ‘Ojo dumeh’, yang sekarang tengah diuji? oleh kejadian-kejadian selanjutnya.

Menghadapi tuntutan yang semakin meluas supaya mengundurkan diri, Presiden mengumumkan maksud untuk mengadakan reshuffle kabinet. Mantan Menteri KLH Sarwono menganggap reshuffle itu sudah ketinggalan dan tidak memadai mengingat para mahasiswa menghendakinya mundur. Mantan Menteri Pertambangan Prof. Subroto menyebutnya siasat untuk mengalihkan perhatian dari tuntutan supaya Presiden mengundurkan diri.

Senin 18 Mei, Sore, Ketua DPR Harmoko menyampaikan kesepakatan pimpinan DPR agar Presiden Soeharto sebaik-baiknya secara arif dan bijaksana mengundurkan diri. Sesuai dengan tata cara DPR, Selasa pagi pimpinan DPR akan mengadakan rapat dengan pimpinan fraksi-fraksi dan hasilnya akan disampaikan kepada Presiden Soeharto.

Tetapi sekitar pukul 20.00 Selasa malam itu Menhankam/Pangab Jen. Wiranto mengumumkan, pimpinan DPR yang diumumkan oleh Harmoko itu ‘merupakan pendapat pribadi walaupun disampaikan secara kolektif’. ABRI berpendapat, tanggungjawab Presiden ialah mengadakan reshuffle kabinet reformasi menyeluruh untuk mengatasi krisis agar reformasi berjalan baik, ABRI mengusulkan pembentukan Dewan Reformasi yang beranggotakan unsur pemerintah, masyarakat terutama kalangan kampus dan unsur-unsur kritis.

Pagi berikutnya, pukul 10.15 Presiden mengadakan pertemuan dengan sembilan tokoh masyarakat, antara lain Ali Yafie, Gus Dur, Nurcholis Madjid, MH Ainun Nadjib, KH Baidowi danYusril Thza Mahendra untuk membicarakan bagaimana jalan keluar dari krisis. Sekitar pukul 11.00 Presiden mengumumkan hasil perumusan yang dicapai, Ia mengemukakan menurut UUD yang menggantikannya ialah Wapres Habibie ketika beliau mengundurkan diri. Tetapi kalau ini akan tetap memberi demonstrasi menentang, keadaan tidak mungkin stabil, bahkan mungkin terjadi perang saudara. Maka diputuskan beliau akan tetap memegang pemerintahan, namun akan dibentuk Komisi Reformasi yang terdiri dari tokoh kepercayaan masyarakat, terutama dari kalangan perguruan tinggi. Kabinet akan direshuffle menjadi Kabinet Reformasi, yang ‘secepatnya’ akan mempersiapkan UU Pemilu, UU antimonopoli, UU anti korupsi dll. Bapak menyatakan tidak akan bersedia dipilih lagi bila MPR yang akan dibentuk dengan cara itu. Sementara itu ABRI akan menjaga keamanan terhadap kegiatan­kegiatan yang ‘mendorong bertindak salah’.

Kompromi yang dirumuskan oleh Presiden itu diharapkan akan meredakan desakan agar Presiden mengundurkan diri sekarang. Sebaliknya berbagai masalah masih belwnjelas, misalnya siapa akan duduk dalam Komite Reformasi dan bagaimana cara pembentukannya? Apakah Komite Reformasi berhak mereshuffie? Dengan perkataan lain, apa jawaban bahwa badan-badan itu tidak akan dimasukkan lagi unsur-unsur KKN (kolusi, korupsi dan nepotisme)? Apa jaminan bahwa kompromi dengan tokoh-tokoh masyarakat tang dicatat Selasa pagi bukan siasat belaka untuk ‘mencuri waktu’? Karena itulah bahasa ‘Ojo dumeh’ (Jangan mentang-mentang) dari falsafah Jawa Presiden itu sekarang sedang diuji berat.

Ujian paling berat datang hari Rabu 20 Mei ini, pada waktu Hari Kebangkitan Nasional menurut rencana akan diperingati oleh para mahasiswa seluruh Indonesia. Bagaimana ABRI akan menghadapi. Apakah ABRI akan mengambil ‘tindakan tegas’ karena sudah mendapat legitimasi dengan adanya perumusan yang dicapai setelah pertemuan Presiden dengan pemuka-pemuka masyarakat Selasa Pagi, 19 Mei? Kalau demikian halnya kita kuatir kekacauan akan pecah lagi secara luas. Kita harap ABRI akan bertindak secara arif dan bijaksana, sesuai dengan semboyan yang disiarkan belakangan ini bahwa ‘ABRI adalah tentara rakyat’. Apalagi, Selasa sore maka rapat pimpinan dengan seluruh fraksi mencapai kesimpulan, pernyataan Harmoko Senin didukung oleh semua fraksi hingga menjadi pendirian DPR.

Jakarta 19 Mei

Sumber : BUSINESS NEWS (20/05/98)

_____________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 419-421.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.