OC SEA GAMES XIX HARUS MAMPU YAKINKAN MASYARAKAT

OC SEA GAMES XIX HARUS MAMPU YAKINKAN MASYARAKAT[1]

 

Jakarta, Antara

Tersendatnya pengumpulan dana untuk SEA Games XIX yang mengakibatkan tidak berjalannya sebagian program panitia dan pelatihan, harus segera diantisipasi oleh Panita Penyelenggara (OC) SEA Games, dengan kata lain OC harus mampu menyakinkan masyarakat.

Imbauan itu diungkapkan oleh anggota Komisi IX DPR-RI, Dr H. Bisri dalam rapat kerja dengan Ketua Umum KONI Pusat Wismoyo Arismunandar di Gedung DPR-RI, Senayan , Jakarta, Rabu , yang dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi IX, H. Sukowaluyo.

“Pihak KONI Pusat dan OC SEA Games harus mampu meyakinkan masyarakat sehingga mereka percaya, menyelenggarakan pesta olahraga SEA Games dan merebut gelar juara umum itu adalah tugas berat yang harus dipikul bersama oleh seluruh masyarakat,” kata H. Bisri.

Senada dengan H. Bisri, anggota Komisi IX lainnya, Hadi Mulyo juga menyampaikan keprihatinannya, karena dia menangkap kesan, masyarakat tidak peduli terhadap langkah yang diambil oleh OC SEA Games.

“Contohnya penggalangan dana stiker yang kurang mendapat sambutan masyarakat,” kata Hadi Mulyo.

Hadi Mulyo menyatakan, mungkin saja hal itu karena ketidaksiapan pihak OC SEA Games dalam mempersiapkan dan mengkampanyekannya.

“Permasalahannya mungkin pada bagaimana kita melakukan kampanye dan menjelaskannya kepada masyarakat serta bagaimana sebaiknya langkah kita dalam meminta dukungan rakyat dan bagaimana membuat rakyat percaya terhadap langkah yang kita jalankan,” kata Hadi Mulyo.

Hadi Mulyo bahkan menyatakan keyakinannya, jika panitia SEA Games mampu membangkitkan kepercayaan rakyat, tidak akan ada satupun dari rakyat Indonesia yang berjumlah 200 juta keberatan untuk memberikan dukungan apapun.

“Apalagi dukungan dan sumbangan untuk membela kehormatan bangsa,” katanya.

“Saya yakin seluruh anggota Komisi IX akan mendukung Pak Wismoyo dalam melaksanakan perintah Bapak Presiden untuk meraih dua sukses di SEA Games, masalahnya adalah bagaimana menumbuhkan kepercayaan rakyat dan memotivasinya agar berpartisipasi,” tambah Hadi Mulyo.

Dr H. Bisri mengaku sangat prihatin dan tersentuh dengan kondisi mengkhawatirkan yang dialami pihak OC SEA Games.

“Pak Wismoyo telah menggambarkan bagaimana sulitnya menggalang dukungan masyarakat dan kami sangat tersentuh. Karena dana tidak ada, dan sistem yang macet dan ini harus segera diantisipasi dengan menggerakkan sistem yang lain sehingga tugas bangsa dan negara dapat dilaksanakan,” tegasnya.

“Kita semua harus bergerak untuk mencari jalan ke luar sehingga panitia tidak terlantar, dan baru bekerja kalau ada uang. Saya takut jika dana tidak ada akan jadi tidak karuan SEA Games ini dan (penyelenggaraannya) menjadi tidak bermutu. Bagaimana mau juara umum dan sukses jika tak ada uang,” kata H. Bisri.

Bisri kemudian mengemukakan jalan ke luarnya yaitu panitia untuk sementara berutang kepada pihak tertentu dan akan dikembalikan pada saatnya.

“Jangan sampai OC SEA Games terkena semboyan “hidup segan mati tak mau”,” katanya.

Dua anggota dewan lain juga berbicara senada, yaitu Agustadi SP dan M. Fikri, agar Wismoyo sebagai Ketua Umum KONI Pusat dan Ketua OC SEA Games segera melakukan antisipasi untuk menggugah rakyat, misalnya mengoptimalkan enam saluran TV dan seluruh media cetak.

“Pimpinan OC SEA Games harus menggugah sikap mental bangsa Indonesia, karena seperti yang telah diungkapkan oleh Pak Wismoyo, tugas berat dwi-sukses SEA Games adalah tugas seluruh bangsa,” kata M. Fikri.

Wismoyo Minta Maaf

Pacta kesempatan rapat kerja itu Ketua OC SEA Games/Ketua KONI Pusat, Wismoyo Arismunandar menyampaikan permohonan maaf atas segala keteledoran yang telah dilakukan pihak OC SEA Games dan seluruh jajarannya.

Mantan KASAD itu mengakui, pihaknya telah melakukan beberapa ketelodoran dan langkah salah pada saat memulai pekerjaan mengemban tugas melaksanakan penyelenggaraan SEA Games.

“Dulu begitu gampangnya saya menyebut jumlah Rp 70 milyar, masing-masing Rp 35 milyar untuk dana Pelatnas dan penyelenggaraan, padahal kami belum merincinya dengan benar, dan itu keteledoran dari kami, saya sungguh minta maaf untuk hal ini,” katanya.

Dikemukakan, Presiden Soeharto juga heran dan bertanya, mengapa dana menjadi membengkak menjadi Rp 105 milyar.

“Itu sungguh kebodohan kami, karena setelah dirinci kok banyak sekali uang yang harus dikeluarkan,” kata Wismoyo.

“Sebelumnya kami beranggapan kompleks Senayan sudah siap, ternyata ada yang harus diperbaiki dan ada yang harus dibangun total. Bahkan meski milik sendiri, kami harus tetap membayar semua fasilitas olahraga untuk latihan atlet kami, dan itu besar sekali,” kata Wismoyo.

Mengenai heboh stiker SEA Games, Wismoyo secara jujur juga mengakui, sebagian besar karena kesalahan dia dan seluruh jajarannya dalam menyiapkan strategi.

“Stiker adalah cara paling efektif dan cepat untuk mengumpulkan dana, namun kami telah salah sejak awal, terutama karena tidak mengkondisikan dan memberikan penjelasan dulu kepada masyarakat luas. Bahkan terbukti dalam operasionalnya pun, saya akui, banyak terjadi penyimpangan,” kata Wismoyo.

Penggalangan dana melalui stiker dari tiga departemen, kata Wismoyo, semula ditargetkan akan diraih sekitar Rp80 milyar, namun hingga tiga bulan lagi menjelang SEA Games baru terkumpul Rp 2,9 milyar.

Rincian target semula dari tiga departemen itu adalah Departemen Pertambangan (Rp 30 milyar) antara lain dari PLN, Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi (Rp 30 miliyar) pulsa telepon dan Departemen Perhubungan (Rp 20 milyar) -antara lain dari angkutan umum.

Secara khusus, Wismoyo juga menyampaikan permintaan maaf kepada anggota dewan, K. H. Abdul Sirak, yang mengaku baru membayar listrik dan dipungut “sumbangan-wajib” oleh PLN.

“Masalahnya adalah saya tidak memperoleh stiker sebagai tanda bukti, seperti pacta penjualan stiker PON XIV lalu,” kata K.H. Abdul Sirak.

“Saya minta maaf. Dulu pakai stiker ‘geger’ jadi pembicaraan banyak pihak, tidak memakai stiker semakin ‘geger’, ya sudah untuk selanjutnya kami akan menggunakan stiker, dan jangan lupa stiker itu akan diundi dan hadiahnya, misalnya mobil dan barang lainnya,” kata Wismoyo.

Pacta kesempatan itu Wismoyo juga meminta dukungan politis dari para wakil rakyat yang duduk di Komisi IX-Komisi DPR-RI yang antara lain membidangi olahraga.

“Dengan kondisi saat ini kami seluruh jajaran OC SEA Games meminta dukungan politik dari para wakil rakyat dan anggota dewan yang terhormat, terutama untuk membentuk mental sikap bangsa, yaitu dengan memberikan ‘image’ dan kondisi yang kondusif bagi masyarakat dan khususnya bagi para atlet,” katanya.

Dukung Penuh

Dalam kesimpulannya, pimpinan sidang H.Sukowaluyo menyatakan, Dewan Perwakilan Rakyat sangat memahami misi OC SEA Games dan KONI Pusat untuk mengangkat kehormatan bangsa dengan meraih dua sukses SEA Games, yaitu penyelenggaraan dan gelar juara umum.

“Sehingga seluruh rakyat memiliki hak, kewajiban dan tanggung jawab yang sama untuk ikut serta dan terlibat dalam memperjuangkan harkat martabat dan kehormatan bangsa,” kata Sukowaluyo .

H.Sukowaluyo juga menyatakan, seluruh anggota dewan mendukung sepenuhnya langkah dan kegiatan yang akan ditempuh pihak KONI Pu sat dan OC SEA Games, termasuk melakukan penggalangan dana melalui stiker dari masyarakat.

“Anggota dewan yang terhormat juga menyatakan rasa prihatin yang dalam terhadap kurangnya perhatian dari kalangan swasta nasional terhadap pembinaan olahraga nasional,” kata H. Sukowaluyo.

(T.OK08/ 2/07/97 14:57/0K05/SU01)

Sumber: ANTARA (15/07/1997)

______________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 577-580.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.