NURCHOLISH BANTAH ‘FEER’ DAN KOMPAS

NURCHOLISH BANTAH ‘FEER’ DAN KOMPAS[1]

 

Jakarta, Kompas

Dr. Nurcholish Madjid menyampaikan penjelasan sepanjang tiga halaman berjudul ‘Majalah FEER Salah Besar’, menanggapi sebuah alinea dalam tulisan di rubrik ini, berjudul ‘Majalah FEER Tentang bangkitnya Sebuah Negara’ edisi tanggal 30 Mei 1998 di halaman 12.

Kutipan yang dimaksud berbunyi :

“Ketika para pemimpin agama/masyarakat menghadap, mereka sudah menyiapkan pernyataan bahwa Presiden sebaiknya mundur dan menyerahkan hartanya kepada rakyat. Tapi begitu berhadapan, tidak ada yang berani.”

“Saya tidak memiliki keberanian untuk memintanya mundur waktu itu,” kata Nurcholish Madjid, salah satu pemimpin yang diundang bertemu Presiden selama dua jam tanggal 19 Mei itu. Setelah itu Presiden mengumumkan tentang komite reformasi dan lain-lain itu.”

Menurut Nurcholish kesalahan FEER yang dikutip Kompas adalah tentang pertemuan sembilan tokoh masyarakat/agama dengan Presiden Soeharto, 19 Mei.

“Kami bersembilan tidak datang ke Pak Harto untuk menghadap tetapi memenuhi undangan. Orang yang mengerti kultur ulama akan tahu bahwa ada perbedaan amat mendasar antara ‘datang menghadap’ dan ‘memenuhi undangan,” tulis Nurcholish.

Menurut Nurcholish sembilan tokoh itu tidak membawa konsep tertulis, cuma ada kesepakatan lisan antara ia sendiri, Malik Fadjar, KH Kholil Baidhowi, Sutrisno Mahdam dan Yusril Ihza Mahendra. Kesepakatan ini isinya akan memulai pembicaraan dengan Pak Harto berdasarkan perkembangan situasi polilik di Tanah Air dalam hitungan detik.

“Dan pada detik terakhir perkembangan itu rakyat memahami reformasi tidak lain dan tidak bukan daripada Pak Harto lengser keprabon sekarang juga. Sesampai di Istana, kesepakatan itu saya briefingkan kepada anggota ‘Rombongan Sembilan’ yang sudah datang lebih dulu dan menunggu di sebuah ruangan,” tulis Nurcholish.

“Dalam pertemuan dengan Pak Harto, setelah selesai beliau memberi pengantar dan membaca naskah yang sudah disiapkan, saya meminta mikrofon dari tangan beliau dan saya sampaikan apa yang telah menjadi kesepakatan kami tersebut, yaitu bahwa sebagian besar rakyat memahami reformasi tidak kurang daripada Pak Harto lengser keprabon atau tanazul hari itu juga.” lanjutnya.

“Karena itu ada diantara anggota rombongan kami yang tidak urung terkejut juga, dan mengatakan, ‘Mengapa Saudara Nurcholish menjatuhkan sebuah palu godam kepada Pak Harto’. Ia berkata begitu dengan nada santai, dan ia sendiri mendukung. Persoalan lengser keprabon atau tanazul itu kemudian diperkuat oleh semua yang hadir, termasuk Prof. KH Ali Yafie,” tulis Nurcholish lagi.

Semula, menurut Nurholish, perbincangan yang dijadwalkan setengah jam menjadi 2,5 jam, bukan dua jam seperti kata FEER.

“Dari kenyataan ini saja, mestinya wartawan FEER sudah dapat mempunyai gambaran tentang betapa seriusnya kami berdialog dengan Pak Harto. Dialog itu melibatkan pembicaraan tentang berbagai masalah, termasuk koreksi redaksional atas teks pernyataan tertulis Pak Harto yang sudah disiapkan. Sebagian besar koreksi redaksional itu dibuat oleh Saudara Yusril, yang ia tulis sendiri atau ia diktekan kepada Pak Harto,” lanjut Nurcholish.

“Maka Pak Harto jadinya harus membaca teks pernyataan itu pada selembar kertas yang penuh koreksian tulisan tangan, baik oleh beliau sendiri maupun oleh Saudara Yusril, dan Pak Harto sedikit mengalami kesulitan membacanya,” tulis Nurcholish.

“Mungkin wartawan FEER membuat kesalahan penting itu karena bahasa Inggris saya tidak sempurna sehingga menimbulkan salah paham atau salah tangkap. Saya memang sering menegaskan kepada siapa saja, khususnya kalangan pers, bahwa saya tidak berani menyampaikan kepada Pak Harto agar beliau dan keluarga menyerahkan harta kekayaan kepada negara, salah satu pokok pikiran khusnul khatimah yang saya buat bersama teman-teman.” tulisnya.

“Saya merasa bahwa semua itu saya gambarkan kepada wartawan FEER dalam wawancara. Tetapi mengapa wartawan itu tidak memiliki naluri jurnalistik yang cukup tajam sehingga langsung dapat merasakan adanya hal yang aneh dalam salah tangkapnya itu, mengingat hal itu akan menghasilkan pemberitaan yang berbeda atau malah bertentangan dengan berita yang sudah diketahui umum. Atau kah harian Kompas yang salah kutip, atau salah terjemah?” tulis Nurcholish.

Sumber : KOMPAS (01/06/1998)

_________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 643-645.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.