NU CALONKAN PAK HARTO KEMBALI

FOKUS DALAM NEGERI SEPEKAN :

NU CALONKAN PAK HARTO KEMBALI

PERISTIWA-peristiwa politik pekan ini sebenarnya banyak yang menarik. Dimulai dengan penggantian 3 Kepala Staf ABRI yaitu KSAL, KSAU, dan Kapolri dan Kaskopkamtib Jenderal Wijoyo Soeyono, kemudian bertebaran berita-berita yang lain, misalnya komentar beberapa anggauta DPR tentang keterangan-keterangan pejabat pemerintah yang berbeda tentang kenaikan BBM dan berita-berita lain tentang Sidang Umum MPR yang akan datang.

Meskipun sementara masyarakat ada yang terkejut dengan penggantian beberapa pejabat militer di atas, namun pendapat umurn mengatakan bahwa semua itu telah berjalan lancar dan tidak ada hal-hal yang istimewa.

Juga adanya perbedaan pendapat di kalangan pejabat Pernerintah tentang BBM kita anggap tidak ada yang istimewa. Kenyataannya masalah tersebut tidak banyak, berpengaruh dan masyarakat justru semakin siap BBM.

Ini sekadar mengambil "hikmah" nya dan keterangan yang berbeda-beda itu. Dan ini benar-benar suatu bukti bahwa menjelang sidang umum MPR, keadaan adalah cukup terkendali meskipun harus tetap berhati-hati.

Namun, di antara sekian berita yang menarik, terselip adanya berita bahwa NU mencalonkan kembali Pak Harto sebagai Presiden.

Berita ini pada hemat kita pantas menjadi perhatian kita, mengapa Surat kabar Pelita agak tertinggal memberitakan pencalonan Pak Harto tersebut, dibanding SK Kompas, Merdeka dsb. yang telah memberitakan sehari sebelumnya.

Konon sebabnya adalah, bahwa Pelita tidak menerima "realase" dari PBNU. Namun, kemudian Pelita dapat mengejar dengan pemberitaan yang lebih mendalam dengan interview lewat telepon dengan KH. Masjkur.

"Memang sudah saatnya" demikian KH Masjkur, Rais II PB-Syuriah menjawab pertanyaan "Pelita" tentang instruksi PBNU kepada warga Jam’ iyah NU yang berada di MPR untuk memilih Jend. (Purn.) Soeharto sebagai Presiden/Mandataris MPR periode 1983-1988.

K.H. Masjkur mengungkapkan bahwa berdasarkan Munas Alim Ulama NU di Kaliurang tahun 1981, PBNU diberi amanat agar pada saatnya NUdapat mencalonkan kembali Pak Harto sebagai Presiden dengan cara-cara yang konstitusional.

"Banyak keinginan Pak Harto yang membesarkan hati para ulama. Misalnya kehendak untuk menghimpun dana yang besar untuk membangun masjid, madrasah dan pengembangan Islam lainnya," ujarnya lewat telepon.

Karena perkembangan itu, maka para ulama berpendapat bahwa Pak Harto harus melanjutkan kepemimpinannya.

”Karena itulah, maka kami keluarkan. instruksi untuk warga NU yang ada di Lembaga tertinggi negara itu untuk memilih kembali Pak Harto," katanya.

Dari segi berita pernyataan dukungan NU tsb. sebenarnya sangat terlambat. Tentunya pada ulama NU mempunyai pertimbangan yang tersendiri. Dan memang itu adalah hak NU. Namun yang ingin kita catat adalah, bahwa dukungan tsb. masih tetap mempunyai bobot dengan berbagai alasan. NU sebagai kekuatan politik, adalah salah satu pemenang 4 (empat) besar dalam pemilu 1954, bersama PNI, Masjumi dan PKI.

Selama bertahun-tahun setelah itu, peranan NU cukup besar. Beberapa jabatan penting dalam pemerintahan pernah di pegang oleh tokoh-tokoh NU.

Dibanding dengan kontestan Pemilu 1955 yang lain, NU tetapi bertahan sampai dewasa ini dengan relatif masih paling utuh. Masjumi dibubarkan pada tahun 1960 sedangkan PKI dan PNI kemudian berantakan setelah tahun 1965. Ini menunjukkan, senang atau tidak senang, bahwa NU mempunyai ketajaman politik yang tersendiri dan secara obyektif adalah paling malang.

Hal ini juga terlepas dari penilaian-penilaian yang sering negatif, entah itu predikat tradisional, kolot, ortodok, atau pun partai teklek dan lain sebagainya.

Karena itu kita menilai, bahwa pernyataan dukungan NU bagi Pak Harto tsb. tentunya setelah melalui pengkajian yang cermat, termasuk dari segi waktu/ketetapannya, pemilihan kata-kata yang digunakan dan lain sebagainya. Dan karena dukungan ini keluar dari para Ulama, tentunya juga diberikan secara iklas tanpa pamrih.

Semuanya itu mengesankan, bahwa menghadapi Sidang Umum MPR insyaAllah, semuanya akan berjalan lancar. Dan khusus mengenai pencalonan Pak Harto kembali, ibaratnya seperti dikatakan oleh Pak Amirmacmud tinggal mengetuk palu saja

Tentunya, Pak Amir Machmud tidak bermaksud takabur. Tetapi kita pun juga tahu bahwa begitulah ”bahasa” Pak Amir Machmud.

Selanjutnya gagasan mengenai asas tunggal muncul kembali. Secara bersamaan, berita ini keluar dari Mendagri ad interim Soedharmono SH dan Ketua DPR/MPR Amir Machmud. Yang menarik adalah teori dibelakang kerawanan di bidang politik dan tidak berarti hendak menyudutkan suatu agama.

Meskipun tidak secara eksplisit dijelaskan, masyarakat akan cukup arief, bahwa yang dimaksudkan adalah agama Islam. Untuk ini, secara eksplisit, sebagaimana sering disampaikan oleh menteri Agama yaitu jangan mempertentangkan agama (Islam) dengan Pancasila.

Mengenai asas tunggal itu sendiri, nampaknya memang sudah tidak banyak persoalan, unsur-unsur dalam P3 sendiri, baik NU, Ml, SI maupun Perti sudah mengeluarkan sikapnya. Apabila kita juga hendak meminjam istilah pak Amir Machmud maka masalah ini pun juga tinggal mengetuk palu.

Yang perlu kita catat adalah, justru setelah asas tunggul nanti. Kita yakin bahwa asas tunggul akan mengurangi kerawanan politik dan tidak menyudutkan suatu agama. Namun kerawanan politik itu pada dasarnya akan tergantung dari pelaku-pelaku politik yang ada.

Sedangkan mengenai jaminan kehidupan beragama, kita memang gembira dengan jaminan Pak Harto, bahwa organisasi-organisasi keagamaan akan tetap memperoleh tempat yang subur. Bahkan, Pak Harto sendiri telah berkenan menjadi Ketua Yayasan Amal Bhakti Muslimin Pancasila.

Perubahan-perubahan itu akan sangat mendasar, dan justru itulah memerlukan semangat toleransi semua fihak agar benar-benar perubahan ini adalah untuk kepentingan Nasional. (RA)

Jakarta, Pelita

Sumber : PELITA (14/12/1982)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 963-965.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.