NTB BERHASIL LAKUKAN TEROBOSAN BIDANG KESEHATAN DAN PERTANIAN

NTB BERHASIL LAKUKAN TEROBOSAN BIDANG KESEHATAN DAN PERTANIAN

Jakarta, Angkatan Bersenjata

Presiden Soeharto mengatakan pembangunan laboratorium Hepatika di Bumi Gora NTB mempunyai arti istimewa dan membanggakan hati, sebab pembangunan laboratorium itu menunjukkan keberhasilan terobosan teknologi bidang kesehatan yang justru terjadi di Mataram, kota yang jatuh  dari berbagai pusat ilmu pengetahuan dan langkanya fasilitas ilmiah.

“Ini membuktikan bahwa kita mempunyai kemampuan untuk mengembangkan kewiraswastaan, profesionalisme, penguasaan teknologi dan pengelolaan sarana yang terbatas secara efisien. Sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang berguna bagi pembangunan kesehatan”, tambah Presiden.

Kepala Negara mengemukakan itu Kamis ketika meresmikan Laboratorium Hepatika di Bumi Gora NTB. Sebelumnya Presiden dan lbu Tien Soeharto melakukan panen raya bawang putih di Desa Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, NTB. Ibu Umar Wirahadikusumah, sejumlah Menteri dan Gubernur Gatot Suherman hadir dalam kegiatan tersebut.

Laboratorium hepatika ini mengembangkan berbagai kegiatan, dalam menanggulangi penyakit hati, yaitu suatu penyakit yang jika tidak kita tanggulangi dari awal akan dapat mengganggu tingkat kesehatan masyarakat. Laboratorium ini memproduksi bahan tes darah dengan teknologi yang dikembangkan sendiri, sehingga harganya dapat murah.

Presiden Soeharto menyampaikan kegembiraannya mengetahui bahwa harga bahan yang diproduksi oleh laboratorium ini jauh lebih murah dibandingkan dengan harga impor beberapa kali lipat.

Selain itu kapasitas produksinya pun melebihi kebutuhan dalam negeri. Ini menunjukkan selain kita mampu menghemat devisa, kita pun bisa menambah devisa karena mengekspor.

Semua ini menunjukkan adanya kemajuan penting yang kita capai dalam pembangunan kesehatan kita, yang sekaligus membuka harapan baru di masa datang. Keberhasilan pembangunan laboratorium ini menambah kepercayaan ahli kesehatan dan masyarakat kita untuk menggunakan produksi dalam negeri, dengan berbagai terobosan teknologi kesehatan.

Pembangunan laboratorium, hepatika ini juga membuktikan secara nyata partisipasi masyarakat dalam pembangunan kesehatan, mengingat laboratorium ini diprakarsai dan dikelola oleh sepenuhnya yang Yayasan Mari Sehat.

Diingatkan Presiden Soeharto pembangunan memerlukan partisipasi masyarakat yang harus kita kembangkan terus. Karena pembangunan itu hanya akan berhasil jika partisipasi masyarakat dapat dikembangkan seluas-luasnya.

Gubernur Nusa Tenggara Barat, H. Gatot Soeherman mengatakan dasar pemikiran untuk mendirikan laboratorium hepatitis adalah karena Nusa Tenggara Barat termasuk daerah di mana prevalensi Virus Hepatitis B tergolong tinggi.

Infeksi hepatitis B didaerah ini diidap oleh lebih 10 % bahkan ada yang mencapai 20%. Dijelaskan masyarakat Nusa Tengara Barat masih miskin dan kehidupannya tidak menggembirakan.

Dulu termasuk daerah rawan pangan. Tingkat kematian bayi tertinggi di Indonesia yaitu 225/1.000 jiwa. Usia harapan hidup dulu 39 tahun, tetapi 1986 menjadi 52 tahun. ltulah dasar pemikiran yang mendorong NTB rnembangun laboratorium hepatitis tadi dengan dimotori dokter-dokter muda yang tergabung dalam Kelompok Peneliti Hepatitis B.

Menurul Gatot Socherman hambatan yang dihadapi adalah mahalnya harga Reagensia (bahan untuk pemeriksaan hepatitis), namun kemudian tahun 1982 dapat dibuat sendiri. Sekarang, kata Gubernur Reagensia yang dihasilkan laboratorium hepatitis NTB ini telah digunakan secara rutin oleh Dinas-dinas transfusi darah PMl Surabaya, Jakarta, Bandung dan semarang.

Diharapkan Dinas Transfusi Darah dari daerah lainnya menggunakan Reagensia buatan NTB ini karena harganya yang rendah. Laboratorium ini mampu menghasilkan 5 juta tes Reagensia setiap tahun, sedangkan kebutuhan dalam negeri 1,5 juta tes.

Dalam pembangunan laboratorium ini menurut Gubernur, telah memperoleh sumbangan dari Presiden Soeharto berupa peralatan LYOPHILIZER seharga Rp 125 juta, dan beberapa peralatan lainnya seharga Rp 30 juta dari Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Ibu Umar Wirahadikusumah.

Panen Bawang Putih

Presiden Soeharto menilai Propinsi NTB berhasil dalam melakukan berbagai langkah terobosan. Selain bidang kesehatan, juga NTB berhasil dalam bidang pertanian.

Untuk itu Presiden menunjuk dilakukannya panen raya bawang putih di Desa Sembalun, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur. Bagi masyarakat daerah ini, hasil tanaman bawang putih jelas berarti bertambah luasnya kesempatan untuk penganekaragaman tanaman dan meningkatkan penghasilan petani.

Bagi pembangunan kita umumnya hasil bawang putih berarti main tercukupinya kebutuhan bawang putih dalam negeri yang selama ini masih impor.

Jika tanaman ini terus dikembangkan maka makin kecil pula impor kita untuk akhirnya kita penuhi sendiri. Dengan demikian devisa yang sangat kita butuhkan bisa digunakan untuk mengimpor barang lain yang kita perlukan untuk makin menggerakkan pembangunan.

Presiden percaya masyarakat NTB tidak akan lekas berpuas diri atas segala kemajuan yang dicapai ini. Sebagai bangsa pun kita tidak akan lekas berpuas diri meski telah banyak hasil pembangunan yang kita capai.

Keberhasilan selama ini baru pada tahap-tahap awal. Harus disadari bahwa pembangunan memerlukan kerja keras dan semangat tak kunjung padam.

NTB yang dulu terkenal dengan daerah rawan pangan, kini berhasil mengirim beras ke berbagai daerah lain. Ini, menurut Presiden merupakan titik balik yang sangat besar artinya.

Demikian pula hasil bawang putih di sini merupakan hal yang berarti. Desa Sembalun yang merupakan lokasi panen raya bawang putih tersebut mempunyai ketinggian 1.150 sampai 1.200 meter di atas permukaan, dan mempunyai area tanaman sawah irigasi seluas 640 ha dan sawah tegalan 274 ha.

Hasil bawang putihnya mencapai, untuk tanah sawah dengan pengairan sistem irigasi, rata-rata mencapai 30 ton umbi basah per Ha setiap tahun. Sedangkan sawah tegalan menghasilkan 7 sampai 10 ton umbi basah per Ha setiap tahun dengan bibit yang ditanam jenis sangga atau lokal.

Dari hasil bawang putih itu masyarakat Sembalun setiap tahun mendapat keuntungan rata-rata Rp 5 sampai Rp 7 juta per Ha. Gubernur Gatot Soeherman mengatakan daerah Sembalun terdiri dari dua desa yaitu desa Sembalun Bumbung dan Sembalun Lawang, dihuni 1.854 KK atau 8.379 jiwa.

Daera ini baru 4 tahun yang lalu dapat dijangkau oleh kendaraan roda empat, sebelumnya sarana angkutan penduduk adalab kuda beban dan mereka harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak. Sekarang ini Sembalun dapat dicapai dengan kendaraan roda empat selama 3 jam dari kota Mataram.

Daerah ini belakangan ini berhasil jadi daerah penghasil bawang putih dengan produksi perhektarnya 20-30 ton. Jenis yang ditanam ialah bawang putih jenis unggul varitas lokal Sangga dan lumbu hijau.

Potensi lahan sawah yang cocok ditanami bawang putih menurut Gubernur seluruh NTB 5.000 ha, namun belum seluruhnya ditanami bawang putih, baru 2.368.

Temu Wicara

Sementara itu dalam temu wicara dengan para petani bawang putih di Sembalun, Kamis pagi Presiden mengatakan bahwa pembangunan yang dilaksanakan selama ini juga menjangkau desa-desa terpencil seperti di Sembalun ini.

Dengan peningkatan pembangunan di bidang pertanian misalnya maka para petani bawang putih di Sembalun dapat meningkatkan hasil produksinya hampir tujuh kali lipat yakni dari 5 ton per hektar menjadi 30 sampai 35 ton per hektar.

Presiden juga mengharapkan agar keberhasilan di bidang pertanian dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. Untuk itu hasil produksi pertanian ini agar dapat dipasarkan dengan harga yang wajar.

Presiden menilai harga yang berlaku di Sembalun saat ini yakni sekitar Rp 1.500 per kilogram masih terlalu rendah bila dibandingkan dengan harga eceran yang mencapai Rp 4.000 sampai Rp 5.000 per kilogramnya.

Padahal menurut Presiden harga wajar adalab Rp 2.000 sampai Rp 2.500 per kilogram. Dalam kaitan ini Presiden mengbarapkan agar KUD dapat lebih berperan untuk ikut memasarkan hasil produksi bawang putih ini sehingga para petani memperoleh harga yang baik dan wajar atas hasil jerih payah mereka.

Sebubungan dengan ini menurut Presiden harus ada kerjasama yang baik antara petani produsen, pedagang atau pengusaba penjual jasa dan masyarakat konsumen.

Di satu pihak petani memperoleh harga yang wajar atas hasil produksinya, para pengusaha juga keuntungan yang layak dan pihak konsumen tidak membayar dengan harga yang terlalu mahal.

Tentang pemasaran bawang putih ini masih terbuka luas karena dari kebutuban di dalam negeri sebanyak 75.000 ton per tabun baru dipenuhi sekitar 64.000 ton per tahun sehingga masih impor sekitar 11.000 ton.

Presiden mengharapkan agar kebutuhan bawang putih di dalam negeri ini bisa dipenuhi seluruhnya dari hasil pertanian bawang putih di berbagai daerah, termasuk dari Sembalun ini.

Presiden juga mengharapkan agar para petani terus meningkatkan kegotongroyongan sehingga dapat lebih meningkatkan hasil pertanian mereka.

Selain itu senantiasa menjaga kelestarian lingkungan khususnya lereng-lereng bukit yang merupakan sumber air yang sangat penting bagi pertanian. Pada kesempatan itu Presiden menyerahkan sumbangan seperangkat alat-alat pertanian kepada petani bawang putih di desa tersebut.

Sumber : ANGKATAN BERSENJATA (16/10/1987)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 710-714

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.