NILAI PROYEK PMA TURUN, TAPI JUMLAH USAHANYA BERTAMBAH

NILAI PROYEK PMA TURUN, TAPI JUMLAH USAHANYA BERTAMBAH[1]

 

Jakarta, Antara

Proyek PMA yang disetujui pemerintah tanggal 1 Januari-15 Desember 1996 jumlahnya 959 buah, lebih tinggi dibanding sepanjang tahun 95 yang sebanyak 799 buah, namun nilai tahun ini hanya 29,9 miliar dolar AS dibanding tahun 95 yang 39,9 miliar dolar AS.

Masalah ini dikemukakan Meninvest/Ketua BKPM Sanyoto Satrowardojo kepada pers setelah melaporkan masalah PMA dan PMDN kepada Presiden Soeharto di Bina Graha, Rabu.

“Proyek-proyek PMA tahun 95 nilainya tinggi sekali karena ada delapan mega proyek.” kata Sanyoto tanpa memperinci proyek-proyek besar itu.

Ia mengatakan jumlah proyek tahun ini yang lebih besar dibanding tahun’95 adalah karena pada tahun ini yang banyak dibangun adalah proyek berskala kecil dan menengah serta relokasi pabrik dari Korsel, Jepang dan Taiwan yang berukuran menengah.

Khusus mengenai proyek yang menggunakan fasilitas PMDN, Sanyoto mengatakan selama 11,5 bulan tahun ini mencapai 810 buah yang nilainya Rp 100,7 triliun.

“Untuk pertama kalinya lah nilai PMDN dalam satu tahun di atas Rp 100 triliun. Sebagai perbandingan uang yang beredar hanyalah Rp 60 triliun.” kata Sanyoto.

Sekalipun jumlah proyek PMDN dan PMA yang disetujui pemerintah cukup banyak, realisasinya ternyata hanya berkisar antara 40 hingga 50 persen. Ia memberi contoh pemerintah sudah menyetujui pembangunan 12 penghilangan minyak mentah tapi sampai sekarang belum ada satu pun yang dibangun.

Ketika memberikan gambaran tentang investasi selama tiga tahun pertama Repelita VI (mulai tahun anggaran 1994/95 hingga tahun anggaran berjalan 96/97 ini, red) Sanyoto mengatakan PMDN telah mencapai Rp 207 triliun dan PMA 94,3 miliar dolar AS.

Angka ini jauh di atas realisasi selama Pelita V yaitu PMA 44,1 miliar dolar AS dan PMDN Rp 200 triliun.

Penanam modal terbesar dari luar negeri selama hampir 29 tahun ini adalah Jepang dengan 919 proyek bernilai 34,6 miliar dolar AS, Inggris 217 proyek bernilai 30 miliar dolar AS, serta Hongkong 358 proyek dengan nilai 18,6 miliar dolar AS.

Kepada Kepala Negara, dilaporkan bahwa investasi anggota ASEAN disini mencapai 20,5 persen dari total PMA sedangkan anggota APEC menanamkan modal 59,8 persen dari total modal asing itu.

Urutan atau peringkat penanam modal dari ASEAN itu adalah Singapura 14,8 miliar dolar AS, Malaysia 3,9 miliar dolar AS, Thailand 2,3 miliar dolar AS, Filipina 439 juta dolar dan Brunei Darussalam 178 juta dolar.

Sumber : ANTARA (15/12/1996)

________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 547-548.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.