NILAI EKSPOR NON MIGAS 1996/1997 DIPERKIRAKAN NAIK 19,5 PERSEN

NILAI EKSPOR NON MIGAS 1996/1997 DIPERKIRAKAN NAIK 19,5 PERSEN[1]

 

Jakarta, Antara

Nilai ekspor produk-produk non migas dalam tahun 1996/1997 diperkirakan mencapai 44,224 miliar dolar AS yang merupakan peningkatan sebesar 19,5 persen dibanding realisasi nilai ekspor dalam tahun 1995/1996.

Lampiran pidato Presiden Soeharto pada sidang paripurna DPR-Rl di Jakarta, Kamis, menyebutkan, peningkatan perkiraan nilai ekspor itu didasarkan atas asumsi­-asumsi seperti dampak kerjasama regional ekonomi dan efisiensi perekonomian nasional.

Disepakatinya perjanjian perdagangan dan investasi yang bebas di kawasan Asia Pasifik (APEC) merupakan peluang Indonesia untuk meningkatkan pangsa pasar ekspor disamping dorongan dari semakin globalnya perdagangan dunia.

Pertumbuhan ekonomi dunia yang akan meningkat dalam tahun 1996 dikatakan Presiden sebagai alasan sikap optimistik Indonesia tentang peningkatan nilai ekspor itu.

Selain itu, di sektor perekonomian nasional, efisiensi yang tercipta melalui kebijakan deregulasi dan debirokratisasi yang terus disempurnakan dan dilakukan secara berkesinambungan akan dijadikan faktor pendorong realisasi perkiraan peningkatan nilai ekspor.

Untuk merealisasikan perkiraan itu, pemerintah akan konsekuen dengan kesepakatan perjanjian perdagangan bebas dunia (WTO) maupun di kawasan ASEAN (AFTA) dengan menurunkan secara bertahap bea masuk sejumlah postarif Sementara untuk menciptakan iklim berusaha yang efisien di dalam negeri, penyempurnaan berbagai kebijakan yang langsung berkenaan dengan proses kegiatan berusaha akan dilakukan seperti penghapusan pungutan-pungutan.

Tekstil dan produk tekstil (TPT) menjadi perhatian utama pemerintah dalam meningkatkan nilai ekspor karena komoditi yang selama ini menjadi primadona ekspor itu semakin melamban pertumbuhan nilai ekspornya.

“Penyempurnaan pengalokasian kuota ekspor TPT akan menjadi perhatian pemerintah dalam memperbaiki penampilan ekspornya.” kata Presiden dalam sidang yang dipimpin Ketua DPR-RI, Wahono.

Peranan ekspor non migas dinilai semakin besar dalam penerimaan pendapatan

negara melalui beberapa pajak yang diberlakukan dimana dalam tahun anggaran 1996/1997 pajak penghasilan sebesar Rp.23,708 triliun, pajak pertambahan nilai (Rp.21,788 triliun), cukai (Rp.4,033 triliun) dan pajak ekspor (Rp.160,1 miliar).

Jadi, nilai ekspor non migas yang pada tahun 1995/1996 sebesar 78,9 persen dari total ekspor nasional diharapkan dapat lebih meningkat.

Kebijakan yang hati-hati

Mengenai perdagangan luar negeri Indonesia, Presiden mengatakan, pemerintah sangat memperhitungkan dukungan yang kuat dari kebijakan ekonomi makro sehingga kebijakan tersebut harus dilakukan dengan hati-hati.

“Kebijakan ekonomi makro yang hati-hati itu ditujukan untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dari perdagangan dunia yang bebas.” kata Kepala Negara.

Dalam Repelita VI, strategi kebijakan perdagangan luar negeri sebenarnya diarahkan pada upaya peningkatan ekspor non migas melalui peningkatan daya saing komoditi ekspor.

Upaya peningkatan daya saing komoditi ekspor itu sendiri dilakukan melalui peningkatan struktur ekspor, perluasan negara tujuan ekspor, peningkatan informasi usaha, pengembangan sarana dan prasarana perdagangan, peningkatan fasilitas perkreditan ekspor serta peningkatan kemampuan dan peranan pengusaha kecil menengah.

Perkembangan investasi di dalam negeri dinilai akan sangat membantu realisasi peningkatan perkiraan nilai ekspor itu karena tersedianya investasi yang besar akan mendorong upaya menghasilkan produk-produk dalam jumlah besar dengan daya saing tinggi.

Itulah sebabnya, Presiden menekankan pentingnya sumber daya manusia berkualitas, teknologi tepat guna untuk menunjang tersedianya bahan baku dalam jumlah besar yang merupakan modal utama Indonesia dalam menarik investasi baik asing maupun domestic.

Sumber : ANTARA (30/01/1996)

______________________________________________________
[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 270-272.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.