NERACA JASA (NETO) 1996/1997 DIPERKIRAKAN DEFISIT 13.977 JUTA DOLAR AS

NERACA JASA (NETO) 1996/1997 DIPERKIRAKAN DEFISIT 13.977 JUTA DOLAR AS[1]

 

Jakarta, Antara

Neracajasa-jasa (neto) dalam tahun anggaran 1996/1997 diperkirakan masih akan mengalami defisit sebesar 13.977 juta dolar AS, yang terdiri dari deficit jasa-jasa migas sebesar 3.299 juta dolar AS dan defisit non migas sebesar 10.678 dolar AS.

Perkiraan defisit neraca jasa-jasa dalam tahun 1996/1997 tersebut mengalami peningkatan 5,6 persen dari defisit tahun anggaran sebelumnya sebesar 13.239 juta dolar AS, demikian menurut lampiran Pidato Presiden Soeharto saat menyampaikan Nota Keuangan dan RAPBN tahun anggaran 1997/1998 pada Sidang Paripurna DPR-RI di Jakarta, Senin.

Sementara itu, deficit jasa-jasa migas dan jasa-jasa non migas diperkirakan akan mengalami peningkatan masing-masing sebesar 1,9 persen dan 6,8 persen dari realisasi tahun anggaran sebelumnya sebesar 3.238 juta dolar AS dan 10.001 juta dolar AS.

“Meningkatnya defisit transak si berjalan dari tahun ke tahun sebagian terbesar merupakan akibat dari masih defisitnya neraca jasa-jasa (neto).” demikian ungkap lampiran tersebut.

Pemecahan masalah ini tidaklah mudah mengingat dalam banyak jenis usaha jasa­jasa, perusahaan yang bergerak di bidang jasa-jasa dari negara berkembang seperti Indonesia harus berhadapan dengan perusahaan sejenis dari negara industri yang sudah lebih canggih dan berpengalaman dalam segala aspek dan mendominasi pasar jasa Internasional.

Meskipun demikian, berbagai upaya untuk mengatasi defisit neraca jasa-jasa tersebut secara bertahap tems dilakukan, disesuaikan dengan potensi dan kemampuan.

Jenis jasa-jasa tertentu yang potensial dikembangkan dalam waktu dekat, seperti jasa pariwisata dan jasa tenaga kerja Indonesia (TKI) makin diintensifkan pengembangannya.

Pengembangan peran jasa pariwisata dalam perolehan devisa saat ini telah memasuki tahap yang strategis, yaitu dengan telah dicanangkannya sektor pari wisata sebagai primadona ekspor non migas mulai tahun 2005 (visi pariwisata tahun 2005). Visi tersebut diyakini akan mampu diwujudkan sejauh semua sektor terkait memberikan dukungan.

Promosi

Upaya peningkatan peran jasa pariwisata antara lain dilakukan melalui promosi, yaitu dengan diubahnya struktur badan promosi pariwisata Indonesia di luar negeri.

Upaya-upaya di atas diharapkan akan segera memperlihatkan hasilnya berupa peningkatan jumlah wisatawan mancanegara dari 4,4 juta orang tahun 1995/1996 menjadi 5,2 juta orang dalam tahun anggaran 1996/1997, serta meningkatnya pemasukan devisa dari rata-rata sebesar 1.213 dolar AS perkunjungan dalam tahun anggaran 1995/1996 menjadi 1.224 dolar AS per kunjungan dalam tahun anggaran 1996/1997.

Jasa lainnya yang juga potensial dan tengah dikembangkan perannya adalah jasa TKI. Peningkatan ekspor jasa TKI memiliki manfaat ganda, yaitu sebagai sumber penghasil devisa ekspor dan sebagai upaya untuk mengurangi tingkat pengangguran di dalam negeri.

Selain itu, peningkatan eksporjasa TKI juga semakin penting sebagai pengimbang atas kecenderungan meningkatnya jumlah tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia.

Di bidang jasa-jasa lainnya, Pemerintah juga mengupayakan agar bidang-bidang jasa yang potensial dapat berkembang dan mampu menghasilkan devisa.

Hal itu antara lain dapat dilihat dari upaya pemerintah yang bertekad menjadikan perusahaan-perusahaan milik negara (BUMN) di bidangjasa tertentu sepertijasa telekomunikasi, jasa perbankan, dan jasa penerbangan dapat menjadi pemain-pemain di tingkat global.

Di bidang jasa-jasa yang masih lemah kemampuan ekspornya sehingga memberatkan neraca jasa-jasa secara keseluruhan, seperti halnya jasa angkutan laut (freight), sesuai dengan kemampuan dan secara bertahap, Pemerintah telah menempuh berbagai langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap jasa angkutan laut asing.

Langkah-langkah tersebut berupa pemberian berbagai kemudahan di bidang perpajakan bagi pelayaran nasional melalui Deregulasi Juni 1996 dan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 362 Tahun 1996.

Sumber : ANTARA (06/01/1997)

__________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 200-201.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.