NELAYAN SUMBAR BERHASIL MANFAATKAN KAPAL BANPRES

NELAYAN SUMBAR BERHASIL MANFAATKAN KAPAL BANPRES[1]

 

Padang, Antara

Para nelayan di daerah Sumatera Barat yang beruntung mendapatkan lima unit kapal Bantuan Presiden (Banpres) tahun 1992, kini sudah bertambah menjadi delapan unit Kepala Dinas Perikanan TK. I Sumbar Ir. Firial Maharuddin di Padang, Sabtu, menjelaskan, kapal Banpres yang nilainya Rp 20 juta per unit itu diberikan kepada kelompok nelayan di Kecamatan Bunggus Teluk Kabung, Padang, Sumbar.

Ia menjelaskan, sejak Presiden berkenan memberikan kapal Banpres kehidupan para nelayan, khususnya di kecamatan Bunggus Teluk Kabung, semakin meningkat, karena daya jelajah kapal Banpres mampu menembus sampai kelautan bebas yang ikan nya lebih banyak dan cukup gemuk.

Sebelum ada Banpres, para nelayan hanya menggunakan perahu layar atau motor temple yang daya jelajah, fasilitas dan kapasitasnya sangat terbatas, sehingga tidak mungkin diharapkan peningkatkan kesejahteraan para nelayan.

Pada waktu itu, katanya, para nelayan hanya bisa sekedar hidup karena terbatasnya hasil tangkapan mereka yang bisa dibawa pulang. Tetapi berkat bantuan kapal Banpres pendapatan para nelayan di daerah itu semakin meningkat.

Kadinas Perikanan Sumbar itu tidak menjelaskan berapa rata-rata penghasilan para nelayan di kawasan Bungus Teluk Kabung setiap hari.

“Kami tidak bisa memberikan rincian mengenai pendapatan mereka tetapi kehidupan mereka sudah meningkat dan mampu menyekolahkan anaknya.” katanya.

Ia menjelaskan, bantuan Kapal Banpres itu sangat besar manfaatnya dalam meningkatkan kapasitas produksi ikan di daerah itu, karena populasi ikan di lautan bebas yang sebelumnya tidak tersentuh nelayan, kini sudah mulai dimanfaatkan.

Dukung Gema Insani

Menurut dia, adanya kapal Banpres yang berkapasitas 500 ton itu sangat membantu upaya mensukseskan Gerakan Makan Ikan Sumber Protein Hewani (Gema Insani) yang juga dicanangkan Presiden Soeharto 16 Oktober 1996 bertepatan dengan hari Pangan Sedunia.

Pihaknya terus berupaya mengkampanyekan Gema Insani yang sasarannya para Ibu baik melalui Posyandu, PKK, Dharma wanita.

“Pada akhirnya kaum Ibu itulah yang memutuskan dalam keluarga apakah memasak ikan atau tidak.” katanya menjawab pertanyaan sehubungan sasaran Gema Insani dimaksud.

Menurut dia, secara umum masyarakat di daerah berpenduduk 4,2 juta jiwa itu belum tinggi kesadarannya untuk makan ikan, padahal ikan mengandung protein yang sangat dibutuhkan tubuh.

“Ada tiga faktor yang menyebabkan masyarakat di daerah itu kurang menkonsumsi ikan, yaitu masalah selera, pendapatan dan ketersediaan ikan.” kata Firial Maharuddin dengan menambahkan, masyarakat tidak berselera makan ikan karena bau. Ada pula karena tidak mampu membeli dan persediaan ikan di pasar terbatas.

Sumber : ANTARA (11/05/1997)

_______________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 357-358.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.