NEGARA TERTUTUP TIDAK DAPAT PENUHI KEBUTUHAN RAKYATNYA

NEGARA TERTUTUP TIDAK DAPAT PENUHI KEBUTUHAN RAKYATNYA

 

 

Malang, Merdeka

Presiden Soeharto mengemukakan, dunia sekarang sedang memasuki tatanan-tatanan baru, terutama di bidang ekonomi dan politik. Negara-negara yang bersifat tertutup ternyata tidak dapat memenuhi kebutuhan rakyatnya sendiri. Kerjasama dan keterbukaan merupakan kecenderungan dan keharusan masa depan.

“Negara-negara di sekitar kita juga sedang mengubah diri menuju suatu tatanan baru dunia, yang selain makin terbuka juga makin terkait erat dalam bidang ekonomi dan politik,” tegas Kepala Negara ketika berbicara pada pembukaan Simposium Nasional Cendekiawan Muslim di Kampus Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur, Kamis.

Simposium yang dihadiri sekitar 512 peserta dari seluruh Indonesia itu, bertema “Membangun Masyarakat Indonesia Abad XXI.” Menurut Presiden, banyak sekali perkembangan baru yang harus dihadapi dan diatasi dengan mengambil berbagai keputusan yang tidak mudah, khususnya di bidang ekonomi dan keuangan.

“Peta ekonomi dan politik dunia sedang berubah secara mendasar dalam dasawarsa terakhir abad ke-20 ini,” tandas Presiden. “Perubahan itu membawa tantangan-tantangan baru, masalah-masalah baru dan peluang-peluang baru. Juga harapan-harapan baru.”

Ditegaskan, kemajuan dalam bidang, ilmu pengetahuan, teknologi dan ekonomi telah mendorong dinamika dan perubahan dunia dalam waktu yang amat cepat. Agar bisa berlangsung hidup dalam dunia yang berubah cepat ini, dan diperlukan kejelian pengamatan dan reaksi baik terhadap peluang ancaman yang timbul.

Dalam semangat kebersamaan dan semangat kebangsaan, semua cendekiawan muslim akan mampu menyumbangkan risalah agama kita yang bersifat Rahmatan Lil alamin. Kehadiran dan pengabdian kita hendaknya mendatangkan manfaat kepada segenap golongan, kepada seluruh bangsa. Amin.

 

Presiden Soeharto Tak Ingin Dikejutkan

“Kita tidak ingin dikejutkan terus-menerus oleh berbagai pembahan dinamis tadi. Karenanya kita perlu mempunyai perspektif berjangka panjang, garis bersifat mendasar mengenai masa depan itu,” kata Presiden.

“Seluruhnya harus dilandaskan pada kemantapan dan keteguhan nanti untuk mencapai sasaran akhir yang telah kita tetapkan, ialah terwujudnya masyarakat kita yang maju, sejahtera, adil, makmur dan lestari berdasarkan Pancasila”.

Bidang inilah, menurut Presiden, yang seyogyanya menjadikan ajang pengabdian kaum cendekiawan. Mereka diharapkan mempunyai pandangan jernih tentang kecenderungan perkembangan keadaan.

“Dengan kejernihan pandangan itu, kaum cendekiawan dapat memmuskan altematif kebijaksanaan dan strategi yang bisa kita pilih bersama,” tambah Presiden. Tentu saja strategi jangka panjang pembangunan dan arah perjalanan bangsa kita akan ditentukan oleh MPR dalam Sidang Umum tahun 1993 nanti.”

Disebutkan, persiapan rumusan kebijak sanaan dan strategi pembangunan nasional seyogyanya, mulai dilakukan oleh masyarakat sendiri. Ini merupakan wujud dari partisipasi dan tanggung jawab bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

Menurut Presiden, adalah tugas para cendekiawan untuk mengenal masalah yang ada dan masalah-masalah baru yang timbul, menganalisa unsur-unsurnya dan melihat kaitannya satu sama lain, memperkirakan kemungkinan dan kecenderungan.

“Jika perlu mengembangkan berbagai altematif awal kebijaksanaan dan strategi, yang dapat dipilih oleh para pengambil Keputusan,” katanya.

Selanjutnya ditegaskan, di tengah dunia abad ke-21, yang akan penuh dengan perubahan-perubahan dinamis dan tatanan-tatanan baru nanti, bangsa Indonesia tidak meniru model pembangunan bangsa lain, yang disusun khas sesuai nilai-nilai budaya mereka dan untuk menghadapi rangkaian masalah yang khas mereka hadapi.

“Kita bahkan tidak dapat mengulangi model pembangunan nasional kita sendiri di masa lampau. Dengan tetap berpegang teguh pada nilai­nilai Pancasila, pembangunan kita di masa datang harus kita rancang agar mampu menghadapi jenis masalah dan tantangan baru dan tantangan yang berbeda dari yang kita hadapi sampai sekarang,” ujar Presiden lagi.

Kepala Negara mengatakan, dalam menangani pembangunan nasional yang demikian luas cakupannya, bangsa Indonesia di setiap lapisan, perlu lebih banyak mengembangkan cara berpikir strategis yaitu cara berpikir yang berorientasi ke masa datang.

“Cara berpikir strategis bisa membantu kita untuk merencanakan dan mengendalikan nasib kita sendiri, sehingga dengan demikian mempunyai nilai keagamaan”, kata Kepala Negara.

Dikemukakan, agama Islam mengajarkan bahwa nasib kita sesungguhnya berada dalam tangan kita sendiri. Kita berulangkali diingatkan bahwa Tuhan Yang Maha Esa tidak akan mengubah nasib kita, jika tidak kita sendiri yang hendak mengubahnya. Nasib kita di masa datang bisa dan boleh kita rencanakan. Pelaksanaannya juga bisa kita tata dan kita kendalikan.

Sebagai bangsa majemuk, menurut Presiden, masa depan kita akan tergantung pada kebulatan hati kita sendiri untuk terns maju dengan semangat kebersamaan dan semangat kebangsaan.

“Dalam semangat kebersamaan dan semangat kebangsaan itu, semua para cendekiawan muslim akan mampu menyumbangkan risalah agama kita yang bersifat Rahmatan Lil ‘alamin. Kehadiran dan pengabdian kita hendaknya mendatangkan manfaat kepada segenap golongan, kepada seluruh bangsa. Amin,” demikian Presiden Soeharto.

 

Kemampuan Antisi pasi dan Proyeksi

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hassan yang memberikan sambutan pada kesempatan yang sama mengemukakan, sebagai forum cendekiawan kiranya simposium ini menyadari benar bahwa yang akan menjadi tema pembahasan bukanlah hal yang sederhana, karena permasalahannya bersangkutan dengan kemampuan untuk membuat antisipasi dan proyeksi ke masa depan.

Dikatakan, masa depan yang dihadapi dipengaruhi oleh sejumlah faktor, dan dimensi yang diamati dan difahami secara komprehensif, bertolak dari situasi dan kondisi bangsa Indonesia, dengan kesadaran jati diri yang beranjak dari bumi dan budaya sendiri, serta konsensus nasional untuk mewujudkan masyarakat yang berpedornan pada nilai­nilai Pancasila.

Menyinggung soal tema simposium, Fuad Hassan mengatakan, berbagai permasalahan universal dewasa ini merupakan peringatan bagi semua akan perlunya persepsi dan interpretasi yang komprehensif manakala membuat ancang-ancang untuk memasuki masa depan.

“Maka demi mengejar kondisi ketertinggalan yang masih dialami perlulah kita bekerja keras dan sekaligus cukup jeli untuk mengamati kekeliruan dan kelengahan yang dialami oleh mereka yang maju terdahulu, “ katanya. “Sekalipun simposium ini mernusatkan perhatiannya terutama ke masa depan sebagai era baru pembangunan bangsa, kiranya bermanfaat untuk juga melakukan tinjauan retrospektif dan memetik pelajaran dari berbagai pengalaman di masa lalu,” katanya.

 

Peserta Melimpah

Ketua Panitia Simposium, Eric Salman Gunadarma, dalam laporannya mengatakan, simposium ini merupakan realisasi keinginan mahasiswa untuk mengumpulkan para senior cendekiawan muslim, agar timbul keserasian arus informasi, sehingga terjadi kesamaan langkah terutama dalam peran serta cendekiawan muslim dalam pembangunan Indonesia.

Tim wartawan Merdeka melaporkan, dalam simposium ini terdapat empat pembicara utama, yaitu Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) BJ Habibie, Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup (KLH) Emil Salim, Prof Dr. Mukti Ali dan Letjen TNI (Pur) Sayidiman Suryohadiprojo, 12 pembicara pokok dan delapan moderator.

Melimpahnya peserta Simposium Nasional Cendekiawan Muslim, menurut Ketua MUI Hasan Basri, sangat bagus, karena menunjukkan aspirasi masyarakat memang sangat tepat, dan wadah untuk tempat berbicara cocok dengan adanya simposium semacam itu.

Ini merupakan cara untuk menyalurkan aspirasi kelompok dalam masyarakat yang dibawa oleh para cendekiawan untuk menyusun pemikiran-pemikiran guna membangun bangsa dan negara.

“Ini juga untuk mencegah agar jangan sampai terjadi salah langkah,” katanya.

Mengenai penyelenggaraan simposiumnya sendiri, Hasan Basri menilai, sangat serasi dan bagus. Terlepas siapa pun penyelenggaranya.

“Bagusnya penyelenggaraan ini bisa dilihat dari pidato bapak Presiden yang bagus, sambutan Fuad Hassan cukup baik serta pidato dari ketuanya, Erik Salman GK yang sangat bagus,” katanya.

Satu harapan yang sangat didambakan oleh Ketua MUI yakni agar wadah ini berguna mengingat yang ada di dalamnya adalah pakar-pakar ilmu di mana mereka mencurahkan ilmunya untuk membangun bangsa dan negara.

“Pembangunan yang diharapkan ini bukanlah untuk kita, tapi untuk generasi mendatang. Jadi, jangkauannya adalah masa depan,” kata Hassan Basri saat ditemui usai acara pembukaan simposium nasional.

Orientasi masa depan ini dimaksudkan adalah membentuk generasi penerus yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT ditunjang dengan ilmu dan amal yang cukup untuk menj adi generasi penerus.

Menanggapi absennya Ketua Umum Pengurus Besar Tanfidziah Nahdatul Ulama Abdurahman Wahid dalam simposium kali ini, menurut Hasan Basri itu adalah hak pribadinya, dan patut dihargai.

“Ini tidak perlu disesalkan, selain karena itu hak pribadinya juga absennya dia tidak mewakili golongan. Terbukti banyak juga tokoh­tokoh Nahdatul Ulama yang hadir di sini semacam Yusuf Hasyim dan sebagainya,” katanya.

Adanya suara-suara santer tentang nama Habibie yang masuk nominasi sebagai ketua umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang bakal dibentuk, Hasan Basri sangat setuju sekaligus mendukungnya. Penilaian ini didasarkan atas berbagai hal di antaranya Habibie sebagai seorang muslim yang taat masih bisa dan punya waktu untuk kegiatan semacam ini. Juga dia didukung dengan modernisasi dan teknologi tinggi. “Saya bersyukur punya seseorang seperti Habibie,” ujarnya.

Untuk sekjennya, dia menolak menyebut satu nama, karena pendapatnya untuk jabatan ini siapapun bisa saja dipilih. Yang penting sekjen itu harus bisa kerjasama dengan Habibie.

 

Peranan Masyarakat Muslim

Menteri Negara Riset dan Teknologi/Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) BJ Habibie yang berbicara di depan forum simposium menegaskan, umat Islam merupakan bagian terbesar penduduk Indonesia, karena itu peranan masyarakat muslim sangat menentukan bagi kemajuan dan daya saing bangsanya.

“Berdasarkan kesadaran itu, marilah kita kaum muslimin, sebagai warga negara, sebagai anggota bangsa yang bertanggungjawab, menjadi pelopor dan penggerak utama bagi bangsa Indonesia untuk berilmu, berteknologi, berbudaya dan berproduktifitas tinggi,” katanya.

Untuk itu, umat Islam perlu menjadi pelopor dan harus berada di garis depan pergerakan peningkatan pertumbuhan produktivitas, prestasi, baik di tingkat perusahaan maupun di tingkat nasional. Umat Islam perlu pula menjadi pelopor dalam mengembangkan pusat-pusat keunggulan di dalam bidang-bidang yang menentukan taraf hidup masyarakat Indonesia.

“Marilah kita sebagai kaum muslimin Indonesia bergerak di garis depan. Marilah kita, kaum muslimin Indonesia, menentukan arah dan momentum pergerakan kebangkitan nasional Indonesia kedua,” katanya.

Dalam bagian lain makalahnya yang berjudul “Peranan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Dalam Proses Transformasi Masyarakat”, Habibie mengemukakan, masyarakat Indonesia harus mampu merebut, menguasai, mengembangkan, mengendalikan dan memanfaatkan teknologi apa saja, termasuk yang paling canggih, untuk meningkatkan taraf hidup serta menentukan masa depan bangsa.

“Pada abad datang, ilmu pengetahuan dan teknologi nantinya akan memasuki pelosok-pelosok yang terkecilpun di tanah air kita dan akan mempengaruhi seluruh kehidupan masyarakat Indonesia. Karena itu, mau tidak mau, ilmu pengetahuan dan teknologi itu harus kita kuasai,” tegasnya.

Dikatakan, ilmu pengetahuan dan teknologi adalah produk mumi manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan hasil produk manusia yang dimanfaatkan manusia untuk meningkatkan taraf hidupnya.

Dalam melak sanakan pengembangan pengendalian dan pemanfaatan teknologi itu, kebudayaan manusia merupakan salah satu unsur penting dalam menentukan berhasil tidaknya ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dikembangkan dan dimanfaatkan secara efisien dan produktif untuk meningkatkan taraf hidup manusia.

 

Dimensi Spiritual

Sementara itu Menteri KLH Emil Salim dalam makalahnya betjudul “Segi Sosial Ekonomi dan Politik dalam Proses Tran sformasi Masyarakat” mengemukakan, dalam memenuhi kebutuhan hidup yang manusiawi, perlu ditekankan peningkatan hidup material manusia. Apabila tahapan ini sudah dicapai, maka sangat penting untuk mengalihkan pemban gunan pada aspek non material, terutama pada usaha peningkatan kwalitas manusia dan kwalitas hidup.

“Dalam hubungan inilah tampil ke depan keperluan mengimbangkan, pemenuhan kebutuhan hidup material dengan pemenuhan kebutuhan hidup spiritual,” katanya.

Dengan masuknya dimensi spiritual, maka fokus penglihatan manusia perlu bergeser dari pandangan hidup Anthropo Centric menjadi pandangan hidup Theocentric menjadi Tuhan sebagai pusat perhatian.

Sangatlah menarik bahwa dalam Islam, maka identifikasinya bukanlah pada yang kaya, akan tetapi justru pada yang miskin, pada yang tersiksa dan terhina untuk diangkat mereka kedalam derajat yang lebih tinggi dan membebaskan mereka dan lembah penderitaan.

Menurut Emil Salim, identiflkasi sosial dalam Islam adalah dengan mereka yang tertindas, dengan mereka yang miskin, bukan untuk diadu dan dikonfrontasikan dengan mereka yang kaya, akan tetapi dengan mengangkat derajat mereka yang lemah ke tempat yang lebih tinggi sesuai dengan ajaran Islam.

Dikemukakan pula, dalam ajaran Islam, solidaritas sosial menduduki posisi tinggi. Agama Islam bukan saja agama yang mengkaitkan diri pribadi dengan Kahliqnya, tetapi juga mengkaitkan diri dengan semua manusia.

“Maka dalam agama Islam, yang spirituallah menjadi tujuan akhir dari segala perbuatan manusia,” katanya.

Karena segala perbuatan manusia, yaitu makannya, minumnya, tidumya, kerjanya, perbuatan atau tidak berbuat, shalat dan matinya adalah tidak lain mencari ridha Tuhannya. Sehingga atas pertanyaan untuk apa akhirnya semua kegiatan pembangunan, maka jawabannya adalah Lillahi Ta’ala.

Kepada para cendekiawan Muslim, Emil Salim mengajak, agar mengemban tugas mulia dalam mengkaitkan keinginan manusia dibumi dengan misi yang dibebankan Allah pada manusia, menyerasikan kemajuan material dengan kedalaman spiritual.

“Untuk mengemban tugas mulia ini, dirasa perlu agar para cendekiawan muslim mempersatukan diri dalam wadah yang mengikat cendekiawan muslimin dari segala keahlian, kejuruan, tempat dan daerah untuk saling isi mengisi dalam mengemban tugas pembangunan,” katanya.

 

Organisasi Cendekiawan

Mengomentari tentang kehadiran ICMI, Wakil Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Lukman Harun tidak melihat kelahiran organisasi ini sebagai organisasi yang sifatnya politis.

“Ini adalah organisasi cendekiawan yang kehadirannya memang sangat tepat terutama dalam upaya memberikan sumbangan pikiran terhadap pembangunan bangsa,” katanya.

0leh karena itu dia langsung setuju, setelah melihat dan mendengar akan dibentuknya organisasi ini.

Sedangkan produk-produk yang akan dihasilkan organisasi ini, karena anggotanya terdiri dari para cendekiawan tentunya produk yang dihasilkan juga yang sifatnya konsepsional.

Lukman Harun menyatakan tidak heran kalau kehadiran organisasi yang idenya dari sejumlah mahasiswa Universitas Brawijaya Malang ini mendapat sambutan baik dari para cendekiawan Muslim, karena memang penting. Sambutan ini juga timbul karena memang idenya dari bawah, dari mahasiswa. Kalau ide ini datangnya dari atas, atau organisasi seperti Muhammadiyah belum tentu mendapat sambutan sebesar ini.

“Karena pentingnya simposium dan pembentukan organisasi ini, maka para cendekiawan juga tidak berpikir siapa yang membiayai transpor dan hotel di Malang, yang penting bisa datang. Seperti saya, ya bayar sendiri,” katanya.

Ditanya ada kalangan nadanya kurang setuju terhadap dibentuknya organisasi ini, Lukman Harun menjawab singkat, “kritik itu kan biasa .”

Yusuf Hasyim dari kalangan Nahdlatul Ulama mengatakan, kelahiran organisasi ini sangat positif. Harapan masyarakat terhadap organisasi semacam ini memang cukup besar. Organisasi semacam ini, menurut Yusuf Hasyim, bisa luwes karena tidak terikat dengan organisasi­organisasi lainnya. Tetapi hanya cendekiawan, yang konsep-konsepnya ju ga sangat diharapkan untuk pembangunan bangsa.

Yusuf Hasyim menyatakan, tidak melihat kalau kehadiran organisasi ini mengimbangi kekuatan agama lainnya. Initerbentuk karena memang para cendekiawan memang membutuhkannya.

Dikatakan, pembentukan serta munculnya organisasi ini memang tidak mudah, merupakan pekerjaan berat. Namun tokoh NU itu melihat kehadiran ICMI luar biasa, karena begitu cepat mendapat sambutan. Sedangkan dalam organisasi lain, yang kini telah besar sekalipun, seperti Golkar misalnya, tidak seperti ICMI.

Ketika ditanyakan mengenai komentar seorang tokoh yang mengatakan kehadiran ICMI justru mengkotak- kotak, Yusuf Hasyim menjawab singkat, “Semua organisasiya memang berupa kotak­kotak”.

Ketika ditanya apakah kehadiran organisasi ini ada kaitannya dengan politik, untuk menghadapi Pemilu 1992 misalnya, Yusuf Hasyim mengatakan, “Mau dikaitkan bisa tidak dikaitkan pun bisa.”

 

Spiritual

Menjawab pertanyaan tentang pembentukan ICMI, Menteri KLH Emil Salim menegaskan memang perlu untuk menjabarkan lebih lanjut antara kebutuhan material dengan spiritual.

Dikatakan, kebutuhan hidup manusia tidak hanya menyangkut material, tidak cukup makan, pakaian, tetapi juga spiritual. Di sini dimensi agama sangat penting.

Sekarang siapa yang bisa menjabarkan lebih lanjut kata Emil Salim, “Tentunya orang yang mengerti ilmu”. Kalau orang yang mengerti ilmu kemudian mendalami Islam, keterpaduan misalnya antara Habibie dengan Hasan Basri, akan muncul dahsyat sekali, untuk memberikan gagasan mana arah pembangunan kedepan.

“Tidak lagi oritentasi material tapi material plus spiritual. Itu di dalam politik GBHN juga sudah disebut, membangun manusia Indonesia seutuhnya,” tambahnya.

Menanggapi pendapat seolah-olah pembentukan ICMI ini membuat kotak-kotak, Emil Salim mengatakan, kotak itu bukan untuk memisahkan diri dengan pembangunan bangsa yang sedang dan akan dikembangkan. Tetapi justru kotak itu untuk membantu pembangunan itu sendiri, untuk mengisi pembangunan.

Emil Salim mengatakan, cendekiawan muslim bertanggungjawab mengisi pembangunan material yang didukung oleh pembangunan spiritual ini.

“Jadi wadah ini perlu dibentuk bukan permainan politik. Bukan untuk Pemilu, bukan lagi membangkitkan primordialisme. Sama sekali tidak, tetapi mencari jawaban bagaimana mempersatukan pembangunan material dan spiritual itu, terutama menghadapi abad XXI,” tegasnya. Atas pertanyaan wartawan, Emil Salim mengatakan, dia mendukung Habibie menjadi Ketua ICMI. Karena dalam abad mendatang justru orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan dan menguasai teknologi inilah yang banyak berperan.

“Bukan karena Habibie pendek, saya setuju, tetapi memang dialah yang tepat untuk menghadapi masa depan itu,” katanya.

Bekas Menteri Agama Mukti Ali dalam makalahnya berjudul “Pembangunan dan Etik Ekonomi Islam” menyatakan, bagi bangsa Indonesia, sumber dan perwujudan dari tradisi, nilai-nilai budaya serta pengertian masyarakat adalah keyakinan terhadap agama. Dengan dan di atas agama itu mereka hidup serta bekerja. Dan bagi umat Islam tentulah ajaran Islam.

“Oleh karena itu dengan menghargai dan menggalakkan unsur-unsur yang mewakili dan memahami keyakinan-keyakinan keagamaan inilah partisipasi rakyat dan perubahan yang diharapkan bisa tercapai,” katanya. Sehingga pada gilirannya kegiatan ekonomi mereka dapat ditingkatkan, melalui keyakinan keagamaannya.

 

 

Sumber :Merdeka (07/12/1990)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XII (1990), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 217-230.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.