NEGARA MENJAMIN KEBEBASAN BERIBADAT

NEGARA MENJAMIN KEBEBASAN BERIBADAT[1]

 

Jakarta, Suara Pembaruan

Presiden Soeharto menegaskan, bangsa Indonesia sangat bersyukur mempunyai Pancasila sebagai dasar falsafah negara. Dengan Pancasila sebagai dasar falsafah negara, maka kita, menikmati hubungan yang sebaik-baiknya antara negara kebangsaan dan umat beragama yang menjadi warganegara. Dalam sambutannya pada peresmian proyek-proyek pembangunan daerah di Provinsi Timor Timur Selasa (15/10) pagi di Dili, Presiden menunjuk salah satu sila dari Pancasila yang memberikan sifat khas bangsa.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, ujar Kepala Negara, telah memberikan sifat khas kepada negara kebangsaan Indonesia. Dengan sila ini, negara tidak memaksa dan tidak akan memaksakan sesuatu agama untuk dipeluk oleh warga negaranya .

“Negara menjamin kemerdekaan setiap penduduk untuk memeluk agama dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu.” tegas Presiden Soeharto.

Dikatakan, kebebasan beragama merupakan salah satu hak asasi yang paling mendasar, karena langsung berkaitan dengan martabat manusia sebagai pribadi dan sebagai mahluk ciptaan Tuhan. Dengan demikian, kemajemukan agama tidak merupakan kerawanan.

Kemajemukan agama bahkan dapat merupakan kemajemukan potensi dan kekuatan yang dapat didayagunakan untuk mendorong maju pembangunan.

“Dalam kaitan inilah saya sangat menghargai prakarsa untuk membangun Patung Kristus Raja di provinsi yang bagian besar penduduknya beragama Katolik. Pembangunan patung ini juga menunjukkan bahwa setelah, Timor Timur menjadi bagian dari Indonesia, nilai-nilai yang bersifat sakral dan religius di daerah ini terus tumbuh dan berkembang. Saya berharap dengan dibangunnya Patung Kristus Raja keimanan saudara-saudara yang beragama Katolik akan tetap terpelihara, bahkan makin bertambah mendalam dan kukuh.” kata Kepala Negara.

Dalam kaitan itu, Presiden Soeharto menekankan, pembangunan yang dilakukan bukanlah hanya untuk meningkatkan kemakmuran lahir saja. Juga tidak hanya untuk mengejar kepuasan batin. Pembangunan yang dilakukan adalah untuk mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin.

Lebih ditegaskan,

“Hakikat pembangunan kita adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia, seluruhnya dengan Pancasila sebagai dasar, tujuan dan pedomannya.”

Kebudayaan

Kepala Negara mengatakan, di samping memeluk agama dan keyakinan yang berbeda-beda, masyarakat juga memiliki aneka ragam kebudayaan daerah. Perhatian yang sungguh-sungguh diberikan kepada kelestarian dan pengembangan kebudayaan daerah. UUD 45 mengingatkan kepada kita semua bahwa kebudayaan daerah itu mempunyai peranan penting bagi akar kebudayaan nasional karena pada kebudayaan daerah itulah terdapat akar-akar kebudayaan nasional.

“Kebudayaan nasional yang sedang kita kembangkan perlu mempunyai akar yang kuat dalam tradisi rakyat kita di daerah-daerah. Hanya dengan cara demikianlah rakyat kita akan memahami, mendukung dan ikut mengembangkan kebudayaan nasional. Adalah mustahil untuk mengharapkan dukungan rakyat terhadap kebudayaan baru yang sama sekali tidak dikenalnya. Itulah sebabnya mengapa kebudayaan daerah merupakan dasar pembangunan kebudayaan nasional.” kata Presiden Soeharto.

Mengenai perkembangan pembangunan di Timor Timur, Kepala Negara menyatakan merasa bersyukur dan bergembira,

“Karena walaupun secara sepintas, saya merasakan dan melihat dari dekat kemajuan-kemajuan besar yang dicapai daerah ini dalam pembangunan.”

Dikemukakan, apabila pada awal integrasi dahulu, pendapatan perkapita penduduk Timtim hanya Rp.80 ribu, maka pada tahun 1994 yang lalu telah mencapai hampir Rp.600 ribu atau meningkat lebih dari 7 kali lipat dalam waktu kurang dari dua dasawarsa. Laju pertumbuhan ekonomi Timtim selama Repelita V yang lalu mencapai lebih dari 10 persen setahun. Laju pertumbuhan itu lebih tinggi dari laju pertumbuhan ekonomi seluruh Indonesia yang mencapai rata-rata 6,8 persen setahun.

“Kemajuan pembangunan yang lebih mengesankan terjadi di bidang pendidikan. Apabila di awal integrasi jumlah sekolah dasar di Timtim hanya 47 buah, sekolah menengah pertama 2 buah dan sebuah sekolah menengah umum dan sebuah sekolah teknik menengah, maka pada akhir Repelita V daerah ini telah memiliki 656 buah sekolah dasar, 102 buah sekolah menengah pertama, 35 buah sekolah menengah umum, 9 buah sekolah menengah ekonomi atas dan 9 buah sekolah teknik menengah. Bahkan kini Timtim memiliki 4 perguruan tinggi.”

Selain itu, Presiden Soeharto juga menunjuk kemajuan lain di bidang pembangunan jalan raya. Apabila, pada awal integrasi Timtim hanya memiliki 20 km jalan yang diaspal, maka pada akhir Repelita V jalan beraspal meningkat lebih 100 kali panjangnya sehingga mencapai lebih dari 2.100 km.

Begitupun Presiden tidak mengesampingkan masih banyaknya masalah yang dihadapi Timtim yang sedang membangun.

“Saya tahu bahwa masih banyak masalah yang dihadapi masyarakat di sini. Salah satu di antaranya adalah kesempatan kerja. Ini adalah bagian dari masalah yang kita hadapi sebagai bangsa yang sedang membangun, masalah yang dihadapi oleh masyarakat yang sedang bergerak maju. Masalah ini harus kita atasi dengan terus meningkatkan dan memperluas pembangunan. Kita berharap di tahun-tahun yang akan datang pembangunan di provinsi termuda ini dapat bergerak makin cepat lagi, agar kemakmuran dan kesejahteraan rakyat daerah ini meningkat.” tutur Presiden Soeharto.

Penghargaan

Dalam laporannya, Gubernur Timor Timur Abilio Jose Osario Soares mengatakan, kemajuan Timor Timur setelah berintegrasi dengan Indonesia telah dapat dinikmati masyarakat. Dan sebagai pernyataan rasa syukur rakyat Timor Timur diserahkan penghargaan Bapak Integrasi Timor Timur kepada Presiden Soeharto karena besarnya jasa yang diberikan Kepala Negara, di mana 20 tahun yang silam rela menerima kehendak yang sangat dalam dari rakyat Timor Timur.

Dalam kesempatan itu Presiden meresmikan berbagai proyek antara lain Patung Kristus Raja di Bukit Fatucama Pasir Putih Dili. Patung tersebut merupakan sumbangan dari PT. Garuda Group sementara pembuatan Jalan Salib Altar dan sebagainya merupakan sumbangan dari para pengusaha di Timor Timur maupun di luar Timor Timur, sedang lampu penerangan dibantu PT.

PLN.Proyek lain yang diresmikan, Jalan Motaain dari perbatasan NTT ke Dili sepanjang 328 km, serta 4 jembatan sepanjang 1.865 meter. Dan irigasi untuk mengairi sawah 229 ha. Total biaya untuk pembangunan jalan jembatan dan irigasi tersebut sebesar Rp.83,7 miliar.

Hadir dalam acara di halaman depan kantor Gubernur Timtim antara lain, Menteri Pekerjaan Umum Radinal Moochtar, Menteri Agama Tarmizi Taher Menteri Sekretaris Negara Moerdiono, Menteri Kehutanan Djamaludin Soeryohadikoesoemo, Pangab Jenderal TNI Feisal Tanjung, Dubes Vatikan untuk Indonesia Pietro Sambi, serta Kardinal Yulius Darmaatmaja SJ.

Sebelum menyampaikan pidatonya, Presiden Soeharto menerima seperangkat pakaian adat Timtim sebagai tanda pengangkatan Kepala Negara menjadi Bapak Integrasi. Penyerahan perangkat pakaian adat tersebut dilakukan Ketua DPRD Tingkat I Timor Timur.

Seusai peresmian, Presiden Soeharto memukul babatur dan menandatangani prasasti proyek-proyek yang diresmikan dan selanjutnya menyalami para pemilik proyek seperti Uskup Bello dan Kakanwil Departemen Pekerjaan Umum Dili.

Acara peresmian berlangsung sekitar satu jam yang dihadiri oleh para pejabat Timor Timur dan pemuka agama setempat. Di luar arena sekitar 2.000 warga Timor Timur ikut meramaikan acara peresmian dengan memukul babatur setelah Kepala Negara selesai meresmikan.

Ucapan Selamat

Panglima ABRI Jenderal TNl Feisal Tanjung ketika bersama Mensesneg Moerdiona dan Mendagri Yogie SM tiba di podium kehormatan, tempat di mana Dubes Vatikan dan Uskup Belo duduk sempat memberi ucapan selamat kepada Uskup Belo sambil berkata

“Selamat Bapak Uskup atas hadiah Nobel yang diterima.” ucap Pangab.

Dan dijawab Uskup Belo,

“Terima kasih Bapak Panglima..”

Dalam acara peresmian ini Pangab yang duduk berdampingan dengan Uskup Belo tampak berbicara akrab.

Sumber : SUARA PEMBARUAN (15/10/1996)

__________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 209-212.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.