Nasution Ditendang ke Atas

Nasution Ditendang ke Atas[1]

 

KINI Presiden Soekarno sebagai Panglima Tertinggi yang memiliki akses komando ke tentara. Ditambah slogan yang sering disebut-sebut olehnya bahwa revolusi belum selesai, maka Presiden Soekarno melengkapi sebutan pada dirinya sebagai Pemimpin Besar Revolusi.

Bulan madu Soekarno dan Nasution yang dimulai pada tahun 1959, dimana tentara mendukung Dekrit Presiden 5 Juli, akhirnya berakhir, dan Presiden Soekarno yang sejak kemerdekaan tidak sepenuhnya dapat menguasai tentara, sejak jabatan dan gelar yang disandangnya sebagai Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi, akhirnya tentara masuk ke dalam kantong Presiden.

Dan uniform Presiden Soekarno sebagai Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi disesuaikan. Presiden Soekarno menjadi sangat gagah dengan berbagai pita mendali yang bertabur di dada, serta tanda pangkat jenderal bintang lima berjajar di pundaknya.

Akhirnya Nasution menjadi “Jenderal Sepi”, tergusur dari struktur komando tentara yang sudah digenggamnya sejak perang kemerdekaan. la menjadi “Sebatang kara” di kantor Kepala Staf Angkatan Bersenjata.

Namun tetap saja namanya menjadi nomer urut satu dalam daftar jenderal yang harus dibunuh oleh pemberontak G30S/PK1.

Nasution lolos dari pembantaian pemberontak G30S/PKI, sedangkan Jenderal Yani, Parman, Haryono, Suprapto, Panjaitan, Sutoyo, tewas dibantai pemberontak.

Ikut dibunuh ajudan Nasution, Kapten (anumerta) Piere Tendean, dan putri bungsunya, Ade Irma Suryani Nasution.

____________________________________________________________

[1]Noor Johan Nuh,  “Pak Harto dari Mayor ke Jenderal Besar”, Jakarta : Yayasan Kajian Citra Bangsa, hlm 70-71.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.