Nasution dan Soeharto Menumpas Pemberontakan

Nasution dan Soeharto Menumpas Pemberontakan[1]

 

PADA titik ini Nasution menyadari bahwa seluruh TT di luar Jawa berontak, hanya TT di Jawa yang setia pada NKRI. Pasukan dari batalyon-batalyon dari TT di Jawa yang kemudian memadamkan pemberontakan itu.

Kembali Nasution menyaksikan kepiawaian Panglima TT IV Diponegoro Kolonel Soeharto mengerahkan pasukannya menumpas PRRI di Sumatra Barat dan daerah Indonesia lainnya.

Mayor Yoga Sugomo, Kapten Ali Murtopo, dari batalyon elite Banteng Raiders TT IV Diponegoro ikut terjun langsung menumpas pemberontakan. Mungkin saja pada waktu itu Nasution baru menyadari kesalahannya memarjinalkan Soeharto.

Betapa genting situasi pada waktu itu, potensi Republik Indonesia pecah sangat besar. Seluruh Tentara Teritorium di luar Jawa menyatakan tidak patuh pada Jakarta, dengan kata lain ini adalah pemberontakan.

Duet Nasution-Soeharto (NATO), bersama Panglima Siliwangi Kolonel Sadikin dan Panglima Brawijaya Kolonel Sarbini, berhasil menumpas pemberontakan yang terjadi di lebih dari dua pertiga wilayah Republik Indonesia.

Fase 20 tahun awal kemerdekaan menjadi pelajaran berharga bagi Soeharto bahwa negara yang tidak stabil, tidak aman, bahkan terjadi berbagai pemberontakan—itu semua hanya menyengsarakan rakyat—menyusahkan rakyat.

Akibat dari pemberontakan itu maka situasi menjadi tidak stabil, terjadi kekacauan di berbagai daerah, yang pada akhirnya membuat pemerintah tidak bisa melakukan tindakan apapun—hanya mengatasi kekacauan dan bahkan berperang untuk memadamkan pemberontakan. Tidak ada pembangunan karena keamanan tidak kondusif.

Maka stabilitas adalah kebutuhan prima dan utama untuk membangun suatu bangsa—untuk mensejahterakan rakyat bangsa itu. Pada waktu berkuasa, Soeharto membuktikan keberhasilannya dalam menjaga stabilitas politik dan keamanan selama 30 tahun hingga bangsa ini dapat membangun dan tumbuh berkembang, bukan saling perang dan baku tikam.

____________________________________________________________

[1]Noor Johan Nuh,  “Pak Harto dari Mayor ke Jenderal Besar”, Jakarta : Yayasan Kajian Citra Bangsa, hlm 53-54.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.