Nasution Bergabung ke Kostrad

Nasution Bergabung ke Kostrad[1]

 

JENDERAL Nasution yang lolos dari target pembunuhan pemberontak G30S/PKI, ba’da magrib bergabung ke Markas Kostrad.

Sebagai yang paling senior dalam TNI, Nasution mendukung langkah Mayor Jenderal Soeharto mengambil alih pimpinan Angkatan Darat, sesuai dengan standing order, dan agar tidak terjadi kekosongan pimpinan.

Di Markas Kostrad berkumpul petinggi TNI termasuk Asisten III KSAD Mayor Jenderal Pranoto Reksosamudro. Kepada Pranoto, Nasution meminta agar ia menolak penunjukannya sebagai pelaksana harian Pimpinan Angkatan Darat karena Jenderal Soeharto sedang memimpin operasi.

Dalam biografinya, “Memenuhi Panggilan Tugas”, jilid 6, Nasution menyebutkan;

“Saya tegaskan kepadanya di depan Jenderal Soeharto: ‘Kami tidak menolak order Presiden, tapi order itu belum bisa dilakukan, Jenderal Soeharto sedang memimpin operasi dan tentulah tidak bisa ia diberhentikan begitu saja. Ini adalah urusan teknis militer yang kami hadapi. Urusan politik terserah Oude Heer (Bapak)’”

Sedangkan Mayor Jenderal Soeharto berpesan kepada ajudan presiden Kolonel Bambang Wijanarko yang juga hadir di Markas Kostrad;

“Usahakan Bapak meninggalkan Halim sebelum tengah malam.” Pesan ini disampaikan oleh Bambang Wijanarko melalui Wakil Perdana Menteri II Dr. Leimena.

Sebelum tengah malam, Presiden Soekarno meninggalkan Halim menuju Bogor. Sesampai rombongan presiden di istana Bogor, Bambang Wijanarko menelpon ke Kostrad memberitahukan bahwa Presiden sudah sampai di istana Bogor. Dan barulah Mayor Jenderal Soeharto memerintahkan Kolonel Sarwo Edhi menyerang Halim yang sudah diketahui bahwa tokoh-tokoh pemberontak G30S/PKI berada di sana.

Dengan bergabungnya Nasution ke Kostrad, sebagai sosok tentara yang sarat pengalaman kemiliteran dan paling senior, menjadi pukulan phisikologis bagi pemberontak G30S/PKI, dan menambah kekuatan moril bagi tentara dalam penumpas pemberontakan itu.

Andai saja pada saat yang kritis itu Jenderal Nasution mengambil-alih komando penumpasan pemberontakan G30S/PKI dari tangan Mayor Jenderal Soeharto, sangat mungkin sejarah pimpinan nasioanal Indonesia akan berbeda. Sebagai jenderal yang paling senior di TNI pada waktu itu, tentu semua jenderal yang ada di Kostrad saat itu akan patuh pada Nasution.

Dalam buku “Soeharto and his generals” karya David Jenkins, terbitan Cornell University, New York 1984, ditulis tentang desakan Adam Malik kepada Nasution untuk mengoper kekuasaan, dan tentang empat kali Jenderal Soeharto menyerahkan komando kepada Jenderal Nasution.

Jadi terlalu naif dan melenceng dari fakta sejarah, menyebut Jenderal Soeharto melakukan kudeta “merangkak”, karena pada hari-hari yang kritis itu, empat kali Jenderal Soeharto akan menyerahkan komando penumpasan pemberontakan G30S/PKI kepada Jenderal Nasution.

Jika saja Jenderal AH Nasution mengambil alih komando penumpasan pemberontakan G30S/PKI dari Jenderal Soeharto, sangat mungkin dialah yang akan menjadi tokoh penumpasan pemberontakan itu, dan sangat mungkin pula Jenderal Nasution yang berpeluang menjadi pimpinan nasional setelah Presiden Soekarno, namun takdir sejarah menentukan Jenderal Soeharto.***

____________________________________________________________

[1]Noor Johan Nuh,  “Pak Harto dari Mayor ke Jenderal Besar”, Jakarta : Yayasan Kajian Citra Bangsa, hlm 72-74.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.