NASIB DUNIA TIDAK MUNGKIN DITENTUKAN HANYA OLEH KEKUATAN2 BESAR

NASIB DUNIA TIDAK MUNGKIN DITENTUKAN HANYA OLEH KEKUATAN2 BESAR

Presiden Soeharto mengingatkan

Peranan AIPO Sangat Penting Dalam Asean Demi Kekokohan dan Efektifitasnya Usaha Bersama Untuk Memasyarakatkan

Presiden Soeharto mengingatkan, kekuatan-kekuatan besar di dunia hendaknya menyadari bahwa nasib dunia tidak mungkin mereka tentukan sendiri saja, karena hal itu bertentangan dengan rasa keadilan dan tidak sesuai dengan piagam PBB. Hal itu dikatakan oleh Presiden Soeharto Selasa pagi kemarin di Istana Negara pada pembukaan Sidang Umum Ke-3 Organisasi Parlemen-Parlemen ASEAN (AIPO).

Sikap kekuatan-kekuatan besar dunia yang demikian dinilai Presiden juga akan menghambat usaha-usaha negara-negara yang sedang membangun untuk melaksanakan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.

"Semua negara besar dan kecil, kaya dan miskin dan yang kuat maupun yang lemah, maju dan yang sedang membangun, hendaknya membangun tatahubungan baru dan bekerja sama untuk kemajuan, kesejahteraan dan keselamatan bersama," kata Presiden.

Ditambahkan, dalam tata hubungan itu, semua negara hendaknya saling menghormati sistim sosial ataupun politik yang dianggap tepat oleh setiap bangsa, menghormati jalan yang ditempuh sendiri untukmencapai tujuan-tujuan yang dianggap baik oleh setiap bangsa dan tidak mencampuri urusan dalamnegeri yang lain.

Namun Presiden juga mengakui, peijuangan ke arah itu tidak mudah, secara sendiri-sendiri memang masih lemah, tetapi jika bersatu, akan menjadi kekuatan yang dapat diandalkan.

”Tiga belas tahun yang lalu, ASEAN telah membuktikan hal itu dan setapak demi setapak ASEAN dapat terus memperkuat dirinya dengan mengembangkan kesepakatan kesepakatan bersama," kata Kepala Negara RI itu.

ASEAN sekarang telah menjadi kekuatan yang harus diperhitungkan dunia, namun kekuatan ASEAN tidak disiapkan untuk tujuan-tujuan menghadapi negara lain atau kelompok negara lain yang manapun, kata Presiden tegas.

ASEAN didirikan untuk dapatmembinadanmemperkokoh saling pengertian dan meningkatkan kerjasama untuk mewujudkan kemajuan, kesejahteraan dan kedamaian rakyat-rakyat di kelima negara ASEAN, demikian tambah Presiden. Untuk itu kita menginginkan terwujudnya wilayah kita yang damai, bebas dan netral.

Presiden mengharapkan agar Sidang Umum AIPO ke-3 tersebut akan makin memperkokoh ASEAN, sehingga mempercepat tercapainya tujuan-tujuan ASEAN.

Kesadaran Rakyat

Presiden menilai peranan AIPO sangat penting dalam usaha bersama untuk memasyarakatkan ASEAN demi kekokohan dan efektifitasnya. Betapapun semua Pemerintah negara-negara anggota ASEAN berkemauan keras, namun masalah­masalah ASEAN dan pemecahannya tidak mungkin diatasi sendiri oleh kemauan keras pemerintahnya belaka.

Kekuatan pokok ASEAN pada akhirnya ditentukan oleh kesadaran-kesadaran rakyat-rakyat kita akan tujuan-tujuan bersama yang bermanfaat dari ASEAN, kata Presiden.

Menyinggung tentang konsep TataEkonomi Dunia Baru, Presiden mengatakan tugas negara-negara yang sedang membangun, termasuk negara-negara ASEAN, yang tergabung dalam Kelompok 77, harus terus meningkatkan kerjasama dan bersama-sama dengan negara-negara yang membangun lainnya, baik melalui forum PBB, maupun forum lainnya meningkatkan usaha bersamanya dalam mewujudkan Tata Ekonomi Dunia Baru.

Laporan Presiden AIPO

Presiden AIPO (ASEAN Inter Parliamentary Organization) Daryatmo, yang juga Ketua DPR/MPR – RI, melaporkan kepada Presiden mengenai Sidang Umum ke-III AIPO. Daryatmo antara lain mengatakan, bahwa secara resmi AIPO telah hadir dalam kehidupan politik internasional sejak didirikan di Jakarta tahun 1975 yang lalu. Bahkan telah membuahkan hasil yang menggembirakan. Yakni telah berhasil mengadakan kerjasama erat di bidang perdagangan, perbankan, komunikasi, sosial budaya dan pariwisata.

Permasalahan berikutnya yang masih harus dihadapi adalah akibat perkembangan politik di kawasan ASEAN maupun dunia pada umumnya yang berkembang cepat. Permasalahan yang ditimbulkan baik di bidang politik maupun ekonomi.

Presiden AIPO itu menyatakan prihatin justru saat menjelang Sidang AIPO ke-3 di Jakarta ini, masalah Kamboja masih belum terselesaikan, ditambah lagi timbulnya invasi militer dan campurtangan Uni Soviet di Afghanistan.

Permasalahan tersebut, secara serius menimbulkan implikasi di bidang keamanan politik sosial dan budaya bagi negara-negara ASEAN. Daryatmo menyesal karena ternyata pendekatan-pendekatan yang dilakukan oleh negara-negara ASEAN belakangan ini mengenai masalah Kamboja dan Afghanistan tidak berhasil mempengaruhi Vietnam dan Uni Soviet.

Selesai Daryatmo menyampaikan laporan kepada Presiden Soeharto, disusul dengan sambutan-sambutan tertulis para Kepala Negara/Kepala Pemerintahan negara-negara anggota ASEAN yang dibacakan oleh para wakil mereka di Jakarta. Pidato sambutan Presiden Soeharto mendapat giliran yang terakhir.

PM Prem Tinsulanonda

Dalam kata sambutannya, PM Thailand Prem Tinsulanonda antara lain mengatakan, persoalan penting sekarang bagi ASEAN adalah meningkatkan kerjasama, ketahanan nasional masing-masing negara dan ketahanan regional.

ASEAN telah menunjukkan tindakan-tindakan yang positif sehingga menimbulkan citra positif di dunia internasional. AIPO merupakan tanda dan bukti adanya kehidupan demokrasi di negara-negara ASEAN. Dan diharapkan AIPO dapat menampung aspirasi-aspirasi rakyat untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat serta memperluas kerjasama dan solidaritas.

Presiden Marcos

Presiden Pilipina, Ferdinand Marcos antara lain mengatakan, sejak 13 tahun ASEAN didirikan, ASEAN telah banyak kemajuan atas dasar semangat persamaan dan partnership dalam rangka mewujudkan perdamaian, stabilitas dan pembangunan di kawasan ini.

Ia yakin, Sidang Umum ke-Ill AIPO juga ak:an membahas masalah regional yang relevan dengan ASEAN khususnya hubungan ASEAN-MEE, ASEAN-AS, dan ASEAN-Jepang. Diharapkan AIPO menghasilkan usul-usul kongkrit bagi kepentingan ASEAN.

Presiden Singapura

Presiden Republik Singapura, B. Sheares, antara lain mengatakan, AIPO yang didirikan 1975 diharapkan dapat memainkan peranan penting dalam memelihara stabilitas ASEAN, memperluas kerjasama di bidang politik, ekonomi, dan sosial.

Semangat kerjasama ASEAN membuat rakyat-rakyat di kawasan ini dapat memenuhi aspirasinya akan perdamaian dan pembangunan.

PM Malaysia

PM Malaysia, Datuk Hussein Onn antara lain menyatakan, kerjasama antara negara-negara ASEAN telah berkembang dan merupakan kekuatan besar untuk menghadapi tantangan-tantangan selanjutnya.

Untuk mencapai perkembangan sosial, ekonomi dan pembangunan diperlukan perdamaian dan stabilitas di wilayah ini, kata Hussein Onn.

Menyangkut masalah Kamboja, PM Malaysia tersebut menyatakan bahwa masalah ini serius yang telah melibatkan banyak pihak. ASEAN agar memperluas kerjasama dan memperkuat persahabatan sesama anggotanya. (DTS).

Jakarta, Berita Buana

Sumber: BERITA BUANA (03/09/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 623-626.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.