NASIB BCA : RUSH TERUS MELANDA BCA SETELAH SOEHARTO BERHENTI JADI PRESIDEN

NASIB BCA : RUSH TERUS MELANDA BCA SETELAH SOEHARTO BERHENTI JADI PRESIDEN[1]

 

Jakarta, Kontan

Hubungan erat dengan keluarga Pak Harto selama 32 tahun menjadi bumerang. Ini ibarat teka-teki, mana yang lebih dulu hadir di dunia, ayam atau telor. Hari-hari belakangan ini banyak sekali masyarakat yang bingung dan bertanya : benarkah Bank Central Asia alias BCA bakal bangkrut? Apakah saya harus menarik uang sekarang?

Kalau dicermati, mungkin BCA tetap baik-baik saja sekalipun Pak Harto tidak lagi menjadi Presiden. Betul, banyak ATM maupun kantor cabangnya yang hangus terbakar. Tapi kerugian fisik itu mestinya tidak terlalu berdampak pada kesehatan BCA yang mempunyai aset Rp.52,6 triliun (per 31 Desember 1997). Tapi, BCA bakal betul-betul bangkrut kalau semua nasabahnya ramai-ramai menarik duit pada saat yang bersamaan. Coba, kalau sudah begini, mana yang datang lebih dulu? BCA bangkrut lantas orang ramai-ramai menarik duit, atau penarikan duit besar-besaran yang kemudian membuat BCA bangkrut?

Kalau ternyata adalah yang kedua, ya apa boleh buat. Begitulah kenyataan yang mungkin terjadi. Bank adalah makelar bonafide yang menghimpun duit masyarakat lalu menyalurkannya sebagai kredit. Bank tak bisa menarik kredit yang sudah tersalur ini dengan semena-mena. Ada perjanjian dan jangka waktunya. Sebaliknya, masyarakat mendapat hak istimewa untuk menarik simpanannya setiap saat. Paling­paling, orang kena pinalti lantaran menarik deposito lebih awal.

Bisnis yang aneh dan ‘tak adil’ begini bisa berjalan karena ada kepercayaan. Jumlah orang yang menaruh uang sedemikian banyaknya sehingga bank bertahan hidup. Tapi, sekali kepercayaan itu rubuh dan nasabah ramai-ramai menarik duit, habislah sudah. Bank sekuat apapun pasti sulit memenuhi semua permintaan itu secara serentak, lantaran duit masyarakat sudah tersalur menjadi kredit ke mana-mana. Inilah krisis yang melanda BCA sekarang.

Tarik Kekuatan Salim dan Nasabah yang Panik

Sebagai pemilik BCA, Kelompok Salim mati-matian menahan serbuan ini. Seluruh perusahaan yang tergabung dalam kelompok ini diminta menaruh dan menahan dana di BCA. Ini sangat besar jumlahnya, lantaran banyak perusahaan milik Salim yang berukuran super kakap, seperti Indofood atau Indocement. Selain itu, Salim juga sudah menyuntikan modal baru. Menurut Direktur Utama BCA, Abdullah Ali, total modal disetor BCA sekarang sudah mencapai Rp.3,5 triliun, naik tajam dari Rp.1 triliun di akhir tahun lalu.

Salim juga minta ‘amunisi’ pada bantuan Bank Indonesia (BI). Repotnya, dalam keadaan sekarang ini,

“Secara politis tidaklah baik bagi BI untuk membantu BCA habis-habisan,” kata seorang treasurer bank asing.

Maka, bantuan BI kali ini mengalir tidak tanpa batas seperti dulu. Hingga Maret lalu, arus bantuan BI untuk bank semaput sangat lancar, sehingga sekarang jumlah totalnya sudah mencapai 103 triliun. Kini, BI sudah menaruh rem. Bantuan maksimum untuk BCA,

“Cuma 200% modal disetor BCA,” kata Gubernur BI Sjahril Sabirin.

Alhasil, persediaan amunisi BCA sangat terbatas. Kalau penarikan dana masih terus berlangsung tanpa henti, mustahil BCA bisa selamat. Seorang bankir kawakan memperkirakan, arus dana yang keluar dari BCA selama rush belakangan ini mencapai sekitar Rp.16 triliun. Seorang treasurer bank asing juga memperkirakan, kalau masyarakat tak berhenti menarik duit, hidup BCA sudah pasti harus berakhir.

Tapi, tak mudah buat Salim dan juga pemerintah untuk membiarkan BCA tutup. Bagi Salim, BCA adalah kapal induk pembawa gengsi yang harus selamat kalau mereka ingin bisnisnya di republik ini jalan terus. Bagi pemerintah, robohnya BCA adalah robohnya sebagian besar sistem perbankan. Bayangkan, 80% nasabah bank di Jakarta dan sekitarnya adalah nasabah BCA. Jumlahnya mencapai 2,5 juta orang. Belum lagi pengangguran yang meledak lantaran belasan ribu pegawai BCA mendadak kehilangan pekerjaan.

Bukan mustahil pula BCA tetap selamat. Buktinya, sekalipun sudah lebih dari sepekan darah terus mengucur keluar dari BCA, toh bank ini masih bertahan. Bisa jadi, seluruh dana masyarakat yang bukan milik Salim sudah habis tersedot. Yang tertinggal di dalam BCA adalah duit Group Salim plus suntikan BI tadi.

Sumber : KONTAN (1/6/1998)

___________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 746-748.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.