Nanti Perlahan-lahan Kita Perbaiki

Nanti Perlahan-lahan Kita Perbaiki[1]

 

Meski daerah Pantura Jawa Barat dikenal sebagai salah satu lumbung padi
nasional, ternyata kondisi sebagian rakyatnya masih sangat tertinggal.

Ini yang disaksikan Pak Harto ketika menyambangi Desa Rambatan Wetan, sebuah desa yang berada di tepi sungai Cimanuk, dan masuk Kabupaten Indramayu (06 April 1970). Penduduk setempat geger ketika mendapati seorang pria santun berseragam safari memasuki gang sempit di kampung mereka, berkeliling dari satu tempat ke tempat berikutnya. Tak hanya itu, sang pria yang kemudian mengenalkan diri sebagai Presiden Soeharto berdialog dengan penduduk yang mengerumuninya. Ditanyakan kepada rakyat apa yang mereka makan sehari-hari.

“Kami sudah jarang makan nasi, sekarang kami makan gaplek.”

Mereka juga memberi tahu Presidennya bahwa disini anak-anak tak ada yang sekolah, rakyat juga banyak yang sakit. Konon, Pak Harto sempat mengunjungi seorang anak yang seluruh badannya menderita “koreng”.

Demi menyaksikan rakyatnya yang hidup miskin dan sakit-sakitan, Pak Harto lalu menghibur mereka. Masdi (60 tahun), penduduk Rambatan Wetan menuturkan kembali ucapan Pak Harto:

”Kita makan seadanya dulu. Nanti perlahan-lahan kita perbaiki. Tapi anak-anak harus sekolah dan hidup yang sehat. Kata juga harus tetap bersatu.”

Pada hari berikutnya Pak Harto meninjau pembuatan bendungan irigasi di sungai Cimanuk tak jauh dari kampung mereka. Pak Harto yakin dengan adanya sistem irigasi yang baik, sawah-sawah di daerah ini akan menjadi produktif dan mampu menyediakan pangan yang baik bagi penduduk setempat.

Pak Harto juga menyempatkan diri mengunjungi seorang dalang wayang kulit Cirebon yang terkenal saat itu. Sang dalang bukan saja dikenal sebagai budayawan tetapi juga tokoh spiritual yang cukup terkemuka. Tak banyak diketahui apa yang dibicarakan antara keduanya.**

_______________________________________________

[1]Mahpudi, “Incognito PAK HARTO, Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya”, Jakarta : Yayasan Harapan Kita, hlm 8-9.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.