Nama Jembatan Soeharto Diubah, Presiden: Saya Khawatir Timbulkan Kultus Individu[1]

Nama Jembatan Soeharto Diubah, Presiden: Saya Khawatir Timbulkan Kultus Individu[1]

 

 

Jakarta, Republika

Presiden mengganti nama Jembatan Soeharto menjadi Jembatan Barito. Ini karena Pak Harto khawatir nama jembatan yang diberikan DPRD Tingkat I Kalimantan Selatan itu akan menimbulkan kultus individu.

“Saya khawatir akan menimbulkan kultus individu, maka pada peresmian sekarang ini saya beri nama Jembatan Barito,” tandas Presiden ketika meresmikan jembatan terpanjang di Indonesia itu di Desa Beringin Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Rabu (23/4).

Namun demikian, Kepala Negara menyampaikan penghargaan dan terima kasih atas kehormatan tersebut. Presiden mengatakan, pembangunan jembatan ini memerlukan pengerahan teknologi yang canggih dan biaya yang besar. Waktu yang diperlukan juga cukup panjang.

Jembatan Barito, kata Pak Harto, akan menghubungkan provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Mengingat jembatan ini terletak dijalan lintas selatan di Kalimantan, maka selesainya pembangunan jembatan ini akan menjadikan lalu lintas darat antara Kalsel, Kalteng, Kalbar dan Kaltim akan bertambah lancar.

“Ini berarti terbukanya peluang bagi kemajuan perekonomian dan pengembangan wilayah Kalimantan bagian selatan.”

Presiden menegaskan, potensi Kalimantan sungguh besar. Pulau ini, kaya dengan bahan tambang, hasil hutan dan tanahnya sangat luas bagi pengembangan pertanian.

“Apabila kita berhasil mengembangkan wilayah ini, saya yakin suatu saat nanti Kalimantan pasti akan menjadi kekuatan penggerak pembangunan di Tanah Air kita,” tandasnya.

Dalam mengembangkan pertanian di Kalimantan, lanjut Pak Harto, pemerintah sedang mengembangkan satu juta hektar lahan gambut di Kalimantan Tengah untuk dijadikan sawah.

“Beberapa jam yang lalu, sebelum saya tiba di sini, saya meninjau dari dekat lahan gambut yang sedang  kita bangun itu,” ujarnya.

Pengembangan satu juta hektar sawah ini, kata Presiden, sangat diperlukan. Sebab, kebutuhan beras Indonesia terus meningkat. Padahal, tidak sedikit sawah­-sawah yang telah berubah menjadi daerah industri, tempat hunian, jalan-jalan raya, keperluan-keperluan sosial dan sebagainya.

“Apabila tidak segera dicetak sawah baru, kita akan kesulitan mempertahankan swasembada beras. Bahkan, tidak mustahil kita akan kembali menjadi bangsa pengimpor beras,” ujarnya.

Kepala Negara menilai, selesainya pembangunan jembatan Barito ini, merupakan prestasi besar bagi bangsa Indonesia. Jembatan Barito adalah jembatan besar pertama dengan sistem gantung. Jembatan sepanjang satu kilometer lebih dengan lebar 10 meter ini merupakan jembatan terpanjang di Tanah Air.

Presiden menambahkan, jembatan Barito membuktikan kemampuan daya pikir, perhitungan yang cermat dan ketrampilan yang tinggi putra-putri Indonesia sendiri.

“Rakyat Kalimantan memiliki kebanggaan yang khusus, karena ada putra-putri Indonesia lulusan Universitas Lambung Mangkurat ikut menangani jembatan ini,” lanjutnya.

Dalam kunjungannya itu, Presiden meresmikan penggunaan rumah sederhana di Banjarmasin, Pontianak, dan Surabaya, yang dibangun dalam rangka Rehabilitasi Sosial Daerah Kumuh Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional. dam

Sumber: REPUBLIKA (24/04/1997)

______________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 764-765.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.