MUTU KEHIDUPAN RAKYAT TELAH MENINGKAT

MUTU KEHIDUPAN RAKYAT TELAH MENINGKAT

 

 

Jakarta, Antara

Mutu kehidupan rakyat Indonesia telah meningkat dan taraf kesejahteraan mereka pun telah lebih baik, namun bangsa Indonesia mencatat segala kemajuan yang dicapainya itu jauh dari rasa keangkuhan atau puas diri.

Pernyataan itu disampaikan Presiden Soeh arto dalam pidato pada sidang paripurna DPR-RI yang mengawali masa persidangan tahun 1989-1990 hari Rabu di Senayan, Jakarta.

Presiden mengatakan, kemajuan itu dicapai bangsa Indonesia-tanpa kecuali­ melalui kerja keras yang disertai dengan pengorbanan yang saat mereka berikan dahulu terasa hampir-hampir tidak terpikul.

Menurut Presiden, tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi selama ini merupakan motor pendorong kemajuan tersebut.

Dalam arti yang lebih luas, kata Presiden Soeharto, tercapainya perkembangan ini berkat adanya stabilitas politik yang dinamis dan keamanan yang terpelihara selama lebih dari dua dasawarsa terakhir.

Selain itu Presiden menyebut kestabilan harga sebagai unsur penting lainnya yang telah meningkatkan kesejahteraan rakyat, karena dengan kemantapan harga, masyarakat dapat merencanakan pengeluaran mereka dengan lebih baik.

“Perasaan lebih tenteram juga meliputi hati rakyat, karena tidak dibayangi oleh ketidakpastian dan ketakutan adanya inflasi yang mengikis habis penghasilannya yang masih pas-pasan,” ujar Presiden.

 

Tekstil dan Beras

Presiden memberi gambaran tingkat kemajuan mutu dan taraf kehidupan bangsa Indonesia itu dengan mengemukakan, jika pada tahun 1969-awal Pelita I produksi tekstil Indonesia hanya menyediakan empat meter tekstil untuk setiap orang per tahun, maka tahun 1988 telah naik lima kali lipat.

Beras naik dari lebih 107 kg setiap orang per tahun menjadi lebih dari 161 kg, daging dari 2,7 kg menjadi 5,3 kg, telur dari 0,5 menjadi 2,7 butir, susu dari 0,3 liter menjadi 1,5 liter dan ikan dari 10,7 kg menjadi 16,4 kg.

Indikator penting lainnya yang dikemukakan Presiden antara lain, jika pada tahun 1969 Indonesia hanya punya empat dokter untuk setiap 100.000 penduduk, maka sekarang 14 dokter untuk 100.000 penduduk.

Juga, bila pada tahun awal 1980-an baru sekitar 280.000 rumah tangga di seluruh Indonesia menikmati listrik, kini jumlahnya meningkat berlipat ganda menjadi lebih dari 4,8 juta rumah tangga.

Demikian pula di desa-desa, sekarang satu dari tiga desa telah menikmati listrik di malam hari, dan panjang jalan bertambah dari 7, 4 km menjadi hampir 13 km per 10.000 penduduk, demikian Presiden.

 

 

Sumber : ANTARA (16/08/1989)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XI (1989), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal.466-467.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.