Muhamad Arifin: Pak Harto Orangnya Pasrah, Proporsional Dan Bertanggungjawab

Pasrah, Proporsional Dan Bertanggungjawab

Muhamad Arifin (Laksdya. TNI; Kepala Staf Angkatan Laut)

Pada beberapa kesempatan menghadap, misalnya di Tapos, PaK Harto menyempatkan untuk mengingatkan kepada kita semua, betapa kita harus percaya pada Tuhan Yang Maha Esa dan percaya kepada kekuasaan-Nya. Maka kitapun harus percaya kepada takdir manusia yang telah digariskan oleh Tuhan.

Akan terjadilah segala sesuatu yang telah menjadi kehendak Tuhan atas diri manusia dan terhadap segala isi alam semesta ini. Menghadapi kejadian-kejadian tersebut janganlah terlalu gembira, rerlalu susah, maupun menyesal, seyogyanyalah kita rendah hati dan berserah kepada kekuasaan-Nya.

Demikian pula atas kekuasaan-Nya diciptakan pula hal-hal yang biasa, istimewa, sangat istimewa maupun luar biasa istimewanya. Menghadapi hal-hal yang demikian marilah kita bersikap wajar tidak perlu heran, tidak perlu terperangah, karena semuanya adalah kehendak Tuhan.

Juga mengenai kekayaan, kedudukan, kekuasaan, meskipun manusia wajib berikhtiar namun semuanya terjadi karena kehendak-Nya. Ada saatnya datang, juga ada saatnya pergi sesuai dengan kehendak-Nya. Bila kita selalu menyadari bahwa itu semua datangnya dari Tuhan maka sebenarnyalah kita ini hanya melaksanakan kewajiban.

Maka janganlah sewenang-wenang, janganlah mentang¬mentang. Pak Harto sering mengungkapkan hal ini dengan filsafat Jawa: aja kagetan, aja gumunan, nanging uga aja dumeh.

Ada beberapa peristiwa yang sedikit banyak bisa menggambarkan makna dari istilah aja kagetan. Sebagai contoh tat kala Pak Harto menghadap Presiden Soekarno di lstana Bogor untuk melaporkan tentang inisiatif beliau mengambil komando dan mengambil alih sementara pimpinan Angkatan Darat.

Beliau menjelaskan bahwa langkah yang diambil adalah untuk mengisi kekosongan pimpinan dan lagi hal itu merupakan kebiasaan yang sudah berjalan bahwa orang kedua dalam urutan komando (second in command) adalah Panglima Kostrad yang dewasa itu ada di tangan Pak Harto.

Namun ternyata pada saat itu Presiden Soekarno telah mengangkat Mayor Jenderal Pranoto sebagai Pelaksana Harian. Menghadapi situasi yang demikian ternyata Pak Harto tidak “kaget”. Pengendalian emosi yang didasari oleh kematangan jiwa yang beralaskan sikap pasrah, menuntun beliau untuk secara rendah hati patuh dan taat atas keputusan Presiden. Tidak ada istilah menentang atasan di kamus beliau meskipun tidak sesuai/sepaham pandangan.

Setelah berhasil dalam langkah pertamanya semenjak memegang komando dan kendali Angkatan Darat, sikap percaya diri semakin nampak dan sikap aja dumeh terkesan makin mengendap dalam pribadi beliau.

Keberhasilan mengemban suatu tugas bukan berarti harus mengurangi sikap rendah hati seseorang. Ini dibuktikan berkali-kali dalam setiap langkah dan tindakan beliau. Bahkan sampai saat sekarang ini walaupun Pak Harto telah menjadi Presiden, namun senantiasa meluangkan waktu untuk bertatap muka sekaligus bertanyajawab dengan rakyat mengenai persoalan-persoalan yang dihadapi, seperti layaknya seorang Bapak terhadap anak-anak. Beliau jauh dari sikap mentang-mentang.

Pada kesempatan lain kami mencoba meresapi dan menghayati ajaran atau cara pandang yang bagaimanakah yang bisa kita petik dengan diumumkannya makam keluarga di Mangadeg.

Satu pertanyaan menggelitik, kenapa membangun makam? Setelah mengikuti penjelasan-penjelasan dari beliau dan melihatnya, maka saya berkesimpulan bahwa hal tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian yang utuh dari langkah lainnya terutama dalam bekerja keras dalam pembangunan.

Kami sampai kepada suatu pengertian bahwa seharusnyalah kata-kata atau petuah yang mengatakan didalam menghadapi duniawi, bekerjalah terus seolah-olah engkau akan hidup seribu tahun lagi. namun menghadapi saat harus menghadap Sang Pencipta bersiap-siaplah seolah-olah waktu itu adalah esok hari.

Itulah agaknya yang dipesankan Pak Harto kepada kita semua: menghadapi masa pembangunan ini marilah kita berjuang, bekerja keras seolah-olah kita masih hidup seribu tahun lagi, namun menghadapi saat dipanggil bersiaplah seolah-olah waktu itu adalah esok hari. Siapkanlah batin maupun lahir agar bila waktu itu tiba tidak merepotkan orang lain.

Didalam menyiapkan diri untuk menghadapi “panggilan” tersebut diingatkan pula kepada kita semua untuk berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berusaha mengendalikan kehidupan kita agar selalu berbuat baik.

Kami mencoba mencari istilah yang bisa menggambarkan uraian tersebut diatas tentang hubungan Pak Harto dengan Sang Pencipta yang sekaligus juga menjadi contoh untuk kita semua, kami temukan dalam istilah Jawa yaitu: mahdep (red=menempatkan hati selalu bersandar kepada Tuhan) yang dalam bahasa Indonesia belum dapat kami temukan padanannya, namun lebih kurang artinya adalah: menghadap secara tepat dan mantap ke arah yang benar, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam pada itu bagaimana seyogyanya sikap kita terhadap orang tua, Pak Harto secara tandas memberikan dengan ungkapan mikul dhuwur mendhem jero. Ungkapan ini kurang lebih berarti bahwa kita harus mampu menghormati orang tua dan menjunjung tinggi nama baik orang tua serta sekaligus juga harus mampu mengubur kesalahan orang tua sedalam-dalamnya.

Pengertian orang tua di sini sangat luas, tidak terbatas pada orang tua kandung namun juga termasuk guru, pemimpin, pelindung, pahlawan dan lain-lain. Terhadap mikul dhuwur mendhem jero ini diberikan contoh aplikasinya bagaimana penghargaan beliau terhadap almarhum orang tua kandung, orang tua angkat, mertua, kepada Bung Karno, Bung Hatta, Jenderal Sudirman, Pak Yani dan lain-lain.

Hubungan Pak Harto dengan rakyat kecil digambarkan dengan istilah tepa selira. Harus bisa merasakan keprihatinan, kesengsaraan rakyat kecil sehingga tergugah untuk mencari akal, mencari siasat bagaimana caranya mengangkat mereka dari lembah kesengsaraan. Juga tepa selira ini bisa diartikan dengan pengertian gak sempit dalam tindakan sehari-hari, yaitu bila pekerjaan itu ditujukan kepada diri sendiri menyakitkan, janganlah diperbuat kepada orang lain atau sesama.

Rasa tepa selira Pak Harto tercerrnin dalam bentuk mendirikan sebuah yayasan untuk menunjukkan rasa terima kasihnya guna membalas budi orang-orang kecil yang pernah menolong, seperti para petani yang di masa agresi Belanda kedua dan sesudah serangan umum 1 Maret 1949 telah banyak membantu.Yayasan itu diberi nama Yayasan Pembangunan Territorium Empat. D

idalam perkembangannya yayasan derni yayasan bermunculan seperti yang kita lihat dewasa ini merupakan wadah bagi para dermawan untuk berkesempatan beramal dengan sasaran yang telah terencana. Menjadi dermawan itu baik tetapi menjadi dermawan dan mernberikan kesempatan orang lain menjadi dermawan itu lebih baik lagi.

Contoh lain adalah hubungan Pak Harto dengan sahabat karib waktu remaja dulu. Suatu saat beliau menyempatkan diri untuk memanggil teman-teman tersebut di kediaman di Jalan Cendana untuk suatu acara santai/nostalgia. Suasana akrab dan hangat meliputi pertemuan ini.

Dari kehangatan dan keakraban dalam pertemuan tersebut, Pak Harto dapat rnenangkap suatu hal yang sangat berharga, yaitu bahwa mereka tidak merasa kecewa dengan keadaannya yang sekarang, bahkan rnereka menerimanya dengan ikhlas dan penuh kesadaran bahwa setiap orang itu mempunyai nasib sendiri-sendiri. Manusia hanya sekadar menjalani apa yang menjadi kehendak Sang Pencipta.

Lahir, jodoh dan mati hanya Tuhanlah yang tahu, kita berusaha Tuhanlah yang menentukan. Itulah mungkin sekilas makna yang dapat diambil lewat pertemuan dengan teman-teman beliau itu. Pak Harto merasa terharu dengan sikap teman-teman larnanya sewaktu rnasih remaja dahulu. Mernang hidup ini sudah ada yang rnengatur. J

ustru dengan sifat pasrah yang ditunjukkan oleh teman-teman ini, beliau yang dianugerahi kernampuan lebih,. makin tergugah untuk mencari jalan yang lebih mantap untuk meningkatkan kesejahteraan jasmani dan rohani semua teman beliau, yaitu rakyat Indonesia.

Kemudian marilah kita serap cara-cara Pak Harto memandang dan menempatkan diri dalam permasalahan. Misalnya pada kejadian sekitar 40 tahun yang lalu pada saat pasukan Belanda yang semula berada di Yogya, oleh perjanjian Roem-Royen diharuskan meninggalkan Yogya. Semula direncanakan akan diadakan upacara serah terima kekuasaan dari Belanda kepada Polisi Rl.

Mendengar rencana tersebut Pak Harto serta merta tidak menyetujui, karena upacara tersebut tidak pada tempatnya. Beliau berpendirian bahwa Belanda tidak berkuasa di Yogya, mengapa harus menyerahkan kekuasaan tersebut? Dan lagi kenyataan bahwa Belanda belum berhasil merampas kekuasaan itu dari kita.

Biarlah mereka meninggalkan Yogya begitu saja, kemudian anak-anak biar muncul dan setelah itu menyerahkan masalah keamanan kepada Kepolisian RI. Dari peristiwa tersebut nampak bahwa Pak Harto sangat teliti dalam memandang suatu permasalahan sehingga dapat mendudukkan permasalahan tersebut secara proporsional.

Marilah kita lihat juga cara Pak Harto menangani permasalahan pembinaan yaitu waktu beliau mendapatkan tugas untuk meningkatkan kemampuan tempur Resimen 15 di Solo sekitar tahun 1952/1953. Situasi saat itu jelas bahwa sasaran dan rencana latihan belum ada, apalagi sarana dan prasarana latihan.

Lalu dari mana harus dimulai? Jalan yang ditempuh adalah, pertama, mendidik instruktur dulu; mereka diambil dari bintara-bintara terpilih dari kompi. Latihannya cukup berat sehingga menghasilkan bintara instruktur yang tangguh.

Kemudian mereka disebar kembali ke batalyon masing-masing untuk memimpin latihan. Pelaksanaan latihan di batalyon terdiri dari dua tahap: tahap I adalah latihan perorangan, kemudian tahap II latihan kerjasama dalam batalyon. Di sini sekali lagi nampak betapa beliau sangat teliti dan tepat memilih persoalan pokok dari suatu permasalahan.

Selebihnya dalam hal kepemimpinan ini beliau menyarikan sebagai berikut: bahwa seorang pemimpin atau perwira harus senantiasa sadar tentang apa yang dilakukannya. Ia juga harus bersifat lebih baik dari yang dipimpin, jujur, tidak licik dan harus menyadari bahwa kekuasaan bersumber dari kepercayaan yang diberikan anak buah atau rakyat.

Pada sisi lain, pandangan dan sikap beliau terhadap komunisme sudah beliau tunjukkan sejak menjadi Panglima TT-IV/Diponegoro dengan pangkat kolonel. Pada saat itu kepada Presiden Soekarno telah diutarakan betapa bahayanya PKI terhadap Pancasila. Sikap ini beliau pegang teguh, sehingga beliau selalu waspada terhadap bahaya komunisme. Terbukti pada tahun 1965 beliau dapat mengambil keputusan yang bersejarah atas dasar keyakinan yang beliau pegang ini.

Ada lagi langkah Pak Harto yang mengesankan sewaktu menjabat Panglima TT-IV/Diponegoro ini, yaitu kegiatan bidang kesejahteraan. Setelah beliau mengenal lebih jauh kondisi kesejahteraan para prajurit yang memprihatinkan, maka pemecahannya adalah dibangunnya kegiatan koperasi di seluruh kesatuan TT-IV/Diponegoro.

Beliau memilih untuk memberikan pancing dan mengajarkan cara memacing daripada memberikan ikannya. Perhatian terhadap kesejahteraan ini akhirnya meluas lingkupnya tidak hanya lingkup prajurit namun meliputi rakyat di wilayah TT-IV /Diponegoro. Diambillah langkah-langkah kongkrit untuk membantu meringankan beban yang dipikul oleh rakyat di bidang kesejahteraan ini. Keinginan untuk meringankan beban rakyat banyak ini akhirnya menjadi perhatian yang serius dari Pak Harto, dan menjadi salah satu pegangan utama dalam memimpin negara selanjutnya.

Semasa Trikora, Pak Harto diserahi tugas sebagai Panglima Komando Mandala. Operasi ini rnengerahkan kekuatan yang terbesar yang pernah dilakukan Indonesia, sehingga penunjukan beliau sebagai Panglima memang merupakan suatu kehormatan namun sekaligus pula merupakan tantangan. Beliau patuh dan sungguh-sungguh melaksanakan perintah betapa pun beratnya.

Kesungguhan Bangsa Indonesia dalam melaksanakan Tri Komando Rakyat itu sangat mempengaruhi jalannya perundingan di PBB, sehingga Amerika Serikat menggunakan pengaruhnya agar Belanda bersedia meninggalkan Irian Barat. Kesungguhan dan keteguhan hati Pak Harto dalam melaksanakan operasi ini menjadi catatan tersendiri bagi kita semua.

Kemudian pada peristiwa G-30-S, begitu selesai mendengar siaran RRI tentang “Gerakan 30 September” serta mendengarkan keterangan dari beberapa perwira, beliau telah dapat mengidentifikasi bahwa gerakan itu merupakan pemberontakan yang didalangi oleh PKI dengan tujuan untuk merebut kekuasaan negara secara paksa.

Menghadapi situasi yang demikian ini Pak Harto langsung menentukan sikap: untuk menghadapinya. Keputusan Pak Harto dalam menentukan sikap ini sekian kali dibicarakan sekian kali pula menarik perhatian kita semua.

Kita mengetahui dari teori pengambilan keputusan didalam proses perencanaan militer, seorang panglima dapat mengambil keputusan setelah mengetahui secara lengkap keadaan lawan yang meliputi keunggulan, kelemahan, dislokasi, keadaan medan operasi, dan mengenal benar keadaan pasukan sendiri baik keunggulan, kelemahan serta tugas pokok.

Bila elemen-elemen yang disebutkan dalam teori -tersebut kita hadapkan kepada situasi saat itu, maka kita dapatkan bahwa tidak semua elemen terpenuhi. Taruhlah Pak Harto karena kepekaannya telah dapat mengidentifikasi tentang lawan, namun aspek kekuatan sendiri maupun kawan belum dapat dipastikan saat itu, dimana situasi tidak menentu.

Keberanian dan kepercayaan pacta diri beliau serta keteguhan akan tujuanlah yang berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan ini. Selanjutnya didalam melaksanakan keputusan tersebut beliau tidak serta merta, akan tetapi dengan langkah-langkah yang seksama. Kemudian peliau mendapatkan kekuatan hukum untuk bertindak, sehingga tindakan-tindakan beliau dapat mencapai tujuan tanpa menentang atasan.

Masih banyak sebenarnya contoh-contoh yang mengesankan lainnya, tidak hanya dalam bidang kemiliteran saja namun juga bidang politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan. Agaknya di samping kekuatan lahiriah masih ada kekuatan batiniah yang selalu menuntun Pak Harto dalam mendudukkan setiap permasalahan secara tepat/proporsional.

Ibarat nakhoda kapal, beliau setiap saat mengetahui di manakah posisi dewasa ini, mengetahui posisi yang akan dituju, mengetahui bagaimana caranya membawa kapal menuju ke posisi yang dituju melalui haluan yang telah ditentukan. Pengibaratan ini berlaku untuk lingkup regional, nasional maupun internasional.

Seperti halnya dalam hubungan Pak Harto dengan Sang Pencipta saya berikan istilah mahdep, maka untuk menggambarkan bagaimana hubungan dan peran Pak Harto dengan sesama umat, lingkungan dan permasalahan, saya gunakan istilah dunung. Istilah ini kurang-lebih berarti bahwa melihat setiap permasalahan secara proporsional, mendudukkan atau mengarahkan setiap permasalahan pacta tempatnya serta mampu memberikan teladan.

Didalam proses pemecahan masalah, Pak Harto sering mengingatkan kita agar menggunakan cipta, rasa, karsa. Data-data yang diterima oleh seseorang tentu saja tidak semua digunakan, tetapi dipilih yang bermanfaat; proses demikian disebut seleksi.

Seleksi ini sangat dipengaruhi oleh kecerdasan, pengalaman serta kepentingan seseorang. Kemudian data-data yang telah terpilih tadi masuk dalam proses yang berikut yaitu interpretasi atau cipta dengan mengandalkan ratio. Hasil interpretasi seterusnya dikaji dicocok-cocokkan dengan tujuan perjuangan, nilai-nilai moral, nilai-nilai estetika dan nilai-nilai lainnya yang dimiliki oleh seseorang atau di “rasa-rasa”, maka jadilah kini persepsi.

Dari persepsi inilah akan muncul respons atau niat atau krenteg atau karsa yang berwujud dalam tingkah laku. Terlihat bahwa peranan persepsi seseorang sangat penting bahkan sangat menentukan respons atau tingkah laku selanjutnya. Apabila persepsi seseorang terhadap suatu masalah tidak tepat, maka sudah dapat diduga bahwa langkah yang akan diambil tidak akan tepat pula. Maka setiap menghadapi masalah, seseorang dituntut untuk memiliki persepsi yang tepat atau yang proporsional, atau dengan kata lain harus selalu dunung.

Memang dalam teori kelihatannya mudah dilaksanakan, namun dalam kenyataannya di lapangan tidak sesederhana dalam teori. Beliau menekankan perlunya latihan memecahkan persoalan agar tajam.

Untuk melaksanakan keputusan ataupun buah pikiran, Pak Harto sangat kaya akan siasat, baik yan bersifat “mengajak” sampai dengan yang “keras”, dari yang kelihatan santai sampai dengan yang sangat serius, serta memiliki keberanian, kekuatan, kemampuan dan keteguhan didalam melaksanakan siasat yang di pilih.

Dengan suatu ciri, siasat mariapun yang ditempuh, semuanya telah direncanakan masak-masak, yaitu: dengan tujuan yang jelas, cara pencapaian tujuan yang kongkrit, dengan sarana dan prasarana yang memadai serta keyakinan akan kebenaran tujuan perjuangan. Selain itu semua, ada satu faktor yang sangat membantu didalain kelancaran pelaksanaan di lapangan, yaitu adanya wibawa atau karisma atau kekuatan dalam ”memasukkan” kehendak dalam “memberikan” pengaruh.

Oleh sebab itu beberapa pejabat sering memberikan komentar “tahu-tahu masuk wuwu“, atau dengan kata lain tanpa disadari mengiyakan apa yang diputuskan, apa yang dikehendaki Pak Harto. Untuk faktor ini, apakah bisa dipelajari, dilatih atau memang merupakan pembawaan sejak lahir, hanya beliau yang tahu.

Sebagai contoh marilah kita liliat proses pencapaian posisi From Rice Importer to Self-sufficiency. Dari produksi beras 12,2 juta ton pacta tahun 1969 menjadi 25,8 juta ton pada tahun 1984. Didalam kegiatim meningkatkan produksi pangan, beliau menentukan tujuan secara jelas yaitu: secara bertahap mencapai swasembada pangan, meningkatkan pendapatan, meningkatkan mutu gizi, dan meningkatkari tingkat hidup petani.

Kondisi para petani saat itu pada umumnya miskin, keterampilan dalam hal bertani masih rendah, tidak mampu mendapatkan bibit unggul, pupuk, juga obat anti hama. Sementara itu untuk memperluas laban pertanian membutuhkan biaya yang sangat besar, sehingga pemecahan yang paling tepat adalah dengan menaikkan produktivitas dan produksi padi pacta areal yang telah ada melalui intensifikasi dan ekstensifikasi.

Pemecahan masalah ini selanjutnya dirumuskan dalam kebijaksanaan nasional yang menyeluruh dan terkendali, dengan tetap membuka inisiatif dan tanggungjawab petani sendiri. Para petani diberikan pengerti,an, diajak, dibimbing dan’ dibantu serta diarahkan melalui program intensifikasi untuk secara bertahap meningkatkan produksinya.

Kadang-kadang beliau turun ke lapangan memberikan “penyuluhan” langsung kepada para petani. Begitu mendetail penguasaan teknis beliau, sehingga muncul komentar: “Mantri tani kalah rek” (bahkan penyuluh pertanian saja kalah). Tentang penguasaan teknis ini ternyata yang beliau miliki tidak hanya dalambidang pertanian saja melainkan juga di bidang perikanan, keluarga berencaha, ekononii, politik serta dalam bidang-bidang lainnya. Nampak beliau sangat tekun mempelajari hal-hal yang menjadi tanggungjawab beliau.

Ada lagi yang sangat mengesankan yaitu pada penyelenggaraan KTT Asean di Manila. Situasi saat-itu boleh dikatakan bahwa Manila khususnya dan Filipina pada umumnya masih belum aman. Masih banyak gerakan-gerakan yang menentang Presiden Cory Aquino. Sementara beberapa tokoh ASEAN masih ragu-ragu untuk menyatakan kesediaannya untuk hadir dalam KTT ASEAN, di pihak lain banyak saran-saran dari dalam negeri yang mengusulkan agar Pak Harto,tidak hadir atau KTT ASEAN tidak dilaksanakan di Manila.

Sekali lagi dengan caranya yang khas beliau memutuskan akan hadir dan juga memberikan jaminan kepada Presiden Cory bahwa beliau juga akan membantu agar stabilitas keamanan tercapai sehingga KTT berjalan dengan lancar. Tentu saja pernyataan beliau ini sangat berpengaruh terhadap tokoh-tokoh ASEAN lainnya, seliingga serta merta mereka akhirnya menyatakan kesediaan untuk menghadiri KTT tersebut. Dan memang beliau memenuhi janjinya hadir dalam KTT dan menjamin stabilitas keamanan di Manila sehingga KTT dapat berjalan denagn lancar.

Contoh-contoh lain masih banyak, namun kesemuanya dapatlah disarikan dalam kalimat berikut ini. Bahwa beliau sangat jeli didalam melihat sesuatu permasalahan, kemudian dapat menemukan persoalan pokok dari permasalahan yang ada, mencari pemecahannya, menemukan siasat yang tepat untuk melaksanakannya kemudian memiliki keyakinan akan kebenaran perjuangan, keberanian, kemampuan dan kekuatan serta keteguhan hati untuk melaksanakannya serta bertangg ngjawab akan hasilnya. Bila dicarikan istilah yang tepat untuk menggambarkan sifat-sifat bersebut maka akan kita dapatk.an dalam istilah Jawa yaitu sembada.

Tentang keberhasilan ini beliau pernah memberikan penjelasan:

”Setelah rencana disusun secara seksama maka sebelum melangkah saya tidak lupa berdoa memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa kiranya berkenan merestuinya”.

Suatu ungkapan yang rendah hati.

Dengan apa yang bisa kita serap dalam uraian terdahulu marilah kini kita pakai untuk menghimpun pandangan beliau tentang pengembangan laut dan Angkatan Laut. Ini bisa kita lihat melalui perhatian beliau, pernyataan-pernyataan beliau dalam temu wicara dengan mereka yang berkecimpung di bidang “kelautan”, serta pada kesempatan menghadap beliau.

Misalnya saja, beliau mempunyai perhatian yang besar terhadap kegiatan perikanan laut, budi daya ikan laut, budi daya rumput laut, dan kerang mutiara. Terasa sekali penghargaan Pak Harto terhadap semangat dan keuletan para nelayan tersebut. Bahkan dengan cara nya yang khas beliau ingin membangkitkan niat dan menyebarluaskannya kepada lapisan masyarakat di luar para nelayan ini untuk terjun dan menggeluti usaha kegiatan laut.

Pada kesempatan-kesempatan tersebut beliau menekankan pula antara lain perlunya pengetahuan yang mendalam tentang sifat-sifat ikan, siklus kehidupan, angka lestari terhadap kerang mutiara, rumput laut dan sekaligus juga menguasai teknologi yang diperlukan serta peningkatan sarana penunjang kegiatan tersebut.

Sementara itu, pada kesempatan lain, yaitu pada peresmian pengoperasian instalasi pengeboran minyak di lepas pantai utara Pulau Madura, beliau antara lain menekankan ten tang pentingnya penguasaan teknologi off-shore drilling, serta teknologi pemeliharaan dan perbaikannya.

Disamping juga beliau mengharapkan agar tenaga-tenaga yang mengawaki anjungan pengeboran minyak ini baik tingkat manajer, teknisi serta maintainers secara bertahap haruslah menuju kepada kondisi, yang seluruhnya merupakan putera-putera pertiwi nusantara ini.

Penelitian demi penelitian tentang kekayaan di dasar laut, di dalam laut dan laut pada umumnya haruslah makin efektif sehingga eksplorasi dan eksploitasi kekayaan ini makin bermanfaat sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat.

Seiring dengan itu beliau mengingatkan pula agar dipikirkan perlindungan hukum yang memadai bagi mereka. Hal ini mengingat pada adanya kepentingan eksploitasi kekayaan laut ini dimiliki pula oleh negara lain.

Kemudian pada kesempatan meresmikan dioperasikannya kapal-kapal penumpang dan peluncuran kapal niaga hasil galangan kapal kita sendiri, beliau menekankan pentingnya sarana dan prasarana angkutan laut ini. Tidak hanya secara fisik mengangkut penumpang ataupun mendistribusikan hasil-hasil pembangunan dan sarana pembangunan, melainkan juga secara moral dapat menyatukan wilayah nusantara, dapat menyatukan rasa kesatuan dan persatuan.

Pencegahan pelanggaran lalu lintas laut, kegiatan SAR juga mendapatkan perhatian dari beliau. Selain perlindungan hukum juga harus terjamin adanya rasa aman bagi mereka yang terjun ke laut ini. Mencegah digunakannya wilayah laut kita oleh kepentingan negara lain yang merugikan kepentingan sendiri, dan menciptakan keamanan untuk menjamin terpenuhinya kepentingan nasional di wilayah laut kita sendiri.

Marilah kita peras uraian tentang perhatian dan harapan harapan Pak Harto di atas. Bila kita kelompok-kelompokkan, maka ditemukan ada lima bidang kegiatan, yang meliputi:

  1. Bidang industri dan jasa maritim.
  2. Bidang kapal-kapal niaga.
  3. Bidang kapal-kapal perang.
  4. Bidang kekayaan laut baik hayati maupun non hayati.
  5. Ketenagakerjaan bidang kelautan yang menunjang bidang-bidang di atas.

Uraian tersebut di atas kita temukan dengan menggunakan pendekatan kesejahteraan. Marilah sekarang kita dekati dengan pendekatan keamanan. Kalau kita perhatikan benar-benar uraian-uraian dan langkah-langkah beliau dalam bidang pertahanan, secara garis besar dapat kita temukan sebagai berikut:

  1. Membangun dan membina ketahanan nasional dengan melalui pembangunan di semua faset kehidupan. Dengan dimilikinya ketahanan nasional ini, maka negara Rl akan dapat berdiri kokoh dan kuat ibaratnya karang di tengah laut.
  2. Pertahanan negara menggunakan pola defensif aktif. Kalau kita harus menyerang lawan, maka hal itu bukan bermaksud untuk menduduki wilayah negara lawan, namun untuk menghancurkan lawan di kandangnya agar tidak menyerang kita. Dan bila tidak berhasil dihancurkan di kandangnya, maka akan dihancurkan di perjalanan, yaitu di laut/udara. Dan kalau masih tidak berhasil maka akan dihancurkan di darat. Untuk itulah walaupun masih ada keterbatasan-keterbatasan, namun pengadaan kapal-kapal perang strategis seperti kapal selam, fregat, korvet, kapal-kapal pendarat amfibi, kapal-kapal patroli, kapal ranjau, pesawat terbang pengintai dan helikopter mendapat prioritas. Juga tentang alih teknologi di bidang pertahanan ini perlu digalakkan, perlu lebih digiatkan lagi agar lebih efektif. lndustri per kapalan nasional yang menghasilkan peralatan utama untuk kepentingan pertahanan ini telah terasa mulai menunjukkan hasilnya, juga industri peralatan dan mesin-mesin penunjang lainnya. Pak Harto meresapi benar detak-detak kehidupan laut ini.
  3. Diusahakan punya pabrik sistem senjata sendiri (lndustri Strategis) seperti PT PAL. PT Pindad, IPTN, PT INKA. PT Dahami, PT Krakatau Steel, PT Boma Bisma Indra, PT Barata Indonesia, PT INTI, dan LEN.
  4. Menciptakan hubungan yang baik dengan negara-negara tetangga untuk menciptakan ketahanan regional yang mantap.

Selaku generasi penerus yang mendapat kepercayaan menjabat sebagai Kepala Staf TNI-AL, saya menangkap bahwa isyarat yang tersirat dalam ungkapan-ungkapan Pak Harto di atas adalah bahwa sudah waktunya pengembangan kekuatan laut ini lebih digiatkan. Bila isyarat ini diterjemahkan dalam bahasa pembangunan, maka hal itu berarti bahwa pengembangan kekuatan laut ini haruslah diprogramkan secara matang dan mantik didalam Pembangunan Nasional Jangka Panjang ke-2 mendatang.

Berdasarkan Undang-undang Nomor 20 tahun 1982 pasal30 ayat (2) maka TNI-AL bertugas:

  1. Selaku penegak kedaulatan negara di laut mempertahankan keutuhan seluruh perairan dalam yurisdiksi nasional serta melindungi kepentingan nasional di dan atau lewat laut, bersama-sama dengan segenap komponen kekuatan pertahanan keamanan negara lainnya.
  2. Mengembangkan potensi nasional menjadi kekuatan pertahanan keamanan negara di bidang maritim.
  3. Menjamin keamanan segala usaha dan kegiatan dalam rangka hal sebagaimana dimaksud huruf 1 dan 2 di atas.

Untuk melaksanakan tuntutan tugas dengan wilayah laut yang begitu luas, sementara itu di sisi lain dihadapkan kepada keterbatasan-keterbatasan yang ada, maka pengembangan kekuatan AL ini harus dilakukan secara bertahap. Pada saatnya nanti akan dimiliki suatu kekuatan laut yang tangguh (blue water navy) dan mampu mengamankan seluruh perairan yurisdiksi nasional dalam rangka penegakan hukum dan kedaulatan negara di laut serta menjamin terlindungnya kepentingan nasionaldi dan atau lewat laut, bersama¬sama dengan segenap komponen kekuatan pertahanan lainnya.
Dalam melaksanakan tahapan di atas, maka dituntut adanya perhitungan-perhitungan yang cermat terhadap kemungkinan¬kemungkinan digunakannya corong corong pendekat oleh lawan untuk menyerang wilayah atau bagian wilayah negara kita. Perencanaan pengembangan kekuatan AL haruslah mengindahkan faktor¬faktor di atas. Untuk itulah maka disiplin dan profesionalisme bagi personil TNI-AL merupakan suatu keharusan, sehingga pembinaan sumber daya, pembinaan kemampuan serta pembinaan kekuatan laut ini betul-betul dapat efektif dan efisien.

Untuk mencapai tujuan bidang hankam, baik fungsi hankam maupun fungsi sospol tersebut, maka langkah yang sudah, sedang dan akan diambil oleh TNI-AL adalah sebagai berikut:

1. Mempersatukan pendapat/persepsi para perwira TNI-AL melalui forum seminar dan telah menghasilkan konsep kebijaksanaan pimpinan TNI-AL dan telah disyahkan menjadi kebijaksanaan pimpinan TNI-AL (Jakpimal) periode 1989-1993.
2. Menterjemahkan Jakpimal tersebut kedalam program¬program kegiatan tahunan, triwulan dan harian yang meliputi pembinaan kekuatan dan penggunaan kekuatan.

Kemudian untuk mencapai tujuan bidang Binpotnasmar diambil langkah-langkah sebagai berikut:

1. Menyatukan pikiran mereka-mereka yang berkecimpung di bidang laut, melalui forum-forum diskusi parsial, diskusi terpusat bahkan seminar tingkat nasional.
2. Meningkatkan kegiatan rutin yang sudah dilakukan selama ini yang merupakan kerjasama dari komponen-komponen maritim seperti armada-niaga, armada perang, dan industri/ jasa maritim.

Menurut hemat TNI-AL realisasi pengembangan kekuatan laut, baik ditinjau dari kesejahteraan maupun keamanan, dapat ditempuh dengan langkah-langkah yang saling terkait. Antara lain sebagai berikut:

1. Meningkatkan dan membangkitkan minat dan niat pemerintah dan rakyat untuk “terjun ke laut”;
2. Meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan melalui pendidikan;.
3. Meningkatkan kegiatan survey dan pemetaan laut agar lebih mengenal sifat, potensi, batas laut kita;
4. Meningkatkan dan mengembangkan hasil-hasil industri maritim baik dari tingkat perahu-perahu kecil sampai dengan kapal-kapal niaga dengan tonage 5000 ton;
5. Meningkatkan dan mengembangkan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya laut;
6. Menyempurnakan dan menerbitkan sarana hukum meliputi perundang-undangan, peraturan yang dapat menjamin dan mendorong usaha-usaha di bidang maritim;
7. Meningkatkan dan mengadakan sarana dan prasarana penunjang kelancaran kegiatan kelautan;
8. Meningkatkan dan mengembangkan AL untuk melaksanakan kegiatan pengamanan dan pertahanan negara di laut bersama-sama dengan unsur-unsur lainnya.

Langkah-langkah yang harus mendapatkan prioritas dipilih dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang lebih dominan. Oleh karena itu sektor-sektor yang diprioritaskan tersebut akan mampu mendorong atau menarik sektor-sektor lainnya menuju terciptanya suatu kesatuan kekuatan laut yang tangguh dan self-propelled sebagai sasaran akhir pengembangan. Di sinilah terasa pentingnya perencanaan terpadu antar departemen, sehingga sumber daya yang terbatas dapat dimanfaatkan secara efisien dan efektif.

Demikianlah telah kami coba untuk menghimpun hal-hal yang mengesankan yang beliau ajarkan dan contohkan kepada kita semua yang secara singkat dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, hendaknya kita semua ini dimanapun, kapanpun selalu mahdep (red= selalu menyandarkan hati kepada Tuhan). Kedua, menghadapi sesama, lingkungan dan permasalahan hendaklah kita selalu dunung (red=menempatkan segala sesuatunya secara proporsional). Ketiga, didalam memecahkan masalah, melaksanakan keputusan dan pemikiran hendaklah kita selalu sembada (red =menyelesaikan masalah, kerja tuntas).

Di dalam tulisan ini seolah-olah sifat madhep, dunung, dan sembada kelihatan terpisah satu sama lain, namun sebenarnya ia merupakan satu kesatuan dalam diri manusia. Pembedaan antara seseorang dan orang lainnya adalah terletak pada kadar dari masing-masing sifat tersebut. Makin tinggi kadarnya makin besar karya seseorang.

Dalam rangka pengembangan kekuatan laut, beliau mengharapkan kiranya beberapa bidang kelautan dapat digarap secara serius sebagai kerangka pembangunan nasional jangka panjang kedua. Antara lain misalnya industri dan jasa maritim, armada niaga, armada perang, ketenagakerjaan matra laut, serta kekayaan laut-baik hayati maupun non-hayati. TNI-AL telah mencoba menerjemahkan harapan beliau tersebut kedalam langkah-langkah yang saling terkait, sebagaimana telah saya kemukakan di atas.

Itulah hal-hal yang saya resapi, hayati dan berusaha mengamalkannya. Harapan saya juga adalah agar hal-hal tersebut dapat dihayati serta diamalkan oleh generasi penerus. Namun demikian, semuanya berpulang kepada-Nya, karena semua ini terjadi karena kehendak Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang

***

_______________

Sumber: Muhamad Arifin, ” Pasrah, Proporsional DanBertanggungjawab”, dalam buku “Diantara Para Sahabat: Pak Harto 70 Tahun” (Jakarta: PT. Citra Kharisma Bunda, 2009), hal 835-850

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.