Mohon Doa Restu Seluruh Rakyat PAK HARTO LANJUTKAN TUGAS KENEGARAAN SECARA PENUH

Mohon Doa Restu Seluruh Rakyat PAK HARTO LANJUTKAN TUGAS KENEGARAAN SECARA PENUH[1]

 

Jakarta, Merdeka

Presiden Soeharto menyampaikan rasa terima kasih serta penghargaan yang tinggi atas berbagai simpati, perhatian serta doa yang diberikan seluruh rakyat Indonesia dengan segala ketulusan, sejak wafatnya Ibu Negara hingga dimakamkan di peristirahatan terakhir di Astana Giribangun, Matesih, Karanganyar, Senin (29/4) lalu.

Rakyat Indonesia dari berbagai kalangan sejak Minggu (28/4) hanyut dalam duka mendalam atas wafatnya Ibu Tien Soeharto. Berbagai bentuk ungkapkan penghormatan terhadap almarhumah diperlihatkan.

Duka mendalam juga tercermin selama masa perkabungan nasional satu minggu, ditandai pengibaran bendera setengah tiang di seluruh pelosok tanah air hingga Sabtu senja ini. Selain itu, ucapan belasungkawa mengalir tanpa putus, tadarus dan tahlilan nasional serta cara-cara agama lain yang dipeluk rakyat Indonesia.

Dalam sambutan singkat yang disampaikan pada hari ke tujuh wafatnya Ibu Tien di kediaman Jalan Cendana Nomor 8, Menteng, selanjutnya Pak Harto mengemukakan,

“Sejak hari Minggu pagi-pagi, tanggal 28 April 1996, ada sesuatu yang hilang dari tengah-tengah keluarga kami, sesuatu yang tidak ternilai harganya bagi kami. Keluarga besar kami kehilangan seorang isteri pendamping setia, seorang ibu tercinta, seorang eyang dan seorang eyang-buyut yang penuh kasih.”

“Keluarga besar kami kehilangan seseorang tempat kami mencurahkan segala kasih sayang. Kami kehilangan seseorang yang melimpahkan segala kasih sayang kepada kami semua.” tambah Presiden dengan nada bergetar.

Almarhumah Ibu Tien Soeharto telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.

“Kami telah memakamkannya sesuai syariat agama Islam yang dipeluknya dan sesuai pula dengan adat yang mempengaruhi hidupnya sebagai orang Jawa. Kami sekeluarga diliputi duka cita yang sangat dalam. Beban batin yang sangat berat ini terasa lebih ringan oleh limpahan rasa belasungkawa dan simpati dari berbagai kalangan, golongan lapisan masyarakat luas yang ditunjukkan kepada saya dan seluruh keluarga saya.”

“Kami merasakan ketulusan hati Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudara, para remaja putera dan puteri juga anak-anak yang telah datang ke rumah saya serta mengantar perjalanan akhir almarhumah dari tempat tinggal kami di Jalan Cendana sampai lapangan terbang Halim Perdanakusuma di Jakarta, dari lapangan terbang Solo sampai kediaman kami di Kalitan sampai tempat pemakaman di Astana Giribangun.” kata Pak Harto.

“Doa terbaik melalui tadarus dan tahlilan serta cara-cara kepercayaan agama lain, terus dipanjatkan di mana-man a mulai nafas terakhir almarhumah sampai sekarang.” kata Presiden.

“Keluarga kami yang ditinggal juga didoakan agar diberi-Nya, kekuatan lahir batin dan tawakal serta dapat melanjutkan amal dan cita-cita luhur yang telah dirintis oleh almarhumah dalam mengabdi kemanusiaan.”

Untuk segala budi baik dan kehormatan yang diberikan kepada almarhumah, kata Presiden, kami sekeluarga hanya dapat menyampaikan rasa terima kasih sedalam-dalamnya dan rasa penghargaan yang setinggi-tingginya.

“Semoga semua amal baik tadi diterima oleh Allah SWT sebagai ibadah dan mendapatkan balasan yang berlipat ganda.” katanya.

Pak Harto juga mohon keikhlasan seluruh masyarakat untuk memaafkan almarhumah atas segala perbuatan, tutur kata atau tindak tanduk dalam pergaulan semasa hidupnya yang kurang berkenan di hati, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja.

“Kami sekeluarga juga  mohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala kekurangan dalam penerimaan atau penyambutan para tamu selama berlangsungnya rangkaian acara pemakaman sampai malam-malam tadarus dan tahlilan di kediaman kami di Kalitan dan Jalan Cendana.” ungkap Pak Harto.

Sekiranya berkenan, tambah Presiden, kami mohon Bapak-bapak dan Ibu-ibu serta Saudara-saudara tetap berdoa kiranya dosa-dosa almarhumah diampuni dan amal perbuatannya diterima oleh Yang Maha Kuasa. Doa itu, akan makin melapangkan jalan arwah almarhumah dalam menghadap AI Khalik.

“Setelah hari-hari berkabung selama satu minggu terakhir ini, saya mohon doa restu seluruh rakyat Indonesia untuk melanjutkan sepenuh-penuhnya tugas kenegaraan yang dipercayakan di atas pundak saya.” tambahnya.

Sementara itu, acara tahlilan nasional mendoakan arwah almarhumah Ibu Negara yang dilaksanakan di masjid Istiqlal, berlangsung khusuk. Ikut serta mendoakan arwah Ibu Negara,bukan saja ribuan umat Islam dari Jakarta, tapi juga dari luar Jakarta.

Berbarengan dengan itu dilakukan sholat Gaib di masjid-masjid di tanah air. Sholat Ghaib ini dilakukan setelah Jumatan.

Sumber : MERDEKA (04/05/1996)

______________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 216-217.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.