MOBNAS TIDAK AKAN GANGGU HUBUNGAN RI-JEPANG

MOBNAS TIDAK AKAN GANGGU HUBUNGAN RI-JEPANG[1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto dan PM Jepang Ryutaro Hashimoto hari Jumat di Istana Merdeka Jakarta sepakat bahwa pembuatan mobil nasional (mobnas) oleh Indonesia tidak akan mengganggu hubungan bilateral kedua negara.

Ketika menjelaskan tentang hasil pembicaraan kedua pemimpin itu, Mensesneg Moerdiono mengatakan kepada pers bahwa pembicaraan mengenai mobnas itu diawali oleh Kepala Negara.

Moerdiono mengatakan bahwa Presiden menjelaskan tentang latar belakang pembuatan mobil nasional Indonesia itu kepada Hashimoto.

Jalan pikiran Indonesia adalah sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat memerlukan prasarana perhubungan yang bisa menghubungkan seluruh wilayahnya.

Program mobil nasional itu disusun juga untuk mewujudkan kemandirian Indonesia.

“Kalau Indonesia telah bisa membuat pesawat udara, kapallaut, gerbong kereta api dan lokomotif, maka kurang lengkap bila Indonesia tidak bisa membuat mobil.” kata Moerdiono mengutip penjelasan Presiden.

Dalam pertemuan itu dijelaskan bahwa sekalipun Indonesia menjalin kerja sama dengan Korea Selatan (Kia Motor Corp.), tidak berarti Indonesia telah menempuh langkah diskriminatif terhadap negara lain.

Ketika ditanya wartawan tentang bagaimana sikap Hashimoto terhadap pejelasan Presiden itu, Moerdiono mengatakan Jepang dapat memahami dan mendukung program mobnas itu.

“Tapi, Jepang berpendapat pembuatan mobil nasional itu perlu dilakukan sesuai dengan kesepakatan-kesepakatan Internasional di dalam kerangka Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).” kata Mensesneg ketika mengutip pernyataan sikap Hashimoto.

Ketika ditanya wartawan bagaimana reaksi Presiden terhadap pernyataan Hashimoto bahwa pembuatan mobil harus sesuai dengan WTO itu, Moerdiono hanya mengatakan kedua pemimpin hanya mengemukakan posisi dan sikap masing-masing.

Dalam pertemuan itu, kedua pemimpin juga bertukar pikiran ten tang masalah bilateral, regional dan Internasional.

Para pemimpin itu menilai hubungan kedua negara terus meningkat dari tahun ke tahun, tetapi mereka sepakat bahwa hubungan itu tidak hanya harus berlangsung dalam sektor ekonomi tetapi juga kebudayaan.

Hashimoto memberikan contoh, Jepang ingin berbagi pengalaman dengan Indonesia mengenai pengelolaan lingkungan hidup karena pada dasawarsa 70-an di Jepang timbul masalah serius mengenai lingkungan akibat pembangunan.

Sementara itu, dalam pertemuan itu Presiden minta Jepang untuk mempertimbangkan kemungkinan memberikan bantuan bagi pembangunan pabrik pupuk untuk membantu negara-negara berkembang.

Ketika berpidato pada KTT Pangan di Roma baru-baru ini Kepala Negara mengusulkan pembangunan sebuah pabrik pupuk di salah satu negara berkembang yang menghasilkan gas alam yang sering dibuang dan diharapkan pembangunan pabrik itu bisa dibiayai lembaga keuangan Internasional atau negara maju.

Menurut Moerdiono, PM Jepang akan mempelajari sungguh-sungguh usul Indonesia itu.

Kedua pemimpin juga membahas masalah penyanderaan yang masih berlangsung di Kedubes Jepang di Lima, ibukota Peru.

Kedua pemimpin sepakat bahwa para intelijen mereka perlu saling bertukar informasi untuk mencegah usaha penyanderaan di masa mendatang. Usai pembicaraan itu, Hashimoto langsung berpamitan kepada Presiden, tetapi PM Jepang itu dan rombongan baru Sabtu pagi meninggalkan Jakarta menuju Vietnam.

Sumber : ANTARA (10/01/1997)

___________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 212-214.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.