MESKI USIA MEMASUKI 76 TAHUN PAK HARTO: SAYA DALAM KEADAAN SEHAT

MESKI USIA MEMASUKI 76 TAHUN PAK HARTO: SAYA DALAM KEADAAN SEHAT[1]

 

 

Jakarta, Media Indonesia

Presiden Soeharto sekali lagi menegaskan bahwa dirinya kini dalam keadaan sehat, meski usianya sekarang akan memasuki 76 tahun.

 “Saya dalam keadaan sehat dan sampaikan salam saya kepada masyarakat Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri, semoga juga dalam keadaan sehat,” kata Kepala Negara.

Presiden Soeharto mengemukakan hal itu ketika menjawab pertanyaan salah seorang peserta temu wicara, wakil dari Kecamatan Wuryantoro, Wonogiri, di Cilacap, Jateng, Kamis. Pada kesempatan itu, Kepala Negara juga meresmikan Pekan Promosi dan Hasil Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera Tingkat Nasional, Program Listrik Masuk Keluarga, dan Lelang Perdana Panen Raya Ternak Hasil Inseminasi Buatan, serta enam pabrik di lingkungan Deperindag.

Kesehatan Presiden Soeharto itu terbukti saat hadir dalam acara yang dihadiri sekitar 23.000 undangan dari berbagai penjuru Tanah Air. Pada kesempatan itu, Kepala Negara tampak segar dan tidak sedikit pun menampakkan rasa lelah, meski telah menempuh perjalanan Jakarta-Solo-Cilacap. Penampilan Presiden pada temu wicara itu masih seperti biasanya; harmonis, kebapakan, dan komunikatif, bahkan kadang-kadang tertawa lepas ketika menjumpai keluguan para peserta temu wicara.

Ketika wakil dari Kecamatan Wuryantoro, Ny Sukarni memperkenalkan nama dan asal-usulnya, Kepala Negara berkata;

“Wah, daerah itu merupakan tempat saya dibesarkan, yaitu sejak umur delapan sampai limabelas tahun sehingga saya mengerti keadaan daerah tersebut.”

Presiden ketika mengemukakan bahwa daerah Wuryantoro adalah tempat di mana dirinya dibesarkan, maka hadirin yang jumlahnya 23.000 itu menyambutnya dengan tepuk tangan gembira karena Presiden masih terus mengingat daerah dimana dia dibesarkan.

Pernyataan tentang kondisi kesehatan Kepala Negara tersebut sekaligus untuk menepis pemberitaan pers asing yang menyebutkan bahwa kondisi kesehatan Presiden akhir-akhir ini kurang baik.

 

Tidak Korbankan Rakyat

Selanjutnya dalam temu wicara itu, Kepala Negara menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mengorbankan rakyat semata-mata demi pemerataan, termasuk dalam bidang usaha, karena yang penting bagi pemerintah adalah tercukupinya kebutuhan masyarakat.

Presiden kemudian memberi contoh bahwa beberapa tahun lalu, pemerintah memberi kesempatan kepada para pengusaha untuk membangun pabrik -pabrik semen guna memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Dulu ada kritik bahwa pembangunan hanya diberikan kepada beberapa pengusaha besar. Pemerintah kemudian memberikan peluang bagi pengusaha untuk membangun pabrik semen lalu masuk 23 permintaan, tapi ternyata tidak ada satu pun yang terlaksana pembangunannya,” ungkap Kepala Negara.

Karena itu, ujar Presiden, para pengusaha yang sudah memiliki pabrik semen kemudian diberi kesempatan untuk membangun lagi pabrik semen baru dan ternyata tidak ada masalah, sehingga kebutuhan semen masyarakat menjadi terpenuhi.

Menurut Kepala Negara, pemerintah harus mencukupi kebutuhan semen masyarakat yang terus bertambah. Kalau pabrik semen dalam negeri tidak bisa mencukupi kebutuhan masyarakat, pemerintah terpaksa melakukan impor yang mengakibatkan penggunaan devisa dalam jumlah besar.

“Penggunaan itu tidak menguntungkan karena kita menjadi tergantung pada luar negeri,” jelas Kepala Negara.

Ketika mengomentari diresmikannya program listrik masuk keluarga, Presiden mengungkapkan bahwa kegiatan itu merupakan kelanjutan dari program listrik masuk desa.

“Kalau listrik masuk desa hanya dinikmati para lurah atau orang kaya, tidak ada gunanya,” kata Kepala Negara.

Sementara itu, ketika menyinggung panen raya sapi hasil inseminasi buatan, Presiden menjelaskan peningkatan jumlah sapi memang mutlak diperlukan.

“Dulu kita mengekspor sapi tetapi sekarang justru mengimpor. Tiap tahun pemerintah mengimpor 101 juta kg yang berarti 101.000 ton. Kalau satu ton sama dengan empat sapi, berarti kita terpaksa mendatangkan 400.000 sapi per tahun. Kalau bisa dihasilkan di dalam negeri maka berarti ada peluang usaha yang baik,“ ujar Kepala Negara lagi.

(NN/Ant/Rid/D- 12)

Sumber: MEDIA INDONESIA (19/04/1997)

________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 695-697.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.