Merasa Paling Benar

Jakarta, 17 Juni 1998

Kepada

Yth. Bapak Soeharto

di Jl. Cendana No. 6

Jakarta Pusat

MERASA PALING BENAR [1]

 

Dengan hormat,

Bersama surat ini perkenankan saya menyampaikan rasa hormat, dukungan dan simpati kepada Bapak H.M. Soeharto dan keluarga yang tengah mengalami cobaan.

Sebenarnya keinginan saya menulis surat kepada Bapak H.M. Soeharto saya pendam sejak Sekolah Dasar, ketika ayah saya (Purnawirawan TNI-AD) dan guru saya banyak menceritakan mengenai kenegarawanan Bapak. Keinginan itu terus ada sampai saya lulus FISIP-UI jurusan Ilmu Politik, bekerja di perusahaan swasta hingga Bapak meletakkan jabatan presiden RI.

Di saat yang kurang tepat ini, saya memberanikan diri menulis surat kepada Bapak.

Walaupun saya lulusan Ilmu Politik FISIP-UI, saya kurang begitu aktif dalam kegiatan politik dan tidak ingin berpolitik. Tetapi, ketika banyak orang menghujat Bapak, termasuk orang-orang yang dahulu ikut mencalonkan Bapak, hati saya tidak rela, berontak, dan keinginan untuk berpolitik timbul menggelora. Terutama keinginan untuk melawan mereka-mereka yang merasa dirinya paling benar dan sempurna.

Bapak H.M. Soeharto yang terhormat, apabila berkenan sudilah kiranya Bapak memberi kesempatan kepada saya untuk mewujudkan dukungan saya. Perkenankan saya untuk bertemu Bapak atau Mbak Tutut untuk mewujudkan keinginan saya sejak kecil; bertemu Bapak. Mungkin keinginan ini terlalu berlebihan, dan kekanak-kanakan, tetapi itulah saya.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu menyertai Bapak dan keluarga, dan semoga Bapak dan keluarga diberi kekuatan lahir dan batin dalam menghadapi semuanya. (DTS)

Hormat saya,

Yani Iriawadi

Sumur Batu – Jakarta Pusat

[1]       Dikutip langsung dari dalam sebuah buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998”, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 227-228. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.