Menyanyikan Indonesia Raya Sebelum Film Diputar

Menyanyikan Indonesia Raya Sebelum
Film Diputar[1]

 

Nartim sudah berumur 20 tahun ketika Desa Tambi – tempat tinggalnya mendapat tamu istimewa pada 06 April 1970.

Bagi Nartim, kedatangan orang yang kemudian diketahuinya sebagai Presiden Soeharto terus diingatnya hingga kini. Kedatangan Pak Harto ke Desa Tambi, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu memang cukup mengagetkan penduduk.

Penduduk pun segera bergegas mendatangi balai desa, memastikan apakah tamu yang datang adalah Pak Harto. Benar saja, demikian Nartim yang kini menjadi petani mengenang, memang ada rombongan orang yang tengah berbincang dengan kepala desa setempat. Dan salah satu dari mereka diketahuinya sebagai Pak Harto.

Berita dengan cepat menyebar dari mulut ke mulut di desa yang juga dikenal sebagai situs Makam Kramat Ki Buyut Tambi. Sampai saat ini, makam yang letaknya tak jauh dari balai desa sangat ramai dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai penjuru negeri dalam tradisi munjungan. Konon Buyut Tambi adalah seorang dalang pertunjukan wayang kulit, tokoh spiritual yang sekaligus leluhur penduduk setempat.

Desa Tambi baru saja dilanda banjir. Untuk itu Pak Harto menyampaikan rasa prihatinnya dan kepada warga desa yang menjadi korban banjir. Pak Harto juga menyumbang 100 ton bahan makanan, serta obat-obatan dan vitamin. Selain itu, Pak Harto juga menambah dengan bantuan kredit bagi para petani guna pengembangan tanaman palawija. Kepada para pejabat setempat yang menemuinya, Pak Harto berpesan agar dalam menunaikan tugas, betul-betul kompak dan efektif, terutama dalam membina rakyat.

Malam hari hampir semua penduduk berkumpul di halaman balai desa yang lapang. Sebentar lagi dilakukan pemutaran film menggunakan layar tancap. Film tentang penyuluhan pertanian sengaja dibawa rombongan untuk menghibur masyarakat yang disinggahi Pak Harto dalam perjalanan incognito.

Kepada penulis yang menemuinya di balai desa yang sama (04 Mei 2012) Nartim mengingat kembali bahwa sebelum pemutaran film dimulai Pak Harto berbicara di hadapan penduduk.

Pesan Pak Harto: ’’Mari kita bersatu padu untuk membangun negara dan bangsa. Bertani yang sungguh sungguh-sungguh. Anak-anak harus sekolah.”

Dan setelah itu Pak Harto mengajak semua yang hadir untuk bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Malam itu, seisi halaman balai desa gegap gempita dengan suara penuh semangat:

’’Indonesia tanah airku… tanah tumpah darahku…”**

_______________________________________________

[1]Mahpudi, “Incognito PAK HARTO, Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya”, Jakarta : Yayasan Harapan Kita, hlm 16-17.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.