MENTAN UNDANG PENGUSAHA PAKAN TERNAK BICARAKAN PEMBELIAN JAGUNG

MENTAN UNDANG PENGUSAHA PAKAN TERNAK BICARAKAN PEMBELIAN JAGUNG[1]

 

Jakarta, Antara

Menteri Pertanian Sjarifudin Baharsjah akan mengundang pengusaha pakan ternak untuk mengadakan konsultasi dan pembicaraan intensif agar mereka mau membeli produksi jagung lokal.

“Minggu depan Mentan akan mengundang pengusaha pakan ternak.” ujar.

Sekretaris Badan Pengendali Bimas Ir Syamsudin Abbas di Jakarta, Jumat, saat ditanya keerigganan pengusaha pakan ternak membeli jagung lokal dan lebih tertarik jagung impor.

Pertemuan Mentan dengan pengusaha pakan ternak itu direncanakan pada 13 Juni mendatang.

Sjamsudin mengatakan Presiden Soehartojuga sudah meminta kepada pengusaha pakan ternak agar membeli jagung lokal.

“Mari kita cintai produksi dalam negeri.” ucap Sjamsudin.

Ia menyebutkan, tidak ada alasan pengusaha pakan tidak membeli jagung lokal karena harganya lebih murah dibanding dengan jagung impor.

“Jadi saya bantah berita selama ini yang mengatakan jagung impor lebih murah dari jagung local.” ujarnya.

Berdasarkan data, sejak Desember 1996 hingga Juni 1997 harga jagung lokal di tingkat petani, bahkan hingga di pabrik pakan, selalu lebih rendah dari impor.

Harga jagung lokal di tingkat petani pada periode itu antara Rp 351-Rp 379 per kg, sedangkan hargajagung impor sampai di pabrik Rp 401-Rp 429 per kg. Terakhir tercatat pada 1 Juni 1997 harga jagung di tingkat petani Rp 354 per kg, sementara itu jagung impor di pabrik pakan Rp 404,6 per kg.

Mutu dan Pengiriman

Ditanya mengapa pengusaha pakan ternak lebih suka membeli jagung impor, Syamsudin menjelaskan mutu jagung impor lebih baik dari jagung lokal, dan pengirimannya lebih tepat waktu.

Agar pengusaha pakan lebih suka membeli jagung lokal, ia mengatakan pihaknya akan mengatur mekanisme transportasi yang lancar dari petani ke pabrik pakan antara lain dengan meningkatkan peran mitramedia (dulu tengkulak) dan memperbaiki pengangkutannya.

Selain itu Deptan secara berangsur akan meningkatkan mutu jagung terutama dengan memberi dukungan pengadaan alat pasca panen seperti alat pengering, pemipil dan pengukur kadar air. Pada 1996/97 anggaran APBN untuk alat tersebut mencapai Rp 1,2 miliar.

Syamsudin menyebutkan kebutuhan jagung untuk pakan ternak tahun 1996 mencapai 3,5 juta ton. Untuk tahun 1997 diproyeksikan produksi jagung untuk pertama kalinya akan mencapai angka di atas 10 juta ton, yakni menjadi 11 juta ton lebih.

Ia menjelaskan produk sijagung akibat usahakhusus (upsus) akan memberikan penambahan produksi jagung di atas tiga juta ton, sementara itu produksi pada 1995 tercatat lebih dari delapan juta ton.

Dengan penambahan produksi upsus itu maka produk jagung menjadi lebih dari 11 juta ton pada 1997.

Sumber : ANTARA (06/06/1997)

_______________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 374-375.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.